Khutbah Jumat Edisi 25 September 2026: Antara Kepemilikan dan Kendali: Membongkar Siapa yang Mengendalikan Sistem Negara

muslimX
By muslimX
7 Min Read

muslimx.id – Khutbah Jumat edisi 25 September 2026 mengangkat tema antara kepemilikan dan kendali sebagai refleksi tentang siapa yang memiliki tanggung jawab dan siapa yang menjalankan kewenangan dalam sebuah sistem negara. Dalam kehidupan berbangsa, negara bukan hanya sekadar kumpulan lembaga dan aturan, tetapi sebuah amanah besar yang harus dikelola untuk menjaga hak, kesejahteraan, dan keadilan masyarakat.

Konsep kepemilikan dan kendali menjadi penting karena sering kali terjadi perbedaan antara pihak yang memiliki hak atas sebuah amanah dengan pihak yang menjalankan kewenangan atas amanah tersebut. Dalam sebuah organisasi, pemilik memiliki mandat tertinggi, sementara pengelola menjalankan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Prinsip ini juga mengingatkan bahwa kekuasaan dalam negara bukanlah milik pribadi, melainkan titipan yang harus digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Islam mengajarkan bahwa manusia hanya sebagai penerima amanah dari Allah SWT. Kekuasaan, harta, dan jabatan bukanlah sesuatu yang dapat dimiliki secara mutlak. Semua akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga setiap orang yang diberikan kewenangan harus menyadari batas dan tanggung jawabnya.

Allah Mengingatkan Bahwa Segala Amanah Harus Dipertanggungjawabkan

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap amanah harus diberikan dan dijalankan dengan benar. Kekuasaan bukan sekadar hak untuk memerintah, tetapi tanggung jawab untuk menjaga kepentingan orang banyak.

Penjelasan ayat tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang diberikan kewenangan tidak boleh menganggap dirinya sebagai pemilik mutlak atas amanah tersebut. Ia hanyalah pengelola yang harus menjalankan tugas sesuai nilai keadilan dan kebenaran.

Dalam konteks kehidupan bernegara, kekuasaan harus digunakan untuk melindungi masyarakat, memastikan hak terpenuhi, dan menjaga keseimbangan agar tidak terjadi penyalahgunaan kewenangan.

Hadis tentang Tanggung Jawab Setiap Pemegang Amanah

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab sesuai perannya. Tidak ada seseorang yang memiliki kekuasaan tanpa kewajiban untuk mempertanggungjawabkannya.

Seorang pemimpin bertanggung jawab terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Seorang pejabat bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Bahkan setiap individu bertanggung jawab terhadap amanah yang berada dalam lingkup kehidupannya. Karena itu, kendali atas suatu sistem tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab moral. Semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Perbedaan Antara Memiliki Amanah dan Mengendalikan Amanah

Dalam kehidupan sosial, sering terjadi kesalahpahaman mengenai hubungan antara kepemilikan dan kendali. Sesuatu yang menjadi amanah seseorang bukan berarti dapat digunakan secara bebas tanpa batas. Dalam Islam, kepemilikan selalu memiliki kewajiban moral.

Allah SWT berfirman: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu sebagai penguasanya.” (QS. Al-Hadid: 7)

Penjelasan ayat ini menunjukkan bahwa manusia bukan pemilik mutlak atas apa yang dimiliki. Harta dan kekuasaan pada hakikatnya adalah titipan Allah yang harus digunakan dengan benar.

Orang yang menjalankan kendali atas suatu sistem harus memahami bahwa kewenangan tersebut memiliki batas. Kendali bukan berarti bebas menentukan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan kepentingan pihak lain. Dalam pemerintahan, kewenangan harus diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat. Keputusan yang dibuat harus mempertimbangkan keadilan, kebutuhan rakyat, dan nilai kemanusiaan.

Bahaya Ketika Kendali Dipisahkan dari Tanggung Jawab

Ketika seseorang memiliki kendali besar tetapi kehilangan kesadaran tentang amanah, berbagai persoalan dapat muncul.

1. Kekuasaan Dapat Berubah Menjadi Kepentingan Pribadi

Kewenangan yang tidak disertai nilai moral dapat membuat seseorang menggunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri. Islam melarang manusia mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap bentuk penyalahgunaan amanah merupakan tindakan yang merugikan orang lain.

2. Masyarakat Kehilangan Peran dalam Sistem

Sebuah negara dibangun untuk melayani masyarakat. Ketika kendali hanya berjalan tanpa mempertimbangkan kepentingan rakyat, maka hubungan antara pemegang amanah dan masyarakat dapat mengalami jarak. Islam mengajarkan pentingnya musyawarah, mendengar pendapat, dan mempertimbangkan kemaslahatan bersama dalam mengambil keputusan.

3. Sistem Menjadi Bergantung pada Individu

Sistem yang sehat harus berjalan berdasarkan aturan, nilai, dan tanggung jawab. Ketika seluruh kendali hanya bergantung pada satu pihak, risiko penyalahgunaan kewenangan menjadi semakin besar. Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya keseimbangan, nasihat, dan pengawasan agar amanah tetap terjaga.

Membangun Sistem Negara yang Berbasis Amanah

Untuk menjaga agar kepemilikan dan kendali berjalan sesuai nilai keadilan, diperlukan beberapa prinsip. Kekuasaan harus dipahami sebagai sarana untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan sebagai alat mendapatkan keistimewaan. Setiap pemegang kewenangan harus siap menjelaskan dan mempertanggungjawabkan keputusan yang dibuat. Sistem yang baik membutuhkan manusia yang memiliki integritas. Aturan tanpa moral tidak cukup untuk menjaga amanah. Islam mengajarkan bahwa keputusan yang menyangkut banyak orang harus mempertimbangkan pandangan dan kepentingan bersama.

Penutup dan Doa

Khutbah Jumat edisi 25 September 2026 mengingatkan bahwa antara kepemilikan dan kendali terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari amanah dan tanggung jawab. Kekuasaan bukanlah sesuatu yang dimiliki secara mutlak oleh manusia, melainkan titipan yang harus digunakan dengan penuh keadilan.

Sistem negara yang baik bukan hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada kesadaran bahwa setiap kewenangan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Ketika pemimpin dan seluruh pemegang amanah memahami tanggung jawabnya, maka kekuasaan dapat menjadi jalan menghadirkan kesejahteraan dan kebaikan bagi masyarakat.

Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang mampu menjaga setiap amanah yang Engkau titipkan. Berikanlah kepada para pemimpin kami hati yang jujur, adil, dan takut kepada-Mu. Jauhkanlah negeri kami dari penyalahgunaan kekuasaan, keserakahan, dan tindakan yang merugikan masyarakat. Tuntunlah kami agar mampu membangun kehidupan yang penuh keadilan, persatuan, dan keberkahan. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

Share This Article