ANTWERPEN, BELGIA — Antwerpen adalah kota yang memperlihatkan bagaimana masa lalu dan masa depan dapat hidup berdampingan. Di satu sisi, kota ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting Eropa dengan pelabuhan besar dan aktivitas ekonomi yang terus bergerak. Namun di pusat kotanya, jejak sejarah tetap terasa kuat melalui bangunan-bangunan tua, jalan-jalan bersejarah, dan terutama Cathedral of Our Lady yang telah menjadi bagian penting dari wajah Antwerpen selama berabad-abad.
Pada September 2025, katedral tersebut menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi delegasi Sekolah Negarawan. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya, serta Head of Representative Chapter Eropa Imam Syafiih Kamil mengamati katedral bukan hanya sebagai karya arsitektur, tetapi sebagai bagian dari ekosistem kota yang mempertemukan sejarah, seni, masyarakat, dan kehidupan modern.
Perjalanan tersebut membawa satu pertanyaan penting: bagaimana sebuah kota dapat terus berkembang tanpa kehilangan jejak yang membuatnya memiliki identitas?

Bangunan Tua yang Tetap Menjadi Bagian dari Kota
Cathedral of Our Lady mulai dibangun pada abad ke-14 dan proses pembangunannya berlangsung selama lebih dari satu abad. Menara utamanya yang menjulang sekitar 123 meter menjadi salah satu penanda paling kuat dalam lanskap Antwerpen. Katedral ini juga tercatat sebagai bagian dari situs Warisan Dunia UNESCO bersama berbagai elemen lain yang menunjukkan kekayaan sejarah dan arsitektur Belgia.
Namun, nilai sebuah bangunan bersejarah tidak hanya terletak pada usia atau ukurannya. Ia menjadi penting karena mampu bertahan melewati berbagai perubahan sosial dan politik, sementara masyarakat terus memberikan makna baru terhadap keberadaannya.
Bagi Prayogi R. Saputra, ketahanan semacam itu merupakan pelajaran penting mengenai hubungan antara masyarakat dan sejarah. Sebuah warisan dapat bertahan bukan hanya karena struktur fisiknya kuat, tetapi karena ada generasi yang merasa bahwa keberadaannya penting untuk dipertahankan. Ketika masyarakat kehilangan hubungan dengan sejarahnya, bangunan mungkin masih berdiri, tetapi makna yang ada di baliknya perlahan dapat menghilang.
Karena itu, merawat warisan bukan sekadar pekerjaan teknis. Di dalamnya terdapat upaya menjaga ingatan kolektif agar generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk memahami perjalanan masyarakat sebelum mereka.
Ketika Seni Menjadi Bagian dari Kehidupan Publik
Memasuki bagian dalam katedral, perhatian delegasi kemudian tertuju pada karya-karya Peter Paul Rubens yang menjadi bagian penting dari koleksi seni di Cathedral of Our Lady. Beberapa karya monumental sang pelukis, termasuk The Elevation of the Cross dan The Descent from the Cross, berada dalam ruang yang sekaligus memiliki fungsi keagamaan.
Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bagian dari ruang kehidupan masyarakat. Karya seni tidak hanya ditempatkan sebagai benda yang dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, tetapi dapat hadir dalam ruang yang memiliki fungsi sosial, budaya, dan spiritual.
Rinto Setiyawan melihat pengalaman tersebut sebagai bahan refleksi bagi Indonesia. Negeri ini memiliki kekayaan seni yang sangat luas, tetapi tidak semuanya memperoleh ruang yang memadai untuk dikenal dan dinikmati masyarakat. Museum, galeri, bangunan bersejarah, taman kota, pusat kebudayaan, hingga ruang publik sebenarnya dapat menjadi tempat bertemunya masyarakat dengan karya seni dan sejarah bangsanya.
Ketika seni dapat diakses secara lebih luas, ia tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Ia dapat menjadi bagian dari pendidikan publik, memperluas wawasan, dan membantu masyarakat mengenali kekayaan budaya yang mereka miliki.

Menjaga Warisan di Tengah Kota yang Terus Bergerak
Antwerpen tidak berhenti berkembang hanya karena memiliki bangunan-bangunan bersejarah. Aktivitas perdagangan terus berlangsung, kawasan perkotaan berubah, teknologi berkembang, dan masyarakat memiliki kebutuhan baru. Tantangannya adalah bagaimana perubahan tersebut tetap berjalan tanpa menghilangkan karakter kota.
Dari sudut pandang pembangunan, Erick Karya melihat persoalan tersebut sebagai tantangan yang juga dihadapi banyak kota di Indonesia. Ketika sebuah kawasan berkembang, kebutuhan terhadap transportasi, pusat ekonomi, fasilitas publik, dan infrastruktur baru akan terus meningkat. Namun, pembangunan yang tidak memperhitungkan karakter sejarah dapat membuat sebuah kota kehilangan wajahnya.
Karena itu, modernisasi seharusnya tidak selalu dipahami sebagai penggantian yang lama dengan sesuatu yang baru. Ada pendekatan lain, yaitu membuat yang baru tumbuh bersama yang lama. Infrastruktur dapat berkembang, sementara bangunan bersejarah tetap menjadi bagian dari lanskap dan identitas kota.
Di sinilah perencanaan kota memiliki peran penting. Sebuah warisan budaya membutuhkan lingkungan yang mendukung keberadaannya. Ketika kawasan di sekitarnya berkembang dengan memperhatikan nilai sejarah dan visual, bangunan lama tidak menjadi penghalang pembangunan, tetapi justru menjadi salah satu unsur yang memberikan karakter pada kota.
Belajar dari Cara Kota Menghargai Sejarah
Pengalaman di Antwerpen memberikan pelajaran bahwa pelestarian tidak berarti menghentikan perkembangan. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi salah satu fondasi untuk menciptakan kota yang memiliki identitas kuat.
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih beragam. Dari kota-kota tua di Jawa hingga kawasan bersejarah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan berbagai wilayah Nusantara, terdapat banyak peninggalan yang menyimpan cerita tentang perjalanan masyarakat. Persoalannya bukan hanya bagaimana mempertahankan bangunannya, tetapi bagaimana membuat sejarah tersebut tetap memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Kota-kota Indonesia membutuhkan ruang yang membuat generasi muda dapat mengenali sejarahnya tanpa merasa bahwa sejarah adalah sesuatu yang jauh dan membosankan. Bangunan lama, seni tradisional, kawasan bersejarah, dan ruang publik dapat dihidupkan kembali melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Dengan cara itu, pelestarian tidak berhenti sebagai kewajiban administratif. Ia berubah menjadi bagian dari pendidikan masyarakat dan pembangunan karakter kota.
Apa yang Harus Kita Wariskan?
Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan ke Cathedral of Our Lady pada akhirnya bukan hanya tentang melihat sebuah bangunan berusia ratusan tahun. Yang lebih penting adalah memahami cara sebuah masyarakat memperlakukan warisannya. Katedral tersebut memperlihatkan bahwa sejarah, seni, kehidupan keagamaan, dan perkembangan kota dapat berada dalam satu ruang yang sama.
Pelajaran tersebut relevan bagi Indonesia yang saat ini sedang bergerak menuju pembangunan kota-kota masa depan. Ketika teknologi dan infrastruktur menjadi semakin penting, jangan sampai pembangunan membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan tempat dan sejarahnya sendiri.
Seorang pemimpin perlu memiliki pandangan yang lebih panjang daripada sekadar menyelesaikan proyek. Ia perlu memikirkan apakah pembangunan hari ini akan membuat kota menjadi lebih berkarakter, apakah masyarakat memiliki ruang untuk mengenali budayanya, dan apakah generasi mendatang masih dapat membaca perjalanan bangsanya melalui lingkungan tempat mereka hidup.
Antwerpen menunjukkan bahwa kota modern tidak harus memilih antara kemajuan dan sejarah. Keduanya dapat berjalan bersama ketika pembangunan dilakukan dengan kesadaran bahwa sebuah kota bukan hanya tempat untuk bekerja dan tinggal, tetapi juga ruang untuk menyimpan ingatan.
Dari Cathedral of Our Lady, Sekolah Negarawan membawa pulang satu refleksi sederhana: bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun sesuatu yang baru, tetapi juga bangsa yang tahu apa yang harus dijaga dari masa lalu. Sebab di antara gedung-gedung modern yang terus tumbuh, selalu ada warisan yang mengingatkan manusia tentang dari mana sebuah peradaban bermula dan ke mana ia seharusnya melangkah.