muslimx.id– Menuju Indonesia Emas sejatinya adalah pilihan kolektif: membangun kesadaran bersama atau membiarkan bangsa berjalan menuju kehancuran perlahan.
Setiap bangsa selalu berada di persimpangan sejarah. Indonesia hari ini pun demikian. Di satu sisi, jargon Indonesia Emas digelorakan sebagai visi masa depan yang optimistis. Di sisi lain, berbagai krisis moral, pemerintahan, dan sosial terus menggerogoti fondasi kebangsaan. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia akan maju, tetapi ke arah mana Indonesia sedang bergerak.
Menuju Indonesia Emas Bukan Sekadar Target Waktu
Indonesia Emas sering dipahami sebagai target demografis dan ekonomi pada tahun tertentu. Namun Islam mengajarkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh angka dan kalender, melainkan oleh kualitas iman, keadilan, dan amanah.
Allah SWT berfirman:
“Dan itulah negeri-negeri yang Kami binasakan ketika penduduknya berbuat zalim.” (QS. Al-Kahfi: 59)
Ayat ini menegaskan bahwa kehancuran bangsa bukan soal usia atau keterlambatan pembangunan, tetapi akibat kezaliman yang dibiarkan dan dinormalisasi. Jika kezaliman struktural terus berlangsung, maka Indonesia Emas hanya akan menjadi ilusi yang menunda kehancuran.
Kesadaran Kolektif sebagai Penentu Arah Bangsa
Islam tidak mengenal keselamatan individual dalam urusan sosial. Ketika ketidakadilan dibiarkan, dosanya bersifat kolektif. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika manusia melihat kemungkaran lalu mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka semuanya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini relevan untuk membaca arah Indonesia Emas. Bangsa yang rakyatnya sadar, kritis, dan berani akan memiliki daya tahan moral. Sebaliknya, bangsa yang rakyatnya lelah, takut, dan apatis sedang berjalan menuju kehancuran yang tertunda.
Kesadaran kolektif bukan berarti gaduh, tetapi keberanian bersama untuk menjaga kebenaran dan keadilan.
Partai X: Indonesia Emas Ditentukan oleh Keberanian Rakyat
Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh penguasa semata, tetapi oleh keberanian rakyat menjaga arah bangsa. Menurutnya, Indonesia Emas hanya akan menjadi slogan jika rakyat terus dijauhkan dari proses pengambilan keputusan.
Rinto menilai bahwa bahaya terbesar bangsa ini bukan konflik terbuka, melainkan keheningan sosial. Ketika rakyat memilih diam demi kenyamanan sesaat, kekuasaan akan kehilangan koreksi. Dalam situasi itu, kesalahan kecil berkembang menjadi krisis besar yang sulit dibendung.
Baginya, Indonesia tidak kekurangan visi, tetapi kekurangan keberanian kolektif untuk memastikan visi itu dijalankan secara adil dan jujur.
Islam dan Peringatan atas Bangsa yang Lalai
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa kelalaian sosial adalah awal kehancuran. Allah SWT berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan bangsa adalah hasil pilihan manusia sendiri. Jika korupsi dibiarkan, kritik dibungkam, dan keadilan dikorbankan demi stabilitas semu, maka arah Indonesia Emas akan bergeser menjadi arah Indonesia bubar secara perlahan.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menunggu perubahan dari atas. Setiap individu memiliki peran dalam menjaga arah bangsa:
- Meningkatkan kesadaran dan moral
- Berani menyuarakan kebenaran secara beradab
- Tidak menormalisasi kezaliman dan ketidakadilan
- Terlibat aktif mengawal kebijakan publik
Penutup: Indonesia Emas atau Indonesia Bubar
Arah Indonesia Emas tidak akan ditentukan oleh pidato, baliho, atau slogan besar. Ia ditentukan oleh kesadaran kolektif rakyatnya: apakah memilih menjadi penjaga negeri atau penonton sejarah.
Islam mengajarkan bahwa bangsa yang selamat adalah bangsa yang menjaga keadilan dan amanah bersama. Jika kesadaran itu hidup, Indonesia Emas bukan mimpi. Namun jika rakyat terus dibungkam dan memilih diam, maka kehancuran bukan soal kemungkinan, melainkan soal waktu.
Sejarah sedang menunggu jawaban kita: menjaga arah Indonesia Emas, atau membiarkannya berubah menjadi Indonesia bubar.