Perubahan Sosial Indonesia dalam Islam: Mengapa Perubahan Sering Berhenti pada Slogan?

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id  — Perubahan sosial Indonesia sering kali dimulai dengan seruan yang terdengar meyakinkan. Masyarakat menginginkan kehidupan yang lebih adil, pemimpin menjanjikan pembaruan, lembaga mengampanyekan integritas, dan berbagai gerakan mengajak orang untuk berubah. Namun, setelah berbagai slogan disampaikan dan semangat perubahan digaungkan, kehidupan sehari-hari tidak selalu menunjukkan perbedaan yang berarti. Kebiasaan lama tetap bertahan, kesalahan yang sama kembali terjadi, dan nilai-nilai yang diperjuangkan terkadang berhenti sebagai kata-kata.

Persoalannya bukan karena masyarakat tidak mengetahui apa yang baik. Banyak orang memahami pentingnya kejujuran, kedisiplinan, keadilan, dan tanggung jawab. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana pengetahuan tersebut diwujudkan menjadi kebiasaan dan sistem kehidupan. Mengapa manusia begitu mudah menyerukan perubahan, tetapi tidak selalu bersedia menjalani proses yang diperlukan untuk mewujudkannya?

Ketika Perubahan Hanya Menjadi Slogan

Kata perubahan memiliki daya tarik karena menjanjikan harapan. Perubahan memberi gambaran tentang kehidupan yang lebih baik, keadaan yang lebih adil, dan masa depan yang berbeda dari masa lalu. Namun, perubahan yang hanya berhenti pada slogan tidak menuntut banyak hal dari orang yang mengucapkannya. Seseorang dapat berbicara tentang kejujuran tanpa harus mengubah kebiasaannya, menyerukan kedisiplinan tanpa memperbaiki perilakunya, atau menuntut keadilan tanpa bersedia memperlakukan orang lain secara adil.

Di sinilah perubahan kehilangan makna substantifnya. Kata-kata yang semestinya menjadi awal tindakan justru menjadi pengganti tindakan itu sendiri. Orang merasa telah mengambil bagian dalam perubahan hanya karena mendukung sebuah gagasan, menyampaikan kritik, atau mengulang seruan yang populer.

Padahal, perubahan yang sesungguhnya baru dimulai ketika seseorang bersedia mengubah sesuatu dalam kehidupannya. Seruan tentang kebersihan, misalnya, tidak akan berarti jika orang masih membuang sampah sembarangan. Kampanye antikorupsi kehilangan kekuatan moral apabila orang tetap membenarkan kecurangan kecil ketika memperoleh keuntungan. Perubahan tidak cukup dibuktikan melalui apa yang dikatakan, tetapi harus terlihat dalam apa yang dilakukan.

Mengapa Manusia Sulit Meninggalkan Kebiasaan Lama?

Salah satu penyebab perubahan sulit diwujudkan adalah karena manusia tidak hanya hidup berdasarkan nilai yang diyakininya, tetapi juga berdasarkan kebiasaan yang telah lama terbentuk. Seseorang dapat mengetahui bahwa suatu tindakan keliru, tetapi tetap melakukannya karena sudah terbiasa atau merasa tindakan tersebut memberikan keuntungan.

Kebiasaan lama juga sering dipertahankan melalui pembenaran sosial. Ketika banyak orang melakukan pelanggaran yang sama, perilaku tersebut dapat dianggap wajar. Ketika ketidakjujuran kecil terus dimaklumi, orang mulai kehilangan kepekaan terhadap batas antara yang benar dan yang salah. Akhirnya, sesuatu yang semestinya diperbaiki justru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, perubahan membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan dan niat. Ia membutuhkan keberanian untuk meninggalkan kenyamanan yang keliru, kesediaan menerima konsekuensi, dan konsistensi menjalankan nilai meskipun tidak selalu menguntungkan diri sendiri. Perubahan menjadi sulit bukan semata-mata karena manusia tidak mengetahui jalan yang benar, tetapi juga karena jalan tersebut terkadang menuntut pengorbanan.

Perubahan Harus Dimulai dari Diri, tetapi Tidak Berhenti di Sana

Ketika membicarakan perubahan sosial, ada kecenderungan untuk menyalahkan individu atas berbagai persoalan yang terjadi. Masyarakat dianggap tidak disiplin, pegawai dinilai kurang berintegritas, atau pemimpin dituduh tidak memberikan teladan. Kritik terhadap perilaku individu memang penting, tetapi persoalan sosial tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui karakter seseorang.

Perilaku manusia juga dibentuk oleh lingkungan, aturan, budaya organisasi, dan sistem penghargaan yang berlaku. Orang yang bekerja dalam lingkungan yang membiarkan pelanggaran dapat menghadapi tekanan untuk mengikuti kebiasaan tersebut. Sebaliknya, aturan yang jelas, pengawasan yang berjalan, dan penghargaan terhadap integritas dapat membantu orang mempertahankan perilaku yang benar.

Karena itu, perubahan sosial Indonesia membutuhkan dua proses yang berjalan bersama. Manusia perlu mengoreksi diri, sementara lembaga dan sistem juga perlu diperbaiki agar tidak terus menghasilkan persoalan yang sama. Menuntut individu berubah tanpa memperbaiki lingkungan yang bermasalah dapat membuat perubahan sulit bertahan. Sebaliknya, membangun aturan baru tanpa membentuk tanggung jawab manusia juga berisiko menjadikan aturan sekadar dokumen formal.

Perspektif Islam: Perubahan Membutuhkan Ikhtiar Nyata

Islam memandang perubahan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kesadaran dan ikhtiar manusia. Dalam QS Ar-Ra’d ayat 11, Allah menyampaikan bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Ayat ini dapat menjadi landasan untuk memahami pentingnya kesediaan melakukan perbaikan. Perubahan tidak cukup hanya diharapkan atau diserahkan kepada orang lain. Manusia perlu mengambil bagian melalui pilihan, tindakan, dan tanggung jawabnya.

Namun, ayat tersebut tidak seharusnya digunakan untuk menyalahkan orang yang menjadi korban ketidakadilan atau mengalami keadaan yang tidak dapat mereka kendalikan sendiri. Perubahan keadaan juga membutuhkan ikhtiar kolektif, perlindungan terhadap pihak yang rentan, dan perbaikan sistem yang menghambat kehidupan yang adil.

Dalam perspektif Islam, kesesuaian antara perkataan dan perbuatan juga merupakan persoalan moral. Keimanan dan pengetahuan tentang kebaikan seharusnya tercermin dalam perilaku. Nilai kejujuran, amanah, dan keadilan tidak cukup diucapkan, tetapi perlu diwujudkan dalam hubungan dengan sesama manusia. Dengan demikian, perubahan tidak berhenti pada kesadaran tentang apa yang benar, melainkan bergerak menuju kesediaan menjalankannya.

Prayogi: Perubahan Harus Melampaui Pergantian Slogan

Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, memandang bahwa perubahan perlu dinilai dari konsistensi antara gagasan yang disampaikan dan tindakan yang dijalankan. Menurutnya, sebuah masyarakat tidak cukup hanya memiliki banyak seruan tentang perbaikan apabila nilai-nilai yang diperjuangkan belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan bersama.

“Perubahan tidak cukup berhenti pada slogan, pergantian orang, atau lahirnya aturan baru. Kita perlu melihat apakah perubahan itu benar-benar mengubah cara manusia berpikir dan bertindak, serta apakah sistem yang dibangun mendukung nilai-nilai yang ingin diwujudkan. Jika kebiasaan lama dan mekanisme yang bermasalah tetap dipertahankan, persoalan yang sama dapat kembali muncul dengan bentuk yang berbeda,” ujar Prayogi.

Ia menekankan bahwa perubahan membutuhkan kesinambungan antara pembentukan karakter dan pembenahan sistem. Kesadaran individu penting agar manusia memiliki tanggung jawab moral, sedangkan sistem yang baik diperlukan untuk menjaga agar tanggung jawab tersebut dapat dijalankan secara konsisten.

Dengan cara pandang ini, keberhasilan perubahan tidak cukup diukur dari banyaknya program atau seberapa sering sebuah gagasan disampaikan. Perlu dilihat pula apakah kehidupan masyarakat menjadi lebih adil, apakah tanggung jawab dijalankan dengan lebih baik, dan apakah kesalahan yang sama semakin mampu dicegah.

Mengubah Slogan Menjadi Tindakan

Pada akhirnya, perubahan sosial Indonesia tidak akan bergerak jauh jika masyarakat hanya sibuk membicarakan keadaan yang ingin diubah tanpa bersedia menjalani proses perbaikannya. Perubahan membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi diri, meninggalkan kebiasaan yang keliru, dan tetap menjalankan nilai yang diyakini meskipun menghadapi kesulitan.

Namun, tanggung jawab itu tidak hanya berada pada individu. Lembaga, organisasi, dan penyelenggara negara juga perlu memastikan bahwa aturan serta mekanisme yang berlaku mendukung kejujuran, keadilan, dan pertanggungjawaban. Perubahan pribadi harus bertemu dengan perubahan sistem agar kebaikan tidak hanya bergantung pada niat seseorang, tetapi dapat menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Indonesia tidak kekurangan kata-kata tentang perubahan. Tantangannya adalah menjadikan kata-kata tersebut sebagai tindakan yang konsisten. Sebab perubahan tidak terjadi hanya karena masyarakat menyepakati bahwa sesuatu harus diperbaiki. Perubahan terjadi ketika kesempatan itu diwujudkan dalam pilihan, kebiasaan, keputusan, dan tata kehidupan yang nyata.

Slogan dapat membuka pintu perubahan, tetapi hanya tindakan yang konsisten yang membuat perubahan benar-benar berjalan.

Share This Article