Sekolah Negarawan dan Bangbangwetan Angkat Jalan Kebudayaan untuk Membangun Kemakmuran Bangsa

muslimX
By muslimX
5 Min Read

SURABAYA — Kemakmuran bangsa tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik. Kebudayaan, moralitas, dan kualitas manusia juga memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan sebuah negara. Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Sinau Kebangsaan yang diselenggarakan Ekosistem Sekolah Negarawan bersama Komunitas Bangbangwetan pada 10 November 2025.

Kegiatan yang diawali dengan video sambutan Jenderal TNI (Purn) Fachrurrozi tersebut menghadirkan ruang dialog mengenai tantangan pembangunan Indonesia. Melalui pendekatan kebudayaan, forum ini mengajak berbagai elemen masyarakat untuk melihat kembali hubungan antara kemajuan material, nilai-nilai kehidupan, dan pembentukan karakter bangsa.

Mempertemukan Perspektif Seniman, Ulama, dan Tokoh Kebangsaan

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra memandu jalannya forum yang berlangsung dalam suasana maiyahan tersebut. Sejumlah tokoh turut menyampaikan pandangan, di antaranya seniman dan komposer etnik Franky Raden, kalangan ulama, pakar hukum, serta tokoh Kesultanan Ternate dan Tidore.

Diskusi berangkat dari pertanyaan mengenai kondisi Indonesia sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam dan kebudayaan yang besar, tetapi masih menghadapi berbagai persoalan dalam mewujudkan kemakmuran yang merata. Para peserta diajak mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat pembangunan sekaligus mencari pendekatan yang lebih menyeluruh dalam membangun kehidupan berbangsa.

Kebudayaan sebagai Fondasi Pembangunan Manusia

Dalam forum tersebut, Franky Raden menyampaikan pandangan mengenai hubungan antara pembangunan dan identitas kultural bangsa. Menurut perspektif yang disampaikannya, pembangunan yang terlalu berorientasi pada pencapaian materiil berisiko mengabaikan nilai-nilai kebudayaan yang menjadi dasar kehidupan masyarakat.

Pembangunan yang tidak memperhatikan dimensi kebudayaan dapat melahirkan cara pandang yang keliru terhadap manusia dan lingkungan. Alam maupun masyarakat berisiko diperlakukan hanya sebagai objek ekonomi, bukan sebagai bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.

Pandangan tersebut membuka pembahasan mengenai pentingnya menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan. Kemajuan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga melalui kemampuan suatu bangsa menjaga identitas, nilai, dan martabat manusianya.

Moralitas dan Spiritualitas dalam Kehidupan Bernegara

Selain perspektif kebudayaan, para ulama yang hadir turut menyampaikan tausiah kebangsaan mengenai hubungan antara moralitas, spiritualitas, dan kemakmuran. Persoalan ketidakadilan dan korupsi tidak hanya berkaitan dengan kelemahan sistem, tetapi juga berhubungan dengan kualitas moral orang-orang yang menjalankan kewenangan publik.

Ketika tanggung jawab kepada Tuhan dan kesadaran terhadap nilai-nilai kebaikan semakin melemah, penyalahgunaan kekuasaan berisiko dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Karena itu, pembangunan kehidupan bernegara membutuhkan manusia yang memiliki integritas, kesadaran moral, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Pembahasan ini memperlihatkan bahwa kemakmuran tidak dapat dilepaskan dari pembentukan karakter. Tata kelola yang baik membutuhkan sistem kelembagaan yang kuat sekaligus manusia yang mampu menjalankan amanah secara bertanggung jawab.

Sekolah Negarawan Dorong Revolusi Kebudayaan

Menanggapi berbagai pandangan tersebut, Prayogi R. Saputra mengangkat pentingnya revolusi kebudayaan sebagai bagian dari upaya memperbaiki arah pembangunan bangsa. Pendidikan, menurut gagasan yang disampaikan dalam forum tersebut, tidak seharusnya hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan dan kemampuan kognitif, tetapi juga perlu membentuk karakter serta kemampuan manusia untuk hidup bersama secara bermartabat.

Pendidikan yang memanusiakan manusia menjadi salah satu fondasi untuk membangun masyarakat yang beradab. Kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan budi pekerti, tanggung jawab sosial, dan kesadaran moral. Dengan demikian, kemakmuran tidak hanya dipahami sebagai keberhasilan ekonomi, tetapi juga sebagai kondisi ketika manusia dapat hidup secara layak dan memperoleh keadilan.

KiaiKanjeng Menghadirkan Kebudayaan dalam Ruang Kebangsaan

Kehadiran KiaiKanjeng turut melengkapi rangkaian Sinau Kebangsaan melalui perpaduan musik, lantunan selawat, dan suasana kebersamaan. Seni dan kebudayaan menjadi medium yang mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat dalam ruang dialog yang lebih terbuka dan akrab.

Video sambutan Jenderal TNI (Purn) Fachrurrozi pada awal kegiatan juga menjadi bagian dari rangkaian pertemuan tersebut. Kehadiran berbagai tokoh, ulama, seniman, dan masyarakat memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai masa depan bangsa dapat berlangsung melalui beragam pendekatan, termasuk melalui ruang kebudayaan.

Bagi Ekosistem Sekolah Negarawan dan Komunitas Bangbangwetan, Sinau Kebangsaan menjadi ruang untuk mempertemukan pemikiran, pengalaman, dan refleksi masyarakat mengenai arah pembangunan Indonesia. Melalui dialog kebudayaan, kegiatan ini mengangkat kembali pentingnya membangun bangsa yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga kuat dalam identitas, moralitas, dan kualitas manusianya.

Share This Article