muslimx.id – Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menilai Pemkot Surabaya telah menunjukkan tanggung jawab saat demonstrasi ricuh. Ia menyebut Wali Kota Eri Cahyadi hadir langsung di lapangan ketika situasi Balai Kota memanas. Kehadiran itu disebut sebagai bukti empati pemimpin terhadap rakyat di tengah kondisi kacau.
Fathoni menjelaskan Walikota Eri tidak hanya hadir saat malam kericuhan, tetapi juga meninjau kota esok harinya. Ia bahkan memimpin pembersihan jalan yang rusak akibat aksi. Menurutnya, tindakan ini membuktikan pemkot tidak hadir sesaat, melainkan berkomitmen hingga pemulihan selesai. Kehadiran pemimpin dianggap menenangkan masyarakat.
Partai X: Empati Bukan Substansi
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menegaskan bahwa empati pemimpin di lapangan belum cukup menyelesaikan akar persoalan. Negara, kata Rinto, memiliki tiga tugas utama: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Kehadiran simbolik tanpa solusi konkret hanya menunda kekecewaan rakyat.
Partai X menegaskan prinsipnya: Negara sama dengan bus, rakyat ibarat penumpang, Pemerintah adalah sopir. Pemimpin hanya pengemudi, bukan pemilik. Namun kini sopir merasa berhak atas bus. Rakyat yang seharusnya pemilik kedaulatan justru sekadar penonton. Surabaya pasca ricuh menunjukkan lemahnya sistem perlindungan warga.
Partai X menilai pemerintah kota terlalu menekankan aspek kehadiran fisik, bukan substansi kebijakan. Kehadiran pemimpin di lapangan memang penting, tetapi kebutuhan rakyat jauh lebih besar. Warga membutuhkan jaminan pekerjaan, layanan publik, hingga pemulihan ekonomi pasca demo, bukan sekadar pembersihan jalan.
Pandangan Islam: Pemimpin Amanah, Bukan Simbolik
Islam menegaskan bahwa pemimpin bukan hanya hadir secara fisik, tetapi hadir dalam pemenuhan kebutuhan umat. Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan keadilan. Rasulullah SAW juga bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, pemimpin tidak cukup hadir dalam kericuhan untuk menunjukkan empati, tetapi wajib memastikan rakyatnya terlindungi, sejahtera, dan mendapatkan solusi nyata.
Solusi Partai X
Partai X mengusulkan langkah-langkah yang selaras dengan nilai moral dan Islam:
- Musyawarah kenegarawanan dengan melibatkan ulama, warga, intelektual, TNI/Polri, dan tokoh budaya demi menemukan solusi mendasar.
- Penguatan pemaknaan Pancasila agar kebijakan berpihak pada rakyat, bukan hanya jargon.
- Digitalisasi birokrasi untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas layanan publik.
- Pendidikan moral dan agama agar rakyat memahami hak dan kewajibannya, dan pejabat memahami amanah kekuasaan.
Penutup: Amanah yang Berat di Hadapan Allah
Kehadiran seorang pemimpin memang penting, tetapi tidak cukup bila hanya sebatas simbol. Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah pertanggungjawaban dunia dan akhirat. Jika pemimpin gagal menunaikan amanah, rakyat menderita dan pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW mengingatkan:
“Tiada seorang hamba yang Allah jadikan sebagai pemimpin atas rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, kepemimpinan yang sejati adalah ketika rakyat merasa terlindungi, kebutuhan mereka terpenuhi, dan keadilan ditegakkan. Empati tanpa solusi hanyalah bayangan, tetapi amanah yang dijalankan dengan adil adalah cahaya yang menyelamatkan umat.