muslimx.id— Apa yang boleh dilakukan manusia ketika perang terjadi? Pertanyaan tersebut mungkin terdengar seperti persoalan yang sangat modern, terutama ketika dunia masih menghadapi berbagai konflik dan penderitaan kemanusiaan. Namun dalam acara Riwayat-e Rahmat di Vahdat Hall, Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengingatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan prinsip-prinsip moral mengenai peperangan lebih dari 14 abad lalu.
Acara tersebut berlangsung dalam rangka memperingati 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dan dihadiri oleh tokoh pemerintahan, ulama, akademisi, seniman, serta perwakilan dari berbagai negara sahabat. Delegasi Sekolah Negarawan dari Indonesia turut hadir dalam kegiatan tersebut. Delegasi dipimpin Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur Cooperation and International Relations Abdullah Assegaf.

Ketika Perang Tetap Memiliki Batas
Dalam penyampaiannya, Araghchi menyoroti sejumlah prinsip yang dikaitkan dengan ajaran Nabi Muhammad ﷺ mengenai perlakuan terhadap manusia dan lingkungan ketika peperangan berlangsung. Anak-anak tidak boleh menjadi sasaran kekerasan, sementara orang lanjut usia juga harus mendapatkan perlindungan. Prinsip tersebut menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi perang sekalipun terdapat batas moral yang tidak boleh dilampaui.
Perlindungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan manusia. Hewan juga tidak boleh disakiti secara sembarangan, pepohonan tidak boleh dirusak tanpa alasan, dan sumber air harus dijaga dari tindakan yang dapat menimbulkan kerusakan. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa ajaran Nabi Muhammad ﷺ mengenai peperangan memiliki perhatian terhadap kehidupan secara lebih luas. Kekuatan yang digunakan dalam konflik tetap harus berada dalam kendali nilai dan tanggung jawab.
Dalam perspektif tersebut, perang tidak dapat dipahami sebagai keadaan ketika seluruh aturan moral berhenti berlaku. Justru ketika manusia berada dalam situasi ekstrem, kemampuan menjaga batas menjadi semakin penting. Semakin besar kekuatan yang dimiliki seseorang atau sebuah kelompok, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan kekuatan tersebut tidak digunakan secara sewenang-wenang.
Rahmat Ketika Manusia Memiliki Kekuatan
Pesan tersebut memiliki hubungan erat dengan tema utama Riwayat-e Rahmat. Rahmat tidak hanya diuji ketika manusia berada dalam keadaan damai dan memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Makna rahmat justru menjadi semakin penting ketika seseorang memiliki kekuatan untuk menentukan nasib pihak lain.
Dalam keadaan seperti itu, muncul pertanyaan mendasar mengenai bagaimana kekuatan digunakan. Apakah kekuatan menjadi alasan untuk melakukan tindakan tanpa batas, atau tetap dikendalikan oleh prinsip kemanusiaan dan keadilan. Ajaran Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana disampaikan dalam forum tersebut memberikan perspektif bahwa kekuatan tidak pernah terlepas dari tanggung jawab moral.
Bagi pendidikan kenegarawanan, gagasan tersebut memiliki makna yang penting. Kepemimpinan tidak hanya membutuhkan keberanian untuk menghadapi ancaman, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri ketika memiliki kekuasaan. Pemimpin yang kuat bukan hanya mereka yang mampu mencapai tujuan, tetapi juga mereka yang mampu menjaga manusia agar tidak menjadi korban dari penggunaan kekuatan yang berlebihan.
Pesan Lama dan Persoalan Dunia Modern
Araghchi kemudian menghubungkan prinsip-prinsip tersebut dengan persoalan dunia modern. Berbagai aturan internasional pada masa kini juga memberikan perhatian terhadap perlindungan masyarakat sipil, kelompok rentan, serta pembatasan tindakan dalam peperangan. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa persoalan mengenai batas moral kekerasan telah menjadi perhatian umat manusia selama berabad-abad.
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan ketika konflik modern masih menimbulkan penderitaan bagi masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam peperangan. Araghchi mengaitkan persoalan tersebut dengan kondisi masyarakat di Gaza, tempat anak-anak dan warga sipil menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap dampak konflik. Dalam situasi seperti itu, pesan mengenai perlindungan manusia kembali menjadi persoalan kemanusiaan yang mendasar.
Anak-anak, orang lanjut usia, serta masyarakat sipil pada dasarnya memiliki keterbatasan untuk menentukan jalannya sebuah konflik. Karena itu, perlindungan terhadap mereka menjadi salah satu ukuran penting mengenai sejauh mana manusia masih mampu mempertahankan nilai kemanusiaannya di tengah peperangan. Pesan Nabi Muhammad ﷺ mengenai perlindungan terhadap kelompok rentan mendapatkan relevansi ketika dunia kembali menghadapi persoalan tersebut.
Islam sebagai Agama Rahmat dan Kemanusiaan
Sutradara Majid Majidi yang hadir dalam acara yang sama juga membawa pembahasan Nabi Muhammad ﷺ ke dalam perspektif kebudayaan dan kemanusiaan. Menurut Majidi, Islam yang sebenarnya merupakan agama rahmat, keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pesan mengenai perlindungan manusia dalam peperangan merupakan bagian dari nilai Islam yang lebih luas.
Rahmat dalam Islam tidak hanya berarti memberikan kasih sayang kepada orang yang berada dalam lingkungan sendiri. Rahmat juga menuntut manusia untuk menjaga martabat kehidupan ketika menghadapi pihak yang berbeda atau bahkan ketika berada dalam situasi konflik. Karena itu, kekuatan tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan.
Perspektif tersebut juga menunjukkan bahwa ajaran Nabi Muhammad ﷺ dapat terus dibaca dalam konteks kehidupan modern. Nilai yang disampaikan lebih dari 14 abad lalu tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi dapat menjadi bahan refleksi ketika manusia menghadapi persoalan kemanusiaan yang masih terjadi hingga sekarang.
Pelajaran bagi Pendidikan Kenegarawanan
Bagi delegasi Sekolah Negarawan, pembahasan mengenai batas moral perang memberikan pelajaran yang lebih luas mengenai kepemimpinan. Pendidikan kenegarawanan tidak hanya berbicara mengenai bagaimana seorang pemimpin memperoleh kemampuan untuk mengambil keputusan, tetapi juga bagaimana keputusan tersebut tetap berada dalam koridor moral. Kekuasaan membutuhkan batas karena setiap keputusan yang diambil dapat memberikan dampak langsung terhadap kehidupan manusia.
Seorang pemimpin dapat menghadapi keadaan ketika kepentingan keamanan, keselamatan, dan ketertiban membutuhkan tindakan yang tegas. Namun ketegasan tidak berarti menghilangkan kemanusiaan. Justru dalam keadaan paling sulit, seorang pemimpin dituntut untuk tetap mampu membedakan antara tindakan yang diperlukan dan tindakan yang melampaui batas.
Dari perspektif tersebut, keteladanan Nabi Muhammad ﷺ memberikan pelajaran bahwa kepemimpinan yang kuat tidak identik dengan penggunaan kekuatan tanpa batas. Kekuatan harus disertai tanggung jawab, keberanian harus disertai kebijaksanaan, dan keputusan harus mempertimbangkan keselamatan manusia. Prinsip tersebut menjadi salah satu bagian penting dari pembelajaran Sekolah Negarawan selama mengikuti Riwayat-e Rahmat di Teheran.
Pesan Rahmat untuk Dunia yang Masih Berkonflik
Lebih dari 14 abad setelah Nabi Muhammad ﷺ memberikan teladan mengenai perlakuan terhadap manusia dalam situasi peperangan, dunia masih menghadapi pertanyaan yang sama. Bagaimana manusia dapat mempertahankan kemanusiaannya ketika berhadapan dengan konflik, kebencian, dan kekuatan yang besar. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pesan mengenai rahmat tidak kehilangan relevansinya meskipun zaman terus berubah.
Dari Vahdat Hall, delegasi Sekolah Negarawan melihat bahwa keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dapat dibaca melalui berbagai sisi, mulai dari kepemimpinan, kemanusiaan, persatuan hingga batas moral dalam menggunakan kekuatan. Semua itu bertemu dalam satu gagasan bahwa manusia tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaannya dalam keadaan apa pun. Bahkan ketika perang terjadi, tetap ada batas yang harus dijaga.
Pesan tersebut menjadi semakin penting bagi generasi masa depan yang kelak akan mengambil tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan negara. Kenegarawanan membutuhkan kemampuan menghadapi persoalan sulit tanpa kehilangan prinsip kemanusiaan. Dan dari keteladanan Nabi Muhammad ﷺ, salah satu pelajaran yang dapat dibawa pulang adalah bahwa kekuatan yang tidak dikendalikan oleh rahmat dapat berubah menjadi kekejaman, sementara kekuatan yang dibatasi oleh moral dapat menjadi jalan untuk menjaga kehidupan manusia.