muslimx.id — Ribuan kilometer dari Indonesia tidak selalu membuat seseorang kehilangan hubungan dengan tanah asalnya. Di tengah kehidupan Eropa yang berbeda secara budaya, identitas Nusantara justru dapat menemukan ruang baru untuk tumbuh dan dikenalkan kepada masyarakat setempat. Hal itu terlihat ketika delegasi Sekolah Negarawan mengunjungi Java Cuisine di Velweg 1, Laren, Belanda, dan bertemu dengan Mbak Atika, perempuan Indonesia yang telah lebih dari dua dekade menjalani kehidupan sebagai perantau.
Kunjungan tersebut diikuti Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Rombongan didampingi Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Syafiih Kamil. Pertemuan di Java Cuisine berlangsung dalam suasana kekeluargaan, tetapi sekaligus membuka pembicaraan yang lebih luas mengenai diaspora, kemandirian, kebudayaan, dan bagaimana identitas Indonesia dapat tetap hidup di tengah arus globalisasi.

Ketika Rasa Menjadi Jalan Pulang
Lebih dari sekadar tempat makan, Java Cuisine menjadi ruang yang mempertemukan pengalaman perantauan dengan ingatan tentang tanah air. Hidangan Nusantara yang disajikan di tengah lingkungan Belanda membawa kembali cita rasa yang akrab bagi masyarakat Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner tersebut kepada masyarakat Eropa.
Di balik usaha itu terdapat perjalanan panjang Mbak Atika. Selama lebih dari 20 tahun hidup di Belanda, ia berhadapan dengan lingkungan sosial dan budaya yang berbeda dari Indonesia. Proses beradaptasi tersebut tidak membuat akar budayanya hilang. Justru melalui kuliner, identitas tersebut menemukan bentuk baru yang dapat diterima dan dinikmati di tempat ia menjalani kehidupan.
Kisah ini memperlihatkan bahwa mempertahankan identitas tidak selalu berarti menutup diri dari perubahan. Seseorang dapat beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa harus kehilangan hubungan dengan akar kebudayaannya. Dalam konteks diaspora, kemampuan semacam itu menjadi bagian dari ketangguhan hidup.
Diaspora dan Kemandirian
Bagi Prayogi R. Saputra, perjalanan Mbak Atika dapat dibaca sebagai gambaran tentang karakter manusia Nusantara yang mampu bertahan sekaligus beradaptasi. Dalam pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menjadi salah satu pijakan kurikulum Sekolah Negarawan, manusia tidak semestinya kehilangan jati dirinya ketika berhadapan dengan perubahan zaman.
Kemandirian menjadi bagian penting dari proses tersebut. Seorang warga negara yang hidup di luar negeri tetap dapat memberikan kontribusi bagi bangsanya melalui kemampuan, profesi, maupun usaha yang dibangunnya. Kontribusi itu tidak selalu berbentuk aktivitas politik atau pekerjaan yang secara langsung berkaitan dengan negara. Menjaga kualitas kerja, membangun usaha secara profesional, dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia juga menjadi bentuk kehadiran Indonesia di ruang global.
Java Cuisine memperlihatkan bagaimana identitas budaya dapat berjalan bersama dengan kehidupan ekonomi. Budaya tidak hanya disimpan sebagai kenangan, tetapi dapat dihidupkan melalui aktivitas sehari-hari dan bahkan menjadi sumber penghidupan.
Restoran sebagai Ruang Pertemuan Budaya
Rinto Setiyawan melihat Java Cuisine dalam konteks yang lebih luas sebagai ruang representasi sosial. Ketika masyarakat setempat datang dan menikmati makanan Indonesia, yang mereka temui bukan hanya rasa dari sebuah hidangan. Mereka juga berhadapan dengan keramahan, tradisi, cara berinteraksi, serta cerita kebudayaan yang melekat pada makanan tersebut.
Dalam pengertian itu, diaspora memiliki posisi yang menarik dalam hubungan antarbudaya. Mereka hidup di antara dua ruang sosial sekaligus. Di satu sisi, mereka menjadi bagian dari masyarakat tempat tinggalnya. Di sisi lain, mereka membawa pengalaman, nilai, dan identitas dari tanah asal. Pertemuan kedua ruang tersebut dapat melahirkan bentuk diplomasi budaya yang berlangsung secara alami.
Tidak semua diplomasi harus berlangsung di ruang konferensi atau melalui pertemuan resmi antarnegara. Secangkir kopi, sepiring makanan Nusantara, percakapan dengan pemilik usaha, atau suasana sebuah restoran juga dapat membuka pintu bagi orang lain untuk mengenal Indonesia.
Ketangguhan Perantau di Tanah Eropa
Syafiih Kamil menilai pengalaman Mbak Atika memiliki relevansi bagi generasi Indonesia yang sedang membangun kehidupan di Eropa. Menjalankan usaha di negara lain membutuhkan kemampuan beradaptasi terhadap aturan, standar, budaya kerja, dan karakter masyarakat setempat.
Di tengah proses tersebut, mempertahankan cita rasa asli Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Orisinalitas tidak cukup hanya dijaga melalui resep, tetapi juga melalui kesungguhan dalam membangun usaha dan memahami lingkungan tempat usaha itu berdiri.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa diaspora Indonesia tidak harus memilih antara menjadi bagian dari masyarakat global atau mempertahankan identitas asal. Keduanya dapat berjalan bersama ketika identitas dipahami sebagai sesuatu yang hidup dan mampu berdialog dengan lingkungan baru.
Teknologi dan Ekosistem Ekonomi Diaspora
Pertemuan di Java Cuisine juga membuka pembahasan mengenai bagaimana perkembangan teknologi dapat membantu menghubungkan potensi diaspora dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas. CEO Enygma Erick Karya memaparkan gagasan mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence atau AI dalam tata kelola dan pemetaan ekosistem usaha.
Dalam gagasan tersebut, teknologi dapat digunakan untuk membantu membaca data, mengenali potensi, serta membangun hubungan yang lebih terintegrasi antara pelaku usaha diaspora dan ekosistem ekonomi Indonesia. Namun, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat pendukung. Yang paling penting adalah bagaimana negara mampu mengenali dan membangun hubungan dengan warganya yang telah memiliki pengalaman serta jaringan di berbagai belahan dunia.
Diaspora memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman langsung. Mereka memahami pasar lokal, budaya kerja, regulasi, dan karakter masyarakat di negara tempat mereka tinggal. Pengetahuan tersebut dapat menjadi aset apabila ada ruang yang memungkinkan pengalaman itu terhubung kembali dengan pembangunan Indonesia.
Belajar dari Indonesia yang Hidup di Luar Negeri
Bagi Sekolah Negarawan, kunjungan ke Java Cuisine menjadi bagian dari cara melihat Indonesia dari luar batas geografisnya. Ekspedisi ke berbagai negara tidak hanya digunakan untuk mengamati institusi besar, teknologi, atau sistem pendidikan. Kehidupan warga Indonesia di perantauan juga menjadi bagian dari lanskap sosial yang penting untuk dipahami.
Dari Finlandia, Estonia, Eropa Barat, hingga Turkiye, Iran, dan kawasan Asia Tenggara, perjalanan tersebut mempertemukan delegasi dengan berbagai pengalaman masyarakat dan peradaban. Pertemuan dengan diaspora seperti Mbak Atika memberikan perspektif lain bahwa pembangunan bangsa juga memiliki wajah personal. Ada warga Indonesia yang membawa identitasnya ke luar negeri, beradaptasi, membangun usaha, dan pada saat yang sama tetap menjaga hubungan dengan akar budayanya.
Pengalaman semacam ini kemudian menjadi bagian dari bahan pembelajaran dan literasi Sekolah Negarawan yang didiseminasikan kembali di Indonesia, dari Medan hingga Ternate dan Tidore.
Java Cuisine di Laren akhirnya menghadirkan gambaran sederhana tentang bagaimana Indonesia dapat hadir jauh dari wilayah geografisnya. Ia hadir melalui makanan, kerja keras, keramahan, dan keteguhan seseorang dalam mempertahankan identitas di tengah perubahan.
Bagi bangsa yang hidup dalam arus globalisasi, kisah diaspora seperti Mbak Atika mengingatkan bahwa menjadi modern tidak harus berarti tercerabut dari akar. Justru ketika seseorang mampu membawa kebudayaannya berdialog dengan dunia, identitas Indonesia dapat menemukan ruang hidup yang baru dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.