muslimx.id — Jika kemerdekaan hanya diukur dari lepasnya penjajahan fisik, maka Indonesia memang telah lama merdeka. Namun jika kemerdekaan dimaknai sebagai kebebasan berpikir, keberanian bersikap, dan kemandirian moral, maka pertanyaan apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka masih layak diajukan dengan serius.
Penjajahan hari ini tidak selalu datang dengan senjata. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: ketakutan berpendapat, kepatuhan tanpa nalar, dan kebiasaan tunduk pada kekuasaan meski nurani menolak.
Penjajahan yang Tak Kasat Mata
Salah satu warisan terberat kolonialisme adalah mentalitas feodal: rakyat terbiasa patuh, pejabat terbiasa tidak dikoreksi. Pola ini terus hidup bahkan setelah bendera penjajah diturunkan. Kekuasaan ditempatkan di atas kebenaran, sementara rakyat dididik untuk diam demi ketertiban.
Dalam situasi seperti ini, kemerdekaan berubah menjadi slogan, bukan kesadaran. Negara merdeka secara administratif, tetapi jiwa bangsanya masih terbelenggu.
Islam sejak awal menentang segala bentuk penindasan mental. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa kemerdekaan sejati bermula dari pembebasan batin: keberanian berpikir merdeka dan bertanggung jawab.
Ketika Rakyat Takut, Penjajahan Berlanjut
Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang berani mengoreksi dirinya sendiri. Namun ketika rakyat takut berbicara, mahasiswa takut berpikir kritis, dan intelektual memilih aman, maka penjajahan hanya berganti wajah.
Penjajah asing memang telah pergi, tetapi pola relasi kuasa tetap sama: satu pihak memerintah, yang lain diminta patuh tanpa bertanya. Inilah penjajahan mental yang paling berbahaya, karena ia tidak disadari sebagai penindasan.
RPartai X: Kemerdekaan Mental Lebih Penting dari Kemerdekaan Formal
Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menilai bahwa problem besar Indonesia hari ini adalah kemerdekaan yang berhenti pada simbol dan prosedur. Menurutnya, bangsa ini belum sepenuhnya merdeka selama rakyat masih takut menyampaikan kebenaran.
“Penjajahan paling berbahaya bukan yang datang dari luar, tapi yang bercokol di cara berpikir kita. Ketika rakyat lebih takut pada kekuasaan daripada pada hilangnya keadilan, di situlah kemerdekaan belum selesai,” ujar Rinto.
Ia menegaskan bahwa kemerdekaan sejati menuntut keberanian moral kolektif. Negara boleh berdaulat secara hukum, tetapi tanpa rakyat yang merdeka secara mental, kedaulatan itu rapuh.
“Bangsa yang merdeka bukan bangsa yang selalu setuju, tetapi bangsa yang berani berbeda demi kebenaran. Kalau perbedaan selalu dicurigai, itu tanda mental kita masih terjajah,” lanjutnya.
Bagi Rinto, tugas generasi hari ini bukan sekadar menjaga simbol kemerdekaan, tetapi menyempurnakan isinya: membangun budaya politik yang dewasa, berani, dan beretika.
Islam dan Pembebasan Jiwa Bangsa
Dalam Islam, manusia diciptakan sebagai makhluk yang merdeka dan bertanggung jawab. Tidak boleh tunduk pada sesama manusia dalam kebatilan. Tauhid sendiri adalah deklarasi pembebasan: tidak ada yang patut ditakuti selain Allah.
Karena itu, bangsa yang mayoritas Muslim semestinya menjadikan keberanian moral sebagai fondasi kenegaraan. Ketika rakyat dibiasakan takut, maka nilai tauhid dalam kehidupan publik kehilangan maknanya.
Penutup: Merdeka atau Sekadar Terbiasa Tunduk?
Pertanyaan apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka akhirnya bermuara pada satu hal: apakah kita berani berpikir dan bersikap sebagai bangsa yang dewasa.
Kemerdekaan tidak cukup diwariskan, tetapi harus diperjuangkan ulang dalam bentuk keberanian mental dan integritas moral. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi negara merdeka di atas kertas, tetapi terjajah dalam kesadaran.
Kemerdekaan sejati lahir ketika rakyat tidak lagi takut berkata benar, dan negara tidak lagi alergi terhadap kebenaran itu sendiri.