Dari Masjid Indonesia di Belgia, Sekolah Negarawan Membaca Kekuatan Kebangsaan Diaspora

muslimX
By muslimX
7 Min Read

SINT-PIETERS-LEEUW, BELGIA — Ketika Brussel disebut, perhatian dunia biasanya tertuju pada Parlemen Eropa, markas NATO, atau berbagai institusi yang menjadi pusat pengambilan keputusan kawasan Eropa. Namun, bagi delegasi Sekolah Negarawan, perjalanan ke Belgia pada September 2025 menghadirkan pengalaman yang berbeda. Di kawasan Sint-Pieters-Leeuw, Brussel Selatan, mereka menemukan sebuah ruang yang mungkin tidak sebesar institusi politik Eropa, tetapi menyimpan cerita penting tentang bagaimana identitas Indonesia tetap hidup jauh dari tanah air.

Di tempat itu berdiri Masjid Indonesia pertama di Belgia. Masjid tersebut bukan hanya menjadi tempat beribadah bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Eropa, tetapi juga menjadi ruang bertemunya pengalaman diaspora, nilai keislaman, dan rasa kebangsaan. Bagi Sekolah Negarawan, keberadaannya menunjukkan bahwa Indonesia tidak berhenti pada batas geografis. Identitas ke-Indonesia-an dapat terus tumbuh, dirawat, dan berkembang di mana pun masyarakat Indonesia berada.

Masjid yang Lahir dari Gotong Royong

Delegasi yang dipimpin Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya, berkesempatan berdiskusi hampir tiga jam dengan Ustadz Bakhtiar Hasan, Ph.D., seorang biostatistikawan sekaligus Syuriah PCINU Belgia. Percakapan tersebut membawa delegasi mengenal lebih jauh perjalanan Masjid Indonesia di Belgia, termasuk proses panjang yang melibatkan masyarakat Indonesia di Eropa.

Dari kisah itu terlihat bahwa sebuah bangunan yang berdiri hari ini memiliki sejarah panjang di belakangnya. Masjid tersebut lahir dari usaha kolektif masyarakat Indonesia, dengan dukungan moral dan jaringan dari PBNU. Di sinilah nilai gotong royong mendapatkan bentuk yang nyata. Sesuatu yang dibangun bersama tidak hanya menghasilkan sebuah tempat, tetapi juga melahirkan rasa memiliki yang mengikat orang-orang di dalamnya.

Bagi seorang calon negarawan, pelajaran semacam ini penting karena pembangunan bangsa tidak pernah hanya berbicara tentang hasil akhir. Di balik sebuah institusi, fasilitas publik, maupun komunitas yang bertahan dalam waktu panjang, selalu ada kerja bersama, kepercayaan, kesabaran, dan kemampuan menjaga tujuan. Masjid Indonesia di Belgia menjadi salah satu contoh kecil bahwa karakter kebangsaan dapat terus bekerja bahkan ketika masyarakat Indonesia berada ribuan kilometer dari kampung halamannya.

Ketika Masjid Menjadi Ruang Pertukaran Gagasan

Pertemuan di masjid itu juga tidak berhenti pada pembicaraan mengenai kehidupan keagamaan. Diskusi berkembang ke berbagai persoalan kebangsaan, kehidupan sosial, lingkungan, hingga perbedaan tata kehidupan antara Belgia dan Indonesia. Pengalaman Ustadz Bakhtiar sebagai ilmuwan turut memberikan perspektif yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat di kedua negara menghadapi persoalan ruang publik, ekologi, dan jaminan sosial.

Perjumpaan semacam ini memperlihatkan bahwa ruang keagamaan dapat menjadi tempat tumbuhnya percakapan intelektual. Masjid tidak harus dipahami hanya sebagai tempat seseorang datang untuk beribadah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama. Dari sana, wawasan keislaman dapat berjalan beriringan dengan perhatian terhadap persoalan masyarakat dan masa depan bangsa.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas. Seorang calon pemimpin perlu melihat bagaimana masyarakat hidup dalam lingkungan yang berbeda, kemudian membawa pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi bagi Indonesia. Bukan untuk menyalin kehidupan negara lain, melainkan untuk memahami bahwa setiap bangsa memiliki cara masing-masing dalam menghadapi tantangan.

Diaspora dan Cara Lain Menjaga Indonesia

Keberadaan masjid di kawasan Belgia juga memperlihatkan peran penting diaspora dalam menjaga hubungan dengan tanah air. Mereka mungkin tinggal jauh dari Indonesia, bekerja di lingkungan yang berbeda, dan berinteraksi setiap hari dengan masyarakat dari berbagai negara. Namun, jarak geografis tidak otomatis menghapus hubungan dengan identitas asal.

Dalam konteks inilah diaspora dapat menjadi jembatan pengetahuan antara Indonesia dan dunia. Mereka membawa pengalaman tentang kehidupan di luar negeri, memahami perubahan sosial di tempat tinggalnya, sekaligus tetap memiliki hubungan dengan komunitas dan persoalan di Indonesia. Ketika pengalaman tersebut dipertukarkan dengan masyarakat di tanah air, terbentuk ruang dialog yang dapat memperkaya cara Indonesia memahami dunia.

Rinto Setiyawan melihat keberadaan komunitas seperti ini sebagai bagian dari kekuatan diplomasi masyarakat. Hubungan antarbangsa tidak selalu berlangsung melalui pertemuan resmi antarpejabat atau gedung-gedung diplomatik. Kehidupan masyarakat Indonesia di luar negeri, aktivitas sosial, pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan juga dapat menjadi jembatan yang memperkenalkan wajah Indonesia kepada masyarakat dunia.

Belajar dari Lingkungan, Bukan Sekadar Bangunan

Bagi Erick Karya, kawasan Masjid Indonesia yang berdampingan dengan lingkungan hijau Domain Coloma juga menghadirkan pelajaran mengenai hubungan antara fasilitas masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Sebuah bangunan tidak berdiri sendirian. Ia berada dalam ruang yang memiliki karakter, ekologi, serta kehidupan sosial yang perlu diperhatikan.

Cara pandang semacam ini relevan dengan tantangan pembangunan Indonesia yang terus berkembang. Pembangunan tidak hanya membutuhkan bangunan yang kuat dan fasilitas yang lengkap, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap lingkungan dan kualitas ruang hidup masyarakat. Karena itu, perjalanan Sekolah Negarawan tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi mencoba membaca nilai yang berada di balik sebuah tempat.

Di sinilah perjalanan ke luar negeri menjadi proses pendidikan kepemimpinan. Setiap tempat dapat menjadi bahan pembelajaran apabila seseorang mampu melihat hubungan antara sejarah, manusia, lingkungan, dan kehidupan sosial. Pengalaman di Belgia kemudian dibawa pulang sebagai pertanyaan untuk Indonesia: bagaimana pembangunan dapat tetap maju tanpa kehilangan karakter dan hubungan manusia dengan lingkungannya?

Menjahit Kembali Benang Merah Kebangsaan

Pada akhirnya, Masjid Indonesia di Belgia menghadirkan pelajaran yang sederhana tetapi penting. Menjadi Indonesia tidak selalu berarti tinggal di Indonesia. Rasa memiliki terhadap bangsa dapat dirawat melalui komunitas, pendidikan, kebudayaan, keagamaan, dan kerja bersama yang dilakukan jauh dari tanah air.

Sekolah Negarawan menemukan bahwa kekuatan sebuah bangsa juga berada pada kemampuan masyarakatnya menjaga hubungan satu sama lain. Masjid di Sint-Pieters-Leeuw menjadi salah satu ruang tempat identitas itu dirawat, sekaligus diperkaya oleh pengalaman hidup di lingkungan global.

Dari Brussel, pelajaran itu terasa semakin jelas. Indonesia memiliki masyarakat yang tersebar di berbagai penjuru dunia, dan setiap komunitas membawa pengalaman yang berbeda. Jika pengalaman tersebut dapat dihubungkan dengan kebutuhan bangsa di tanah air, diaspora tidak hanya menjadi bagian dari cerita tentang orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perjalanan Indonesia memahami dunia dan menentukan masa depannya sendiri.

Share This Article