Bahaya Praktik Uang bagi Masa Depan Bangsa dan Generasi Muda

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id — Jika praktik uang terus dinormalisasi, dampaknya tidak berhenti pada satu periode kekuasaan. Ia membentuk mentalitas generasi berikutnya. Inilah dimensi jangka panjang dari bahaya praktik uang merusak masa depan bangsa secara perlahan namun sistematis.

Anak muda yang tumbuh dalam budaya praktik transaksional akan menganggap kekuasaan sebagai alat mencari keuntungan, bukan sarana pengabdian. Demokrasi kehilangan nilai idealismenya.

Normalisasi yang Menggerus Idealisme

Generasi muda belajar dari apa yang mereka lihat. Jika setiap pemilu identik dengan pembagian uang atau bantuan sesaat, maka pesan yang tertanam adalah: kekuasaan bisa dibeli.

Padahal Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah berat. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa jabatan adalah tanggung jawab yang kelak dipertanggungjawabkan di akhirat.

Bahaya praktik uang membuat makna amanah bergeser menjadi peluang. Jika sejak awal prosesnya sudah transaksional, maka idealisme akan sulit tumbuh.

Demokrasi Tanpa Integritas

Praktik uang bukan sekadar pelanggaran hukum teknis. Ia merusak integritas sistem. Ketika biaya kekuasaan tinggi, akses kepemimpinan hanya terbuka bagi mereka yang memiliki modal besar.

Akibatnya: ruang kompetisi gagasan menyempit, meritokrasi tergeser oleh kekuatan finansial, kebijakan berpotensi dipengaruhi kepentingan sponsor.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan sosial lahir dari perbuatan manusia sendiri:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Bahaya praktik uang adalah salah satu bentuk kerusakan modern yang bersumber dari pilihan manusia.

Generasi yang Kehilangan Keteladanan

Ketika pemimpin terpilih karena transaksi, generasi muda kehilangan figur keteladanan yang murni. Mereka melihat kekuasaan sebagai hasil modal, bukan hasil integritas dan kapasitas.

Dalam jangka panjang, ini menciptakan siklus: pemilih transaksional, kandidat transaksional, kebijakan transaksional. Siklus ini sulit diputus tanpa kesadaran kolektif.

Peran Pendidikan dan Literasi Politik

Solusi terhadap bahaya suap tidak cukup dengan penegakan hukum. Ia membutuhkan pendidikan politik yang berkelanjutan.

Literasi publik harus ditingkatkan agar masyarakat memahami: dampak jangka panjang pilihan, bahaya transaksi suara, pentingnya integritas proses.

Islam mendorong umatnya menggunakan akal dan ilmu dalam mengambil keputusan. Pilihan tanpa pertimbangan adalah bentuk kelalaian.

Partai X: Menanggapi Bahaya Praktik Uang 

Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa praktik uang adalah hambatan serius bagi pembangunan peradaban.

“Kalau kita ingin bangsa maju, proses politiknya harus bermartabat. Praktik uang membuat standar kepemimpinan turun sejak awal,” ujarnya.

Menurutnya, bahaya suap tidak hanya merugikan hari ini, tetapi menggerus kualitas generasi mendatang.

Anak muda melihat contoh. Kalau yang ditonjolkan adalah transaksi, maka nilai yang tumbuh adalah pragmatisme, bukan idealisme. Pendidikan literasi harus menjadi agenda serius untuk memutus rantai budaya transaksional.

Penutup: Menjaga Masa Depan dari Sekarang

Bangsa yang besar tidak dibangun dengan transaksi, tetapi dengan integritas. Praktik uang mungkin memberi keuntungan sesaat, tetapi meninggalkan kerugian jangka panjang.

Bahaya praktik uang adalah ketika masyarakat berhenti memikirkan masa depan dan hanya fokus pada manfaat instan.

Jika generasi hari ini berani menolak transaksi, maka generasi berikutnya akan mewarisi sistem yang lebih bersih. Karena masa depan bangsa ditentukan bukan hanya oleh siapa yang memimpin, tetapi oleh bagaimana mereka dipilih.

Share This Article