Budaya Korupsi Struktural, Kemiskinan, dan Ketimpangan Sosial: Dosa Kolektif Negara

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.idSalah satu dampak paling nyata dari budaya korupsi struktural adalah menguatnya kemiskinan dan ketimpangan sosial. Korupsi bukan sekadar kejahatan administrasi atau pelanggaran hukum, tetapi kejahatan sosial yang merampas hak hidup layak jutaan rakyat. Ketika korupsi menjadi sistemik, penderitaan rakyat bukan lagi kecelakaan, melainkan konsekuensi yang disengaja.

Dalam struktur negara yang korup, anggaran publik bocor, kebijakan salah sasaran, dan pembangunan kehilangan ruh keadilan. Rakyat dipaksa berhemat, sementara pejabar menikmati kemewahan dari sumber daya yang seharusnya menjadi milik bersama.

Kemiskinan yang Diproduksi oleh Sistem

Kemiskinan sering dijelaskan sebagai akibat rendahnya pendidikan atau kurangnya etos kerja. Namun penjelasan ini menutup fakta yang lebih pahit: kemiskinan diproduksi oleh sistem yang korup.

Dalam budaya korupsi struktural, anggaran bantuan sosial dipangkas, proyek publik dikorupsi, dan kebijakan ekonomi diarahkan untuk melayani kepentingan segelintir orang. Akibatnya, rakyat bekerja keras dalam sistem yang tidak adil dan tidak pernah benar-benar memberi mereka kesempatan keluar dari kemiskinan.

Allah SWT berfirman:

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan distribusi adalah prinsip utama dalam Islam. Ketika harta negara hanya berputar di lingkaran pejabat, maka yang terjadi adalah pengkhianatan terhadap prinsip ilahiah tersebut.

Ketimpangan sebagai Buah Budaya Korupsi Struktural

Budaya korupsi struktural melahirkan ketimpangan yang tajam. Yang dekat dengan kekuasaan menikmati akses, proyek, dan perlindungan hukum. Yang jauh dari kekuasaan menghadapi mahalnya pendidikan, sulitnya pelayanan kesehatan, dan sempitnya lapangan kerja.

Ketimpangan ini bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi kerusakan moral negara. Negara gagal menjalankan fungsi keadilannya dan berubah menjadi alat akumulasi kekayaan kelompok tertentu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah seorang mukmin yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Thabrani)

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam memandang ketimpangan sebagai masalah iman dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar statistik ekonomi.

Partai X: Ketimpangan adalah Akibat Kebijakan Korup

Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menegaskan bahwa kemiskinan dan ketimpangan hari ini tidak bisa dilepaskan dari budaya korupsi struktural dalam pengambilan kebijakan. 

Menurutnya, banyak kebijakan ekonomi dirancang tanpa keberpihakan pada rakyat, karena sejak awal sudah dibajak oleh kepentingan penguasa.

Rinto menilai bahwa selama korupsi masih menjadi “ongkos” pejabat dan kekuasaan, maka kemiskinan akan terus dipelihara secara tidak langsung. Negara tampak hadir melalui bantuan sesaat, tetapi absen dalam membangun sistem yang adil dan berkelanjutan. Ini yang membuat ketimpangan terasa permanen.

Korupsi sebagai Dosa Kolektif Sosial

Dalam Islam, dosa tidak selalu bersifat individual. Ketika kezaliman dibiarkan dan dinormalisasi, ia berubah menjadi dosa kolektif. Budaya korupsi struktural yang melahirkan kemiskinan adalah bentuk kezaliman sosial yang dampaknya luas dan panjang.

Allah SWT mengingatkan:

“Dan takutlah kamu terhadap azab yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfal: 25)

Ayat ini menegaskan bahwa pembiaran terhadap kezaliman, termasuk korupsi sistemik, dapat mendatangkan azab sosial yang menimpa seluruh bangsa.

Menyelamatkan Negara dari Kerusakan Sosial

Memerangi budaya korupsi struktural berarti menyelamatkan rakyat dari kemiskinan yang disengaja. Negara harus kembali pada prinsip amanah, keadilan, dan keberpihakan kepada yang lemah.

Islam tidak mengajarkan negara yang kuat di atas penderitaan rakyat, tetapi negara yang adil meski harus membatasi kepentingan pejabat. Selama korupsi masih menjadi fondasi kebijakan, selama itu pula kemiskinan akan terus diwariskan.

Kemiskinan dan ketimpangan bukan takdir, tetapi hasil pilihan. Dan dalam Islam, setiap pilihan yang melahirkan kezaliman akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Share This Article