Donasi Banjir Cuma Rp10 Juta, Islam Ingatkan Kepekaan Sosial Wakil Rakyat!

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id – Polemik mengenai sindiran terhadap donasi banjir kembali mencuat setelah adanya pernyataan yang membandingkan kontribusi individual dan bantuan pemerintah. Di tengah kesulitan masyarakat terdampak banjir, perdebatan tentang angka donasi justru dianggap menggeser fokus utama: kepedulian dan empati terhadap warga yang membutuhkan.

Anggota Komisi I DPR Endipat Wijaya sebelumnya menyoroti pihak yang datang sekali ke lokasi bencana namun mengklaim paling berjasa. Ia juga menyinggung donasi individu yang hanya mencapai belasan juta rupiah, sementara negara menggelontorkan bantuan bernilai triliunan.

Endipat meminta Komdigi memperkuat narasi pemerintah dan meningkatkan penyampaian informasi kepada publik. Menurutnya, kerja pemerintah sering teredam oleh isu viral, sehingga publik tidak mendapatkan gambaran utuh tentang penanganan bencana.

Islam Menegur Pemimpin yang Kurang Peka: Empati Lebih Berharga dari Angka

Perdebatan tentang besar kecilnya donasi sejatinya bertentangan dengan semangat Islam yang menekankan keikhlasan, kepedulian, dan empati, bukan kompetisi angka.

Allah SWT menegaskan:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran 3:92)

Ayat ini menegaskan bahwa nilai kebaikan bukan pada besarannya, tetapi ketulusan dan kehadiran hati untuk menolong. Membandingkan donasi dapat memperlemah ukhuwah dan solidaritas, dua hal yang amat ditekankan Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam konteks bencana, kepekaan sosial adalah ukuran moral. Seorang pemimpin seharusnya memberi keteladanan, bukan sindiran kepada warga yang memiliki kapasitas berbeda-beda dalam memberi bantuan.

Partai X: Pemimpin Harus Hadir dengan Empati, Bukan Perbandingan

Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R Saputra, mengingatkan bahwa komunikasi publik dalam situasi bencana harus dibangun di atas empati, bukan kompetisi atau penghakiman.

Ia menegaskan tiga tugas negara dalam demokrasi modern:

  1. Melindungi rakyat,
  2. Melayani rakyat,
  3. Mengatur rakyat secara adil.

Prayogi menilai membandingkan kontribusi hanya akan memecah solidaritas. “Yang dibutuhkan rakyat itu kehadiran, kepedulian, dan kerja cepat bukan adu angka donasi,” ujarnya.

Prinsip Islam dan Prinsip Partai X Bertemu di Titik yang Sama: Keadilan Sosial

Islam tidak mengajarkan meremehkan pemberian kecil. Justru Rasulullah SAW bersabda:

“Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya dengan wajah tersenyum kepada saudaramu.” (HR. Muslim)

Hal ini sejalan dengan prinsip Partai X yang menolak komunikasi publik yang melemahkan solidaritas sosial. Negara harus menjaga kepercayaan melalui akal sehat, transparansi, dan empati.

Solusi Partai X untuk Menguatkan Komunikasi Bencana

Partai X menawarkan langkah strategis agar komunikasi pemerintah tidak justru membuat publik merasa dipinggirkan:

  1. Membentuk pusat informasi terpadu lintas kementerian.
  2. Laporan real-time dari seluruh kementerian.
  3. Penguatan amplifikasi digital berbasis AI.
  4. Jaringan relawan informasi daerah.
  5. Literasi kebencanaan yang diperluas.
  6. Penyampaian informasi yang humanis dan berempati.
  7. Integrasi kebijakan bencana dengan Sekolah Negarawan.

Islam mengajarkan bahwa sekecil apa pun bantuan tetap bernilai besar selama diberikan dengan ketulusan. Pejabat publik seharusnya menjadi teladan kepekaan sosial, bukan mengadu besar kecil donasi.

Rakyat membutuhkan dukungan nyata, empati, dan kehadiran pemimpin yang rendah hati.
Sebagaimana firman Allah:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah 5:2)

Bencana bukan ruang untuk saling sindir, tetapi ajang memperkuat kemanusiaan. Empati adalah kewajiban moral khususnya bagi mereka yang memegang amanah sebagai wakil rakyat.

Share This Article