muslimx.id — Makna kemajuan Indonesia tidak seharusnya berhenti pada angka pertumbuhan ekonomi. Produk domestik bruto meningkat, investasi masuk, kawasan industri berkembang, pusat perbelanjaan bertambah, dan berbagai proyek pembangunan terus berjalan. Semua itu penting bagi perjalanan sebuah negara. Namun dibalik angka-angka tersebut, terdapat pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar membuat kehidupan rakyat menjadi lebih sejahtera?
Pertanyaan ini penting karena kemajuan ekonomi seharusnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat membutuhkan pekerjaan yang layak, pendapatan yang cukup, harga kebutuhan yang terjangkau, pendidikan yang berkualitas, tempat tinggal yang aman, serta kesempatan untuk memperbaiki masa depan. Jika ekonomi tumbuh tetapi sebagian masyarakat tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, maka ada sesuatu yang perlu kembali diperiksa dari cara kita memahami kemajuan.
Pertumbuhan Ekonomi Bukan Tujuan Akhir
Pertumbuhan ekonomi sering menjadi salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan. Ketika angka pertumbuhan meningkat, sebuah negara dianggap sedang bergerak maju. Pemerintah tentu membutuhkan pertumbuhan ekonomi karena dari aktivitas ekonomi yang sehat dapat tercipta lapangan pekerjaan, penerimaan negara, investasi, dan berbagai sumber pembiayaan pembangunan.
Namun pertumbuhan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Ia bukan tujuan akhir pembangunan. Ekonomi yang tumbuh seharusnya membawa dampak pada peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Jika manfaat pertumbuhan hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu sementara sebagian besar masyarakat menghadapi biaya hidup yang semakin berat, maka angka pertumbuhan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi kesejahteraan.
Di sinilah makna kemajuan Indonesia perlu dilihat dengan ukuran yang lebih manusiawi. Negara tidak hanya perlu bertanya berapa besar ekonominya tumbuh, tetapi juga siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut dan sejauh mana pertumbuhan itu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk hidup lebih layak.
Ketika Pendapatan Naik tetapi Beban Hidup Ikut Meningkat
Kesejahteraan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan pendapatan tersebut memenuhi kebutuhan hidup. Ketika harga pangan, tempat tinggal, pendidikan, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya meningkat, kenaikan pendapatan belum tentu membuat seseorang merasa lebih sejahtera.
Bagi sebagian keluarga, penghasilan bulanan bukan sekadar angka. Di dalamnya terdapat biaya sekolah anak, kebutuhan orang tua, cicilan rumah, transportasi untuk bekerja, kebutuhan pangan, hingga berbagai pengeluaran yang tidak dapat ditunda. Karena itu, keberhasilan ekonomi harus dilihat dari kemampuan keluarga menjalani kehidupan dengan rasa aman dan memiliki ruang untuk merencanakan masa depan.
Pembangunan yang baik semestinya membuat masyarakat tidak terus-menerus hidup dalam kecemasan ekonomi. Kemajuan seharusnya memberikan ruang bagi seseorang untuk menabung, meningkatkan pendidikan, membangun usaha, memiliki tempat tinggal yang layak, dan mempersiapkan masa depan keluarganya.
Islam Tidak Memisahkan Kekayaan dari Keadilan
Islam tidak memandang kekayaan sebagai sesuatu yang harus dijauhi, justru mengakui pentingnya usaha, perdagangan, kepemilikan, dan aktivitas ekonomi. Namun kekayaan tidak boleh hanya berputar di antara kelompok tertentu sehingga menciptakan jarak yang semakin lebar di tengah masyarakat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:
“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Ayat ini memberikan prinsip penting dalam memahami pembangunan ekonomi. Kekayaan harus memiliki fungsi sosial dan memberikan manfaat yang lebih luas. Karena itu, makna kemajuan Indonesia dalam Islam tidak cukup diukur dari seberapa besar kekayaan yang berhasil diciptakan, tetapi juga bagaimana kekayaan dan kesempatan ekonomi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Pertumbuhan ekonomi yang menciptakan pekerjaan, memperkuat usaha kecil, memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk naik kelas merupakan bentuk kemajuan yang lebih bermakna. Sebaliknya, pertumbuhan yang memperbesar ketimpangan dan membuat kelompok rentan semakin sulit memperoleh kesempatan harus menjadi bahan evaluasi.
Rakyat Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton Pembangunan
Pembangunan ekonomi sering terlihat melalui proyek-proyek besar. Kawasan industri dibangun, jalan diperlebar, gedung didirikan, pusat ekonomi baru muncul, dan investasi masuk dalam jumlah besar. Semua itu dapat menjadi tanda perkembangan ekonomi.
Tetapi masyarakat lokal harus tetap menjadi bagian dari proses tersebut. Pembangunan akan kehilangan maknanya jika masyarakat yang tinggal di sekitar pusat pertumbuhan justru hanya menjadi penonton. Mereka membutuhkan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, keterampilan, permodalan, dan kesempatan untuk mengembangkan usaha.
Karena itu, pembangunan ekonomi harus menciptakan mobilitas sosial. Anak dari keluarga sederhana harus memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang baik. Pelaku usaha kecil harus memiliki peluang berkembang. Pekerja harus memiliki kesempatan meningkatkan keterampilan. Generasi muda harus memiliki ruang untuk memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif.
Kemajuan bukan hanya tentang menciptakan pusat-pusat ekonomi baru, tetapi juga tentang menciptakan jalan agar masyarakat dapat masuk dan berkembang di dalamnya.
Partai X: Ukuran Kemajuan Harus Terlihat dalam Kehidupan Rakyat
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa ukuran pembangunan ekonomi perlu diperluas. Menurutnya, angka pertumbuhan tetap penting, tetapi pemerintah tidak boleh berhenti pada indikator makro ketika menilai keberhasilan pembangunan.
“Pertumbuhan ekonomi penting, tetapi pertanyaan berikutnya adalah apakah pertumbuhan itu mengubah kehidupan masyarakat. Apakah pekerjaan semakin layak, apakah keluarga semakin memiliki daya beli, apakah anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik, dan apakah masyarakat memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kehidupannya,” ujar Prayogi.
Menurutnya, pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai sarana untuk memperkuat kemampuan masyarakat, bukan sekadar memperbesar angka ekonomi nasional. Ketika masyarakat semakin mandiri dan memiliki kesempatan yang lebih luas, pertumbuhan ekonomi akan memiliki makna yang lebih dalam.
“Ekonomi yang besar belum tentu berarti masyarakatnya merasa maju. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan ekonomi diterjemahkan menjadi kehidupan yang lebih aman, lebih layak, dan lebih memiliki masa depan,” katanya.
Penutup: Kesejahteraan Harus Menjadi Wajah Kemajuan
Pada akhirnya, makna kemajuan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kesejahteraan rakyat. Gedung yang semakin tinggi, kawasan industri yang semakin luas, investasi yang semakin besar, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin kuat memang merupakan bagian dari pembangunan.
Tetapi semua itu seharusnya bermuara pada kehidupan manusia. Pembangunan harus membuat masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bekerja, belajar, berusaha, membangun keluarga, dan merencanakan masa depan.
Islam memberikan cara pandang bahwa harta bukan sekadar simbol keberhasilan, melainkan amanah yang harus memberikan kemaslahatan. Karena itu, kemajuan ekonomi akan lebih bermakna ketika manfaatnya tidak berhenti pada angka statistik, tetapi hadir dalam kehidupan nyata masyarakat.
Indonesia tentu membutuhkan ekonomi yang kuat. Namun lebih dari itu, Indonesia membutuhkan ekonomi yang membuat rakyat merasa memiliki masa depan. Sebab negara tidak disebut maju hanya karena mampu menghasilkan kekayaan dalam jumlah besar, tetapi karena mampu memastikan bahwa kekayaan dan kemajuan tersebut benar-benar mengangkat martabat manusia.