muslimx.id — Apa yang membuat seorang pemimpin tetap hidup dalam ingatan sejarah ketika kekuasaannya telah berakhir? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei yang disampaikan dalam Gala Dinner konferensi di Teheran. Bagi delegasi Sekolah Negarawan, pertanyaan itu penting karena mengajak melihat kepemimpinan bukan hanya dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, tetapi dari nilai dan jejak yang ditinggalkannya.
Pembahasan mengenai kedua tokoh tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan dapat dipahami melalui beberapa dimensi yang saling berkaitan. Ilmu, keteladanan, kemampuan membaca sejarah, serta keberanian menentukan arah menjadi bagian dari pengalaman yang menarik untuk dipelajari. Dari perspektif pendidikan negarawan, kekuasaan hanyalah salah satu instrumen, sedangkan kualitas seorang pemimpin sangat ditentukan oleh bagaimana kekuasaan tersebut digunakan.
Ketika Ilmu Menjadi Dasar Kepemimpinan
Imam Khomeini dalam paparan tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai seorang ulama dengan basis keilmuan agama. Ia juga dipaparkan sebagai tokoh yang terlibat dalam berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya. Dari sini muncul sebuah pelajaran bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran, tetapi harus mampu membantu seseorang memahami realitas dan menentukan sikap terhadap perubahan.
Ilmu menjadi penting karena pemimpin selalu berhadapan dengan persoalan yang kompleks. Masyarakat berubah, teknologi berkembang, lingkungan strategis bergeser, dan tantangan sebuah negara tidak pernah benar-benar sama dari satu masa ke masa lainnya. Pemimpin yang memiliki ilmu akan memiliki kemampuan lebih besar untuk membaca perubahan tersebut secara rasional sebelum menentukan arah.
Dalam konteks kepemimpinan Imam Ali Khamenei, kemampuan membaca perubahan juga menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian delegasi Sekolah Negarawan. Kepemimpinan tidak hanya membutuhkan pemahaman terhadap persoalan internal masyarakat, tetapi juga kemampuan membaca perkembangan teknologi, perubahan lingkungan strategis, dinamika hubungan antarnegara, serta berbagai tantangan baru yang muncul. Seorang pemimpin dituntut untuk memahami dunia yang sedang bergerak, bukan hanya mempertahankan cara berpikir yang dibentuk oleh masa lalu.
Keteladanan Lebih Panjang Umurnya daripada Jabatan
Salah satu pelajaran lain yang muncul dari pembahasan tersebut adalah hubungan antara karakter pribadi pemimpin dan penerimaan masyarakat. Jabatan yang tinggi tidak dengan sendirinya melahirkan keteladanan. Seorang pemimpin dapat memiliki kekuasaan besar, tetapi jika kehidupannya tidak mencerminkan nilai yang ia sampaikan, maka jarak antara pemimpin dan masyarakat akan semakin lebar.
Dalam paparan mengenai kepemimpinan Iran, kesederhanaan dan kehidupan yang tidak berlebihan menjadi bagian dari gambaran keteladanan. Pesan yang dapat dipetik adalah bahwa tingginya jabatan tidak harus membuat seseorang semakin jauh dari masyarakat. Justru ketika seseorang memperoleh amanah yang semakin besar, tuntutan untuk menjaga karakter dan mengendalikan diri juga semakin besar.
Di sinilah pendidikan kepemimpinan memiliki persoalan yang lebih mendalam. Pemimpin tidak hanya perlu diajarkan bagaimana mengelola lembaga atau membuat keputusan, tetapi juga bagaimana mengelola dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya masyarakat tidak hanya melihat apa yang dikatakan seorang pemimpin, tetapi juga melihat bagaimana ia menjalani kehidupan dan menggunakan amanah yang berada di tangannya.
Pemimpin Harus Mampu Membaca Sejarah
Kepemimpinan juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Setiap bangsa memiliki pengalaman yang membentuk cara masyarakat memahami kekuasaan, ancaman, persatuan, kebebasan, dan masa depan. Karena itu, seorang pemimpin yang tidak memahami sejarah bangsanya akan kesulitan memahami mengapa masyarakat memiliki sikap tertentu terhadap berbagai persoalan.
Pengalaman Iran memberikan contoh mengenai pentingnya sejarah dalam membentuk cara sebuah bangsa melihat dirinya sendiri. Perjalanan panjang Iran, berbagai tekanan yang dihadapi, serta proses pembentukan institusi negara ikut memengaruhi cara kepemimpinannya berkembang. Pengalaman tersebut tidak harus dianggap sebagai model yang dapat disalin ke Indonesia, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai hubungan antara sejarah dan karakter kepemimpinan.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, memandang pengalaman negara lain sebagai sumber pembelajaran yang perlu dikaji secara objektif. Karena itu, pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei tidak semata-mata ditempatkan dalam kerangka kekaguman terhadap tokoh, tetapi sebagai kesempatan untuk memahami bagaimana kepemimpinan dibentuk oleh sejarah, ilmu, nilai, dan pengalaman masyarakat.
Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mengikuti rangkaian diskusi dan pertemuan selama kunjungan Sekolah Negarawan di Iran. Berbagai agenda tersebut memberikan ruang bagi delegasi untuk melihat bahwa kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah dan lingkungan tempat seorang pemimpin tumbuh.
Kepemimpinan Membutuhkan Visi yang Lebih Panjang
Pemimpin yang hanya sibuk menyelesaikan persoalan hari ini akan kesulitan mempersiapkan masyarakat menghadapi persoalan esok hari. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan melihat lebih jauh daripada sekadar persoalan yang sedang berada di depan mata. Seorang pemimpin harus mampu bertanya ke mana masyarakat hendak dibawa, nilai apa yang hendak dipertahankan, dan bagaimana bangsa tersebut menghadapi perubahan dunia.
Karena itu, visi menjadi bagian penting dari kepemimpinan. Visi bukan sekadar slogan mengenai masa depan, tetapi kemampuan menerjemahkan perubahan menjadi arah yang dapat dipahami dan diikuti masyarakat. Pemimpin harus mampu melihat peluang sekaligus ancaman, kemudian menentukan langkah yang tidak hanya memberikan hasil sesaat tetapi juga membangun fondasi bagi generasi berikutnya.
Dalam konteks pendidikan negarawan, kemampuan semacam ini harus dibangun melalui proses belajar yang panjang. Calon pemimpin perlu memahami sejarah, menguasai ilmu, membaca perkembangan dunia, memahami masyarakat, dan membentuk karakter yang kuat. Kepemimpinan dengan demikian bukan sekadar kemampuan memperoleh posisi, tetapi kemampuan memikul tanggung jawab ketika posisi tersebut telah berada di tangan.
Belajar dari Iran Tanpa Kehilangan Jati Diri Indonesia
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman Iran tidak berarti bahwa seluruh model kepemimpinan di negara tersebut harus diterapkan di Indonesia. Setiap negara memiliki sejarah, masyarakat, sistem kelembagaan, dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, pembelajaran lintas negara harus dilakukan dengan sikap terbuka sekaligus kritis.
Yang dapat dipelajari adalah prinsip dan pengalaman yang memiliki relevansi lebih luas. Integritas, penguasaan ilmu, keteladanan, kedekatan dengan masyarakat, kemampuan memahami sejarah, serta keberanian menentukan arah merupakan nilai kepemimpinan yang dapat menjadi bahan refleksi di berbagai negara. Prinsip tersebut kemudian perlu diterjemahkan sesuai dengan karakter dan kebutuhan bangsa masing-masing.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kepemimpinan bukan hanya siapa yang sedang memegang kekuasaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dilakukan seseorang ketika kekuasaan berada di tangannya dan apa yang tertinggal ketika kekuasaan tersebut tidak lagi menjadi miliknya. Dari Teheran, Sekolah Negarawan melihat bahwa kepemimpinan yang kuat bukan hanya tentang kemampuan mengendalikan keadaan, tetapi juga tentang kemampuan membangun ilmu, menjaga keteladanan, memahami sejarah, dan menyiapkan masa depan.
Sebab jabatan memiliki batas waktu, sementara jejak kepemimpinan dapat bertahan jauh lebih lama. Seorang pemimpin mungkin dikenang karena kekuasaan yang pernah dimilikinya, tetapi sejarah akan lebih panjang mengingat nilai yang ia tinggalkan bagi masyarakat. Di situlah kepemimpinan berubah dari sekadar posisi menjadi amanah dan dari sekadar kekuasaan menjadi warisan bagi generasi berikutnya.