Kekuasaan Tanpa Akhlak dan Hilangnya Rasa Takut kepada Allah

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id Salah satu tanda paling berbahaya dari kekuasaan tanpa akhlak adalah hilangnya rasa takut kepada Allah. Kekuasaan dijalankan seolah hanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, lembaga, dan hukum dunia, sementara hisab akhirat dilupakan. Ketika dimensi ketuhanan hilang dari pemerintahan, maka kekuasaan berubah menjadi alat dominasi, bukan sarana ibadah.

Islam mengajarkan bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tuntutan ketakwaannya. Kekuasaan tanpa akhlak justru membalik logika ini: semakin tinggi jabatan, semakin merasa kebal dari kesalahan.

Takut kepada Allah sebagai Fondasi Kepemimpinan

Dalam Islam, rasa takut kepada Allah (khasy-yah) bukan kelemahan, tapi pondasi kepemimpinan yang adil. Pemimpin yang takut kepada Allah akan berhati-hati dalam mengambil keputusan, karena sadar bahwa setiap kebijakan akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu tanpa rasa takut kepada Allah justru berbahaya. Dalam konteks pemerintahan, kecakapan tanpa akhlak melahirkan kekuasaan tanpa akhlak yang efektif secara teknis, tetapi rusak secara moral.

Ketika Hisab Diganti oleh Popularitas

Dalam pemerintahan modern, keberhasilan sering diukur dengan elektabilitas, pencitraan, dan legitimasi formal. Ukuran-ukuran ini perlahan menggantikan kesadaran hisab. Pemimpin merasa cukup aman selama masih populer atau kuat secara pemerintahan.

Islam mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sejati bukan pada pujian manusia, tetapi pada keridhaan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Kekuasaan tanpa akhlak tumbuh subur ketika pemerintah lebih sibuk mengelola citra daripada membersihkan niat.

Partai X: Kekuasaan Tanpa Takut kepada Allah Pasti Menyimpang

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai bahwa hilangnya rasa takut kepada Allah adalah akar dari penyimpangan kekuasaan.

“Ketika seorang pemimpin tidak lagi merasa diawasi oleh Allah, maka batas moral akan bergeser. Yang tersisa hanya kalkulasi kekuatan dan kepentingan,” ujar Rinto.

Menurutnya, kekuasaan tanpa akhlak sering lahir dari kepemimpinan yang terlalu percaya diri pada legitimasi duniawi. Padahal legitimasi formal tidak pernah cukup untuk membenarkan kebijakan yang zalim atau tidak berpihak pada keadilan.

Rinto juga menegaskan bahwa dalam tradisi Islam, pemimpin justru diuji ketika ia memiliki kekuasaan besar apakah semakin takut kepada Allah, atau justru semakin jauh dari-Nya.

Sejarah Islam mencatat bahwa para pemimpin besar justru hidup dalam ketakutan spiritual. Umar bin Khattab RA pernah berkata bahwa jika ada seekor keledai tergelincir di Irak, ia khawatir akan ditanya Allah mengapa tidak memperbaiki jalannya.

Penutup: Menghidupkan Kembali Rasa Hisab

Ketika pemimpin kehilangan rasa takut kepada Allah, masyarakat ikut meniru. Kebohongan dianggap wajar, ketidakadilan dianggap tak terelakkan, dan akhlak publik perlahan runtuh. Kekuasaan tanpa akhlak bukan hanya merusak struktur pemerintahan, tetapi juga mencemari ekosistem moral masyarakat.

Islam mengajarkan bahwa solusi dari kekuasaan tanpa akhlak bukan sekadar reformasi sistem, tetapi kebangkitan kesadaran spiritual. Pemerintahan harus dikembalikan sebagai ladang ibadah, dan kekuasaan harus dijalani dengan rasa takut kepada Allah.

Selama pemimpin masih merasa diawasi oleh Allah, keadilan memiliki peluang untuk hidup. Namun ketika rasa takut itu hilang, sejarah Islam mengingatkan satu kepastian: kekuasaan akan menyimpang, dan kehancuran akan mengikuti.

Share This Article