muslimx.id — Makna kemajuan Indonesia sering kali terlihat dari wajah kota yang berubah dengan cepat. Gedung-gedung tinggi bermunculan, pusat perbelanjaan semakin modern, kawasan hunian berkembang, transportasi semakin terkoneksi, dan teknologi hadir hampir dalam setiap aktivitas masyarakat. Kota menjadi semakin cepat, praktis, dan efisien.
Namun di tengah perubahan tersebut, ada persoalan yang sering tidak terlihat dalam angka pembangunan. Manusia bisa tinggal di tengah jutaan orang tetapi merasa semakin sendirian. Rumah-rumah semakin modern, tetapi hubungan dengan tetangga semakin renggang. Komunikasi semakin mudah, tetapi percakapan yang benar-benar dekat justru semakin jarang.
Di sinilah pertanyaan tentang kemajuan menjadi lebih dalam. Apakah kota yang semakin modern otomatis membuat manusia yang hidup di dalamnya menjadi lebih bahagia, lebih dekat, dan lebih peduli satu sama lain?
Kota Maju Tidak Selalu Berarti Masyarakat Semakin Dekat
Modernisasi kota membawa banyak manfaat. Jalan yang lebih baik mempermudah mobilitas, transportasi publik membantu masyarakat berpindah tempat, teknologi membuat pekerjaan lebih efisien, dan berbagai fasilitas publik memberikan kenyamanan yang sebelumnya sulit diperoleh.
Tetapi kemajuan fisik kota juga dapat mengubah pola hubungan sosial. Masyarakat semakin sibuk mengejar waktu. Perjalanan menuju tempat kerja menghabiskan sebagian besar hari. Kehidupan berlangsung dalam ruang-ruang yang semakin individual. Setelah pulang, seseorang lebih banyak berinteraksi dengan layar daripada dengan orang yang tinggal di sekitarnya.
Akibatnya, kota dapat menjadi tempat yang sangat ramai tetapi sekaligus terasa sepi. Banyak orang bertemu setiap hari tanpa benar-benar saling mengenal. Tetangga tinggal bersebelahan tetapi jarang berbicara. Bahkan dalam keluarga, masing-masing dapat berada dalam ruangan yang sama tetapi sibuk dengan dunianya sendiri.
Jika kondisi tersebut semakin luas, maka pembangunan kota perlu kembali ditanyakan arahnya. Kota bukan hanya kumpulan bangunan, jalan, dan fasilitas. Kota adalah ruang tempat manusia membangun kehidupan bersama.
Ketika Kenyamanan Menggantikan Kebersamaan
Perkembangan teknologi telah membuat kehidupan perkotaan jauh lebih praktis. Makanan dapat dipesan tanpa keluar rumah, kebutuhan sehari-hari dapat dibeli melalui aplikasi, pembayaran dilakukan secara digital, dan berbagai layanan dapat diakses tanpa harus bertemu orang lain.
Kemudahan tersebut tentu tidak salah. Bahkan teknologi dapat membantu masyarakat menghemat waktu dan tenaga. Persoalannya muncul ketika hampir seluruh kebutuhan manusia dapat dipenuhi tanpa interaksi sosial.
Manusia pada dasarnya bukan hanya membutuhkan layanan, tetapi juga membutuhkan hubungan. Ada kebutuhan untuk didengar, dihargai, disapa, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan. Ketika semua kebutuhan diterjemahkan menjadi transaksi, hubungan sosial perlahan dapat kehilangan ruangnya.
Karena itu, makna kemajuan Indonesia tidak seharusnya hanya berbicara tentang bagaimana membuat kota semakin efisien. Kita juga perlu memikirkan bagaimana membuat kota tetap manusiawi.
Islam Mengajarkan Pentingnya Kehidupan Sosial
Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan antar manusia. Kehidupan yang baik tidak hanya dibangun melalui hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga melalui hubungan dengan sesama.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 36:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh…”
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa kesalehan tidak berhenti pada ibadah personal. Didalamnya terdapat tanggung jawab sosial, termasuk memperlakukan tetangga dengan baik.
Prinsip ini penting ketika membicarakan kota modern. Sebuah kota dapat memiliki teknologi yang sangat maju, tetapi kehidupan sosialnya tetap membutuhkan kepedulian manusia. Infrastruktur dapat mempercepat perjalanan, tetapi tidak dapat menggantikan silaturahmi. Aplikasi dapat mempertemukan orang dalam ruang digital, tetapi tidak selalu mampu menggantikan kehangatan hubungan nyata.
Kemajuan dalam perspektif Islam karena itu harus tetap memberikan ruang bagi manusia untuk hidup bersama, saling membantu, dan menjaga hubungan sosial.
Ruang Publik Harus Menjadi Ruang Pertemuan
Salah satu persoalan kota modern adalah semakin terbatasnya ruang yang memungkinkan masyarakat berinteraksi secara alami. Ruang publik sering kali hanya dipahami sebagai fasilitas fisik, padahal ia juga memiliki fungsi sosial.
Taman, trotoar, perpustakaan, ruang komunitas, tempat olahraga, pasar, dan berbagai ruang terbuka dapat menjadi tempat masyarakat bertemu tanpa harus selalu melakukan transaksi. Di ruang semacam itu, manusia dapat mengenal lingkungan, membangun pertemanan, dan menciptakan rasa memiliki terhadap kotanya.
Kota yang baik bukan hanya kota yang memungkinkan seseorang bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Kota yang baik juga memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berhenti, berbicara, berinteraksi, dan merasa menjadi bagian dari masyarakat.
Karena itu, pembangunan kota seharusnya tidak hanya menghitung panjang jalan, jumlah gedung, atau luas kawasan komersial. Ada ukuran sosial yang juga penting: apakah masyarakat memiliki ruang untuk bertemu dan membangun kehidupan bersama?
Partai X: Kota Harus Tetap Memiliki Wajah Manusia
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa pembangunan perkotaan tidak boleh hanya mengejar efisiensi dan estetika fisik. Menurutnya, kota pada akhirnya dibangun untuk manusia, sehingga kebutuhan sosial masyarakat harus menjadi bagian dari perencanaan.
“Kita sering berbicara tentang kota pintar, transportasi pintar, dan layanan digital. Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa yang hidup di dalam kota itu adalah manusia. Kota harus membuat manusia lebih mudah bertemu, berinteraksi, dan membangun kehidupan bersama,” ujar Prayogi.
Menurutnya, modernisasi seharusnya tidak menghilangkan karakter sosial masyarakat. Teknologi dan pembangunan fisik justru harus digunakan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, inklusif, dan memungkinkan masyarakat memiliki kehidupan sosial yang sehat.
“Kalau sebuah kota semakin modern tetapi manusianya semakin terisolasi, kita perlu bertanya kembali apakah itu kemajuan yang utuh,” katanya.
Penutup: Kemajuan yang Membuat Manusia Tetap Merasa Memiliki
Pada akhirnya, makna kemajuan Indonesia tidak hanya terlihat dari bagaimana kota berubah secara fisik. Gedung tinggi, transportasi modern, kawasan baru, dan teknologi digital memang penting. Tetapi semua itu harus menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Kota tidak boleh berubah menjadi ruang yang hanya mengejar kecepatan. Ia harus tetap menyediakan ruang untuk kehidupan, keluarga, tetangga, komunitas, dan hubungan sosial.
Islam mengingatkan bahwa manusia hidup bukan sebagai individu yang terpisah dari masyarakat. Ada hak orang tua, keluarga, tetangga, orang miskin, dan kelompok lain yang harus diperhatikan. Karena itu, pembangunan yang kehilangan dimensi sosial akan selalu memiliki kekurangan.
Indonesia membutuhkan kota-kota yang modern, tetapi juga hangat. Kota yang maju secara teknologi, tetapi tidak kehilangan budaya saling menyapa. Kota yang cepat dalam pelayanan, tetapi tetap memberi ruang bagi manusia untuk berinteraksi.
Sebab kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya ketika kota menjadi semakin besar dan canggih, tetapi ketika manusia yang tinggal di dalamnya tetap merasa terhubung, dihargai, dan tidak berjalan sendirian.