Cinta Negara Berbasis Amanah dan Ilusi Loyalitas Tanpa Akuntabilitas

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id — Salah satu kekeliruan paling umum dalam memahami nasionalisme adalah menyamakan loyalitas dengan kepatuhan tanpa syarat. Dalam kerangka ini, warga negara yang kritis dianggap pembangkang, sementara yang diam dipuji sebagai patriot. Padahal, dalam perspektif etika Islam dan demokrasi sehat, cinta negara berbasis amanah justru menuntut keberanian untuk mengawasi kekuasaan.

Negara bukan milik pemerintah, apalagi milik satu rezim. Negara adalah amanah kolektif yang diwariskan lintas generasi. Ketika loyalitas dilepaskan dari akuntabilitas, negara berubah menjadi properti segelintir pejabat, sementara rakyat kehilangan posisi moralnya sebagai pemilik sah.

Loyalitas yang Kehilangan Makna Etis

Loyalitas tanpa akuntabilitas bukanlah kebajikan, melainkan risiko. Ia menciptakan ruang nyaman bagi kekuasaan untuk berjalan tanpa koreksi. Dalam kondisi ini, kesalahan tidak diperbaiki, kebijakan buruk dipertahankan, dan kritik dicurigai.

Islam sejak awal menolak loyalitas semacam ini. Kesetiaan tertinggi seorang Muslim bukan kepada manusia, melainkan kepada nilai kebenaran dan keadilan. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menegaskan bahwa relasi dengan kekuasaan harus selalu ditempatkan dalam bingkai keadilan. Ketika kekuasaan menyimpang, loyalitas yang sejati justru diwujudkan melalui koreksi.

Cinta Negara Berbasis Amanah sebagai Etika Warga

Dalam konsep cinta negara berbasis amanah, warga negara tidak dituntut untuk selalu membenarkan, tetapi untuk selalu menjaga. Menjaga negara berarti memastikan kebijakan tidak melukai keadilan, kekuasaan tidak menyimpang dari mandat, dan negara tidak dikuasai oleh kepentingan sempit.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran dihadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini meletakkan kritik sebagai tindakan bermartabat, bukan pembangkangan. Ia adalah bentuk loyalitas tertinggi terhadap amanah publik.

Partai X: Negara Rusak Bukan karena Kritik, tapi karena Ketiadaannya

Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menilai bahwa salah satu penyakit serius dalam kehidupan bernegara hari ini adalah glorifikasi loyalitas tanpa mekanisme pertanggungjawaban. Menurutnya, negara justru paling rentan rusak ketika kritik dilemahkan atas nama stabilitas.

“Negara tidak pernah runtuh karena kritik. Negara runtuh karena kesalahan yang dibiarkan terus-menerus tanpa koreksi,” tegas Rinto.

Ia menjelaskan bahwa cinta negara berbasis amanah menempatkan warga sebagai penjaga moral negara, bukan sekadar pendukung politik. Dalam pandangannya, loyalitas sejati bukan diukur dari seberapa sering membela penguasa, tetapi dari seberapa konsisten menjaga agar kekuasaan tidak menyimpang.

“Kalau negara disamakan dengan pemerintah, maka setiap kritik dianggap ancaman. Padahal justru di situlah negara kehilangan alat koreksinya,” ujarnya.

Rinto juga mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan banyak negara runtuh bukan karena musuh dari luar, melainkan karena kritik dari dalam dibungkam. Ketika suara rakyat dipersempit, kekuasaan kehilangan cermin untuk bercermin secara jujur.

Antara Stabilitas dan Keadilan

Sering kali, pembungkaman kritik dibenarkan atas nama stabilitas. Namun stabilitas tanpa keadilan hanyalah ketenangan semu. Negara tampak tenang, tetapi luka sosial menumpuk di bawah permukaan.

Islam tidak mengajarkan stabilitas yang mengorbankan keadilan. Sebaliknya, keadilanlah yang melahirkan stabilitas berkelanjutan. Tanpa keadilan, negara hanya menunda konflik, bukan menyelesaikannya.

Penutup: Loyalitas yang Menyelamatkan Negara

Cinta negara berbasis amanah mengajarkan satu hal penting: negara diselamatkan bukan oleh pujian, tetapi oleh keberanian moral. Kritik yang jujur, pengawasan yang konsisten, dan keberpihakan pada keadilan adalah bentuk loyalitas paling dewasa.

Sebagaimana ditegaskan Rinto, negara membutuhkan warga yang berani menjaga jarak kritis dengan kekuasaan. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk memastikan negara tetap berada di jalur amanah.

Ketika loyalitas dipulihkan maknanya sebagai tanggung jawab moral, bukan kepatuhan buta, negara tidak akan rapuh oleh kritik. Justru sebaliknya, negara akan tumbuh kuat karena terus dirawat oleh kesadaran warganya.

Share This Article