Sekolah Negarawan: Ketika Ilmu dan Keteladanan Menjadi Fondasi Kepemimpinan

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki jabatan dan kewenangan. Di balik sebuah keputusan besar selalu dibutuhkan pengetahuan untuk memahami persoalan, nilai untuk menentukan sikap, serta keteladanan untuk membuat masyarakat percaya. Tanpa ketiganya, kekuasaan mudah berubah menjadi sekadar kemampuan untuk memerintah tanpa arah yang jelas.

Persoalan mengenai hubungan antara ilmu, nilai, dan keteladanan menjadi salah satu pelajaran yang menarik perhatian delegasi Sekolah Negarawan selama berada di Teheran. Dalam Gala Dinner konferensi yang mempertemukan ulama dan intelektual dari berbagai negara, pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei membuka ruang refleksi mengenai bagaimana seorang pemimpin mempersiapkan dirinya menghadapi perubahan zaman. Kepemimpinan tidak hanya dilihat dari posisi yang ditempati, tetapi juga dari kapasitas yang dibangun sebelum dan selama seseorang menjalankan amanah.

Pemimpin Tidak Cukup Memiliki Kewenangan

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, melihat pembahasan mengenai kedua tokoh tersebut sebagai bahan pembelajaran mengenai pembentukan seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak cukup memiliki kewenangan formal karena kewenangan hanya memberikan ruang untuk mengambil keputusan. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami persoalan, membaca perubahan, menentukan arah, dan mempertanggungjawabkan keputusan tersebut kepada masyarakat.

Dalam perspektif pendidikan negarawan, kepemimpinan membutuhkan kapasitas intelektual sekaligus kedalaman nilai. Pengetahuan membantu seorang pemimpin memahami kenyataan, sedangkan nilai memberikan batas mengenai apa yang seharusnya dilakukan ketika berhadapan dengan berbagai pilihan. Keteladanan kemudian menjadi jembatan yang menghubungkan gagasan seorang pemimpin dengan kepercayaan masyarakat.

Karena itu, pemimpin tidak hanya harus bertanya mengenai apa yang bisa dilakukan dengan kekuasaan. Ia juga perlu bertanya untuk apa kekuasaan tersebut digunakan dan nilai apa yang ingin diwujudkan melalui keputusan yang diambil. Pertanyaan semacam inilah yang membedakan antara seseorang yang sekadar menduduki jabatan dengan seseorang yang benar-benar sedang menjalankan amanah kepemimpinan.

Ilmu yang Bertemu dengan Realitas

Pengalaman Imam Khomeini menjadi salah satu bagian yang banyak dibicarakan dalam pembelajaran tersebut. Latar belakangnya sebagai ulama membuat perjalanan kepemimpinannya tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan dan pemikiran keagamaan. Namun, ilmu tersebut kemudian berhadapan dengan persoalan nyata yang jauh lebih kompleks, mulai dari persoalan masyarakat hingga perubahan besar yang terjadi dalam sejarah Iran.

Dari sini terdapat pelajaran bahwa ilmu tidak boleh berhenti sebagai kumpulan pengetahuan. Ilmu harus membantu seseorang membaca kenyataan dan memahami hubungan antara berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan tetapi tidak mampu menerjemahkannya ke dalam pemahaman terhadap realitas akan kesulitan menentukan keputusan yang tepat.

Hal yang berbeda terlihat ketika membicarakan kepemimpinan Imam Ali Khamenei. Tantangan yang dihadapi berkembang seiring perubahan zaman, termasuk perubahan lingkungan internasional, perkembangan teknologi, persoalan ekonomi, serta dinamika kawasan. Perbedaan zaman tersebut menunjukkan bahwa nilai dasar dapat dipertahankan, tetapi kemampuan seorang pemimpin dalam menghadapi persoalan harus terus berkembang.

Keteladanan Membangun Kepercayaan

Ilmu saja juga tidak cukup. Masyarakat membutuhkan contoh nyata dari nilai yang disampaikan oleh seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin berbicara mengenai tanggung jawab tetapi kehidupannya tidak menunjukkan tanggung jawab, maka kata-kata kehilangan kekuatannya dan kepercayaan masyarakat perlahan akan melemah.

Karena itu, keteladanan menjadi bagian penting dalam kepemimpinan. Pemimpin bukan hanya seseorang yang memberikan instruksi dari atas, tetapi juga manusia yang kehidupannya diamati oleh masyarakat. Cara menggunakan jabatan, cara menghadapi perbedaan, cara memperlakukan orang lain, hingga cara mengendalikan diri dapat menjadi pendidikan yang jauh lebih kuat daripada pidato panjang.

Dalam konteks inilah karakter pribadi memiliki hubungan dengan kepemimpinan. Semakin besar amanah yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tuntutan agar dirinya mampu menjaga perilaku. Kekuasaan dapat membuat seseorang didengar karena jabatan, tetapi keteladanan membuat seseorang dipercaya karena karakter.

Nilai Harus Mampu Beradaptasi dengan Zaman

Pembelajaran lain yang menarik adalah pentingnya kemampuan adaptasi. Dunia yang dihadapi seorang pemimpin hari ini tidak sama dengan dunia beberapa dekade lalu. Teknologi berkembang, informasi bergerak cepat, hubungan antarnegara berubah, dan persoalan masyarakat semakin kompleks.

Namun, kemampuan beradaptasi tidak berarti kehilangan nilai dasar. Justru seorang pemimpin membutuhkan kemampuan membedakan antara prinsip yang harus dipertahankan dan cara yang harus diperbarui. Nilai memberikan arah, sementara kemampuan beradaptasi menentukan bagaimana arah tersebut ditempuh dalam keadaan yang terus berubah.

Dalam pendidikan negarawan, keseimbangan tersebut menjadi sangat penting. Pemimpin harus memiliki akar yang kuat agar tidak mudah kehilangan identitas ketika menghadapi perubahan, tetapi juga harus memiliki wawasan yang luas agar tidak terjebak dalam cara berpikir lama. Seorang pemimpin harus mampu berdiri teguh pada nilai sekaligus terbuka terhadap pengetahuan baru.

Belajar dari Iran Tanpa Menyalin Iran

Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mendalami berbagai perspektif selama rangkaian kunjungan dan pertemuan di Iran. Berbagai pengalaman tersebut kemudian dibaca dalam kerangka pendidikan negarawan, bukan sebagai upaya mencari satu model yang dapat diterapkan secara langsung di Indonesia. Setiap bangsa memiliki sejarah, karakter masyarakat, sistem kelembagaan, dan pengalaman yang berbeda.

Karena itu, pengalaman Iran perlu dibaca secara kritis. Yang menjadi perhatian bukan sekadar siapa pemimpinnya atau bagaimana sistemnya berjalan, tetapi bagaimana ilmu membentuk kapasitas kepemimpinan, bagaimana nilai diterjemahkan dalam keputusan, serta bagaimana keteladanan membangun hubungan antara pemimpin dan masyarakat.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian menjadi relevan bagi Indonesia. Bagaimana calon pemimpin membangun kapasitas intelektualnya, bagaimana pengetahuan diterjemahkan menjadi kebijakan, bagaimana nilai dijaga ketika berhadapan dengan kepentingan yang beragam, dan bagaimana keteladanan dapat dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Inilah pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar mencari siapa yang harus ditiru.

Dari Pemimpin kepada Generasi Berikutnya

Pada akhirnya, kepemimpinan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan mengendalikan keadaan. Pemimpin yang kuat harus mampu memahami keadaan, menjelaskan arah perubahan, menjaga nilai, dan membangun manusia yang suatu hari akan melanjutkan perjalanan setelah dirinya tidak lagi berada di posisi tersebut.

Di sinilah hubungan antara ilmu dan keteladanan menjadi penting. Ilmu membantu seorang pemimpin membaca dunia, nilai membantunya menentukan arah, sementara keteladanan membuat masyarakat melihat bahwa nilai tersebut benar-benar hidup dalam diri pemimpinnya. Ketiganya menjadi fondasi yang membuat kepemimpinan memiliki makna lebih panjang daripada sekadar masa jabatan.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman mempelajari kepemimpinan Iran menjadi bagian dari proses memperluas cara pandang. Dari Teheran, pelajaran yang dibawa bukanlah sebuah formula yang harus disalin, melainkan pertanyaan yang perlu terus direnungkan tentang seperti apa pemimpin yang dibutuhkan Indonesia.

Sebab pemimpin yang kuat bukan hanya mereka yang mampu mengendalikan kekuasaan. Pemimpin yang kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya, memperluas ilmunya, menjaga nilainya, membaca perubahan zamannya, dan meninggalkan manusia yang lebih siap melanjutkan perjalanan bangsa setelah dirinya.

Share This Article