Khutbah Jumat Edisi 02 Januari 2026: Kecurangan dan Kufur Nikmat Peringatan Al-Qur’an untuk Kehidupan Sosial

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id – Salah satu penyakit moral yang paling keras dikecam dalam Al-Qur’an adalah kecurangan. Kecurangan bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan tanda kufur nikmat dan hilangnya kesadaran akan hari pertanggungjawaban. Karena itulah Allah secara khusus menurunkan Surah al-Muthaffifin, yang berarti orang-orang yang berbuat curang.

Allah tidak menghendaki manusia hidup dengan saling menipu, karena Islam dibangun di atas nilai keadilan, kejujuran, dan keseimbangan.

Allah ﷻ berfirman:

“Celakalah orang-orang yang berbuat curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)

Ayat ini bukan ancaman ringan. Kata wail menunjukkan kecelakaan besar dan azab yang berat bagi siapa pun yang menjadikan kecurangan sebagai jalan hidup.

Kecurangan sebagai Bentuk Kufur Nikmat

Allah mengulang pertanyaan “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” sebanyak 31 kali dalam Surah ar-Rahman. Pengulangan ini adalah seruan agar manusia merenung, agar tidak lupa bersyukur.

Namun, kecurangan adalah tanda ketika nikmat tidak lagi disyukuri. Orang yang curang lupa bahwa rezeki, jabatan, dan kekuasaan adalah titipan Allah. Ia sibuk menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung pertanggungjawaban.

Kecurangan lahir dari hati yang tidak lagi merasa diawasi Allah.

Surah al-Muthaffifin menjelaskan ciri orang-orang curang dengan sangat gamblang:

  1. Menuntut hak secara penuh, ketika menerima dari orang lain.
  2. Mengurangi hak orang lain, ketika memberi atau menetapkan kewajiban.
  3. Meremehkan hari pembalasan, seolah-olah tidak ada hisab dan akhirat.

Allah menggambarkan mereka sebagai orang yang lupa bahwa kelak akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Rabb semesta alam.

Keadilan adalah Fondasi Alam dan Kehidupan

Islam menegaskan bahwa seluruh alam diciptakan di atas keadilan dan keseimbangan. Langit ditegakkan, bumi dihamparkan, dan mizan (timbangan) ditegakkan agar manusia tidak melampaui batas.

Karena itu, kecurangan bukan hanya merusak hubungan antar manusia, tetapi juga merusak tatanan kehidupan. Ia menimbulkan ketimpangan, penderitaan, dan kezaliman yang meluas.

Islam datang untuk merombak sistem jahiliyah yang dipenuhi riba, monopoli, eksploitasi, dan penindasan. Maka tauhid dan keadilan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Kecurangan tidak hanya terjadi di pasar atau timbangan. Ia bisa menjelma dalam banyak bentuk:

  1. Ketika kewajiban rakyat ditegakkan, tetapi haknya diabaikan
  2. Ketika pungutan dipaksakan, namun transparansi ditiadakan
  3. Ketika hukum dimanipulasi untuk kepentingan segelintir orang

Semua itu adalah bentuk tathfif mengurangi hak orang lain yang dikecam oleh Al-Qur’an. Namun Islam juga memerintahkan muhasabah diri. Jangan sampai kita membenci kecurangan hanya karena belum mendapat kesempatan melakukannya, bukan karena ia adalah kebatilan.

Muhasabah: Di Golongan Mana Kita Berada?

Al-Qur’an membagi manusia ke dalam dua golongan besar: Abrar orang-orang baik, jujur, dan adil. Fujjar orang-orang durhaka, curang, dan zalim. Yang mengejutkan, Al-Qur’an menggambarkan orang-orang baik jumlahnya lebih sedikit, sedangkan orang-orang curang lebih banyak.

Maka pertanyaannya bukan tentang orang lain, tetapi tentang diri kita sendiri: Apakah kita termasuk yang menjaga kejujuran, atau yang membiarkan kecurangan?

Penutup: Doa dan Harapan

Kecurangan adalah jalan kehancuran, baik bagi individu maupun masyarakat. Sebaliknya, kejujuran dan keadilan adalah jalan keberkahan.

Islam mengajarkan kita untuk bersih dalam niat, jujur dalam tindakan, dan adil dalam setiap peran kehidupan baik sebagai pemimpin, pedagang, pekerja, maupun rakyat biasa.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari sifat curang dan zalim.
Jadikan kami hamba-hamba-Mu yang jujur dan adil.
Jauhkan negeri kami dari kecurangan, penindasan, dan ketidakadilan.
Masukkan kami ke dalam golongan Abrar, dan jauhkan kami dari golongan Fujjar.

اللهم اجعل هذا البلد آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين

Share This Article