muslimx.id — Ketimpangan ekonomi tidak hanya terlihat pada perbedaan pendapatan atau kepemilikan aset, tetapi juga pada akses terhadap pelayanan kesehatan. Ketika kualitas kesehatan ditentukan oleh kemampuan membayar, maka yang terjadi bukan sekadar perbedaan fasilitas, melainkan perbedaan peluang hidup. Di sinilah ancaman ketimpangan ekonomi menjadi persoalan kemanusiaan.
Kesehatan adalah kebutuhan dasar. Jika aksesnya timpang, maka ketimpangan tidak lagi hanya soal ekonomi tetapi soal keselamatan dan martabat manusia.
Layanan Kesehatan: Hak atau Privilege?
Dalam sistem yang tidak merata, kelompok berpenghasilan tinggi dapat menikmati rumah sakit modern, dokter spesialis terbaik, dan layanan cepat. Sementara kelompok berpenghasilan rendah harus menghadapi antrian panjang, fasilitas terbatas, bahkan risiko keterlambatan penanganan.
Ketimpangan ini tampak dalam: perbedaan kualitas rumah sakit kota dan daerah, akses obat dan teknologi medis, biaya perawatan yang memberatkan, ketergantungan pada jaminan sosial dengan keterbatasan layanan.
Ancaman ketimpangan ekonomi menjadi nyata ketika kondisi sakit dapat mendorong keluarga miskin semakin terjerumus dalam kemiskinan.
Kemiskinan Akibat Biaya Kesehatan
Tidak sedikit keluarga yang jatuh miskin karena biaya pengobatan. Penyakit yang seharusnya bisa ditangani menjadi beban finansial berkepanjangan. Ketika biaya kesehatan tinggi, tabungan habis, aset dijual, dan utang meningkat.
Siklus ini memperlebar jurang sosial: yang kaya tetap terlindungi, yang miskin semakin rentan.
Dalam Islam, menjaga jiwa (hifdz an-nafs) termasuk salah satu tujuan utama syariah (maqashid syariah). Artinya, akses terhadap kesehatan adalah bagian dari tanggung jawab sosial dan negara.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjaga kehidupan:
“…dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)
Ayat ini memberi pesan bahwa keselamatan jiwa adalah prioritas. Ketimpangan dalam pelayanan kesehatan bertentangan dengan prinsip tersebut.
Ketimpangan Wilayah dalam Infrastruktur Kesehatan
Di kota besar, fasilitas medis relatif lengkap. Namun di banyak wilayah terpencil, akses terhadap dokter spesialis atau peralatan medis modern masih terbatas.
Ketimpangan wilayah menciptakan: risiko kematian yang lebih tinggi, keterlambatan diagnosis, biaya transportasi tambahan, ketergantungan pada pusat kota.
Ancaman ketimpangan ekonomi semakin terasa ketika kualitas hidup seseorang ditentukan oleh lokasi geografisnya.
Layanan kesehatan yang timpang dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap sistem. Ketika masyarakat merasa tidak mendapat perlindungan dasar, legitimasi kebijakan ikut melemah.
Bangsa yang stabil adalah bangsa yang mampu menjamin kebutuhan dasar warganya. Kesehatan bukan sekadar layanan, tetapi fondasi produktivitas dan kesejahteraan.
Partai X: Ketimpangan dalam Pelayanan Kesehatan
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa ketimpangan dalam pelayanan kesehatan adalah indikator serius masalah struktural ekonomi.
“Kalau akses kesehatan masih ditentukan kemampuan bayar, berarti ketimpangan kita belum selesai,” ujarnya.
Menurutnya, ancaman ketimpangan ekonomi harus dilihat dari seberapa merata layanan dasar diberikan kepada masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi tidak berarti apa-apa jika kelompok rentan tetap kesulitan mengakses pengobatan. Negara harus memastikan perlindungan dasar itu nyata,” tegas Prayogi.
Ia menambahkan bahwa pemerataan pelayanan kesehatan adalah investasi jangka panjang untuk stabilitas dan produktivitas nasional.
Penutup: Menjaga Kehidupan, Menjaga Stabilitas
Ketimpangan ekonomi menjadi ancaman serius ketika menyentuh aspek paling dasar: kesehatan dan keselamatan jiwa. Jika akses kesehatan timpang, maka ketidakadilan tidak lagi bersifat abstrak ia terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Ancaman ketimpangan ekonomi dapat dikurangi dengan memastikan layanan kesehatan yang adil, merata, dan terjangkau.
Karena bangsa yang kuat bukan hanya yang kaya secara angka, tetapi yang mampu melindungi setiap warganya tanpa kecuali.