Dari Vahdat Hall, Sekolah Negarawan Membaca Makna Rahmat Nabi Muhammad ﷺ sebagai Jalan Persatuan

muslimX
By muslimX
7 Min Read

muslimx.id — Persatuan tidak selalu lahir dari kesamaan. Dalam banyak keadaan, persatuan justru tumbuh ketika manusia mampu menerima perbedaan dengan sikap saling menghormati. Gagasan tersebut terasa dalam acara Riwayat-e Rahmat yang digelar di Vahdat Hall, Teheran, Iran, pada 29 Agustus 2026. Acara tersebut menjadi bagian dari peringatan 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ sekaligus ruang perjumpaan antara agama, kebudayaan, seni, dan gagasan tentang kehidupan bersama.

Delegasi Sekolah Negarawan hadir dalam acara tersebut. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, hadir bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur Cooperation and International Relations Abdullah Assegaf. Kehadiran mereka menjadi bagian dari rangkaian perjalanan Sekolah Negarawan di Iran yang sebelumnya telah mempertemukan delegasi dengan berbagai institusi pendidikan, kebudayaan, teknologi, keagamaan, dan forum internasional.

Rahmat sebagai Pesan Universal

Tema rahmat menjadi benang merah dalam perhelatan tersebut. Nabi Muhammad ﷺ dikenal dalam Al-Qur’an sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Makna tersebut memberikan ruang pemahaman yang luas mengenai keteladanan Rasulullah ﷺ, bukan hanya dalam hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga dalam hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya.

Rahmat membawa pesan bahwa manusia tidak seharusnya diperlakukan hanya berdasarkan identitas kelompok, bangsa, latar belakang, ataupun perbedaan pandangan. Ada martabat manusia yang harus dihormati. Dalam konteks kehidupan bersama, nilai tersebut menjadi penting karena masyarakat selalu terdiri atas berbagai perbedaan.

Persoalannya bukan bagaimana menghilangkan perbedaan, melainkan bagaimana memastikan perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Dari sinilah rahmat dapat menjadi salah satu fondasi bagi persatuan.

Nabi Muhammad ﷺ dan Jalan Persatuan

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi dalam acara tersebut menyampaikan pandangan mengenai Nabi Muhammad ﷺ sebagai penyeru persatuan. Ia juga menegaskan bahwa persatuan dunia Islam merupakan salah satu prinsip penting dalam politik luar negeri Republik Islam Iran.

Gagasan tersebut menarik ketika ditempatkan dalam konteks dunia Islam yang terdiri atas berbagai bangsa, negara, tradisi, dan latar belakang sosial. Kesatuan umat tidak berarti seluruh masyarakat Muslim harus memiliki bentuk kebudayaan atau kehidupan politik yang identik. Perbedaan merupakan bagian dari kenyataan sejarah umat manusia.

Karena itu, persatuan membutuhkan kemampuan untuk menemukan titik temu tanpa harus menghapus seluruh perbedaan. Dalam konteks inilah keteladanan Nabi Muhammad ﷺ menjadi relevan untuk terus dipelajari. Persatuan membutuhkan akhlak, sementara akhlak membutuhkan kemampuan untuk memperlakukan manusia dengan penghormatan dan kasih sayang.

Rahmat dalam Kepemimpinan

Bagi Sekolah Negarawan, pembicaraan mengenai rahmat memiliki hubungan erat dengan pendidikan kepemimpinan. Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membuat keputusan atau mengelola institusi. Kepemimpinan juga berkaitan dengan bagaimana kekuasaan digunakan untuk memperlakukan manusia.

Seorang pemimpin berhadapan dengan masyarakat yang memiliki kepentingan dan karakter berbeda. Karena itu, kemampuan mendengar, memahami, menghormati, dan menjaga martabat masyarakat menjadi bagian penting dari kepemimpinan.

Dalam perspektif tersebut, rahmat bukan sekadar perasaan belas kasih. Ia dapat menjadi prinsip dalam menjalankan kekuasaan. Kekuasaan yang kehilangan rahmat berisiko berubah menjadi sekadar mekanisme memerintah, sementara kepemimpinan yang memiliki rahmat menempatkan manusia sebagai tujuan pelayanan.

Nilai tersebut memiliki relevansi bagi pendidikan para calon negarawan. Negara pada akhirnya bukan hanya tentang konstitusi, birokrasi, gedung pemerintahan, dan kebijakan publik. Negara juga tentang manusia yang kehidupannya dipengaruhi oleh setiap keputusan yang dibuat oleh para pemegang kekuasaan.

Keteladanan yang Dihidupkan melalui Kebudayaan

Pesan mengenai rahmat dalam acara Riwayat-e Rahmat juga tidak hanya disampaikan melalui forum keagamaan. Seni menjadi salah satu medium untuk menghadirkan kembali kisah dan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ kepada masyarakat.

Sutradara Majid Majidi menjadi salah satu tokoh yang membawa pendekatan tersebut melalui sinema. Film dipandang sebagai medium yang memiliki kemampuan menyampaikan kisah dan nilai kepada masyarakat dengan cara yang berbeda dari ceramah maupun buku.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pesan keagamaan dapat berinteraksi dengan kebudayaan. Nilai-nilai tentang kasih sayang, kemanusiaan, persatuan, dan keteladanan dapat disampaikan melalui berbagai bentuk kreativitas tanpa kehilangan pesan utamanya.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa pembangunan peradaban juga membutuhkan kebudayaan. Gagasan yang besar membutuhkan medium agar dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, pendidikan, seni, literasi, dan kebudayaan memiliki peran penting dalam menjaga nilai sebuah masyarakat.

Dari Rahmat Menuju Persatuan

Jika persatuan hanya dibangun melalui kepentingan politik, ia dapat mudah berubah ketika kepentingan tersebut berubah. Namun ketika persatuan dibangun melalui nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap sesama, ia memiliki fondasi yang lebih dalam.

Rahmat memberikan perspektif bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru dalam masyarakat yang beragam, kemampuan untuk menghormati manusia yang berbeda menjadi ukuran penting dari kedewasaan sosial.

Pesan tersebut memiliki relevansi bagi dunia Islam hari ini. Umat Islam hidup dalam berbagai negara dengan sistem politik, budaya, dan pengalaman sejarah yang berbeda. Mereka juga menghadapi persoalan yang semakin kompleks, mulai dari konflik identitas hingga perubahan teknologi dan tantangan ekonomi.

Karena itu, persatuan membutuhkan lebih dari sekadar seruan. Ia membutuhkan kerja sama nyata, dialog, pendidikan, pertukaran pengetahuan, dan kemampuan untuk membangun hubungan yang sehat di tengah perbedaan.

Pelajaran dari Vahdat Hall

Bagi delegasi Sekolah Negarawan, kehadiran di Vahdat Hall menjadi bagian lain dari perjalanan untuk memahami Iran sekaligus melihat bagaimana nilai-nilai Islam diterjemahkan dalam ruang kebudayaan dan hubungan antarbangsa.

Setelah sebelumnya mengikuti konferensi Islamic Unity di Teheran, kunjungan ke berbagai institusi di Isfahan, serta membangun hubungan akademik dengan sejumlah lembaga, acara Riwayat-e Rahmat memberikan dimensi yang berbeda. Kali ini, pembicaraan tentang persatuan ditempatkan dalam kerangka keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dan nilai rahmat.

Dari pengalaman tersebut, satu gagasan menjadi semakin jelas: persatuan tidak cukup dibangun dengan mempertemukan manusia dalam satu ruangan. Persatuan membutuhkan nilai yang membuat manusia mampu tetap berjalan bersama meskipun memiliki perbedaan.

Dan dalam pesan Nabi Muhammad ﷺ tentang rahmat, terdapat salah satu dasar penting untuk membangun kehidupan bersama: melihat manusia dengan kasih sayang, menjaga martabatnya, menghormati perbedaannya, serta menjadikan persatuan bukan sekadar slogan, tetapi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.

Dari Vahdat Hall, Teheran, Sekolah Negarawan membawa pulang satu pelajaran bahwa rahmat bukan hanya pesan tentang bagaimana manusia mencintai Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga tentang bagaimana manusia meneladani beliau dalam membangun persaudaraan, persatuan, dan kehidupan bersama.

Share This Article