muslimx.id — Kota ramah manusia bukan sekadar konsep tentang trotoar yang bagus, taman yang tertata, transportasi yang nyaman, atau gedung-gedung yang semakin modern. Lebih jauh dari itu, kota ramah manusia berbicara tentang bagaimana sebuah ruang kehidupan dibangun untuk menghormati manusia yang tinggal di dalamnya. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kota pada akhirnya bukan hanya seberapa tinggi bangunannya atau seberapa besar investasi yang masuk, tetapi apakah manusia dapat menjalani kehidupan dengan aman, layak, nyaman, dan bermartabat.
Di banyak tempat, wajah kemajuan kota semakin mudah dilihat dari perubahan fisiknya. Jalan diperlebar, kawasan komersial tumbuh, pusat bisnis bermunculan, dan bangunan baru mengubah wajah lingkungan. Semua itu tentu merupakan bagian dari pembangunan. Namun, pembangunan akan kehilangan maknanya apabila perubahan fisik tersebut tidak membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Kota boleh tumbuh secara ekonomi, tetapi pertumbuhan itu seharusnya tidak membuat manusia semakin sulit berjalan jauh dari ruang publik, mahal mendapatkan tempat tinggal, atau semakin asing dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Kota Seharusnya Dibangun untuk Kehidupan
Di dalamnya terdapat keluarga yang membesarkan anak, pekerja yang mencari nafkah, lansia yang menjalani masa tuanya, pedagang kecil yang mempertahankan penghasilan, pelajar yang pergi ke sekolah, serta masyarakat yang membutuhkan ruang untuk berinteraksi. Karena itu, pembangunan kota tidak semestinya hanya dilihat sebagai proyek fisik, tetapi sebagai proses membentuk lingkungan tempat manusia menjalani kehidupannya setiap hari.
Persoalannya, ukuran keberhasilan pembangunan seringkali lebih mudah dihitung dari sesuatu yang bersifat fisik. Jumlah gedung dapat dihitung, panjang jalan dapat diukur, investasi dapat dicatat, dan pertumbuhan ekonomi dapat dipresentasikan dalam angka. Sementara itu, rasa aman seorang anak ketika berjalan di lingkungan rumahnya, kenyamanan seorang lansia ketika menggunakan fasilitas umum, atau kemampuan keluarga sederhana menikmati ruang terbuka jauh lebih sulit dimasukkan ke dalam tabel. Padahal, justru pengalaman manusia sehari-hari itulah yang menunjukkan apakah sebuah kota benar-benar berkembang.
Keadilan Menjadi Dasar Kota Ramah Manusia
Dalam Islam, pembangunan kehidupan tidak dapat dilepaskan dari prinsip keadilan. Allah SWT berfirman dalam QS An-Nahl ayat 90 bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Prinsip tersebut memiliki makna yang luas, termasuk bagaimana manusia mengelola ruang kehidupan bersama agar tidak hanya menguntungkan sebagian kelompok.
Kota ramah manusia karena itu harus mampu menghadirkan keseimbangan, membutuhkan pusat ekonomi, tetapi juga membutuhkan ruang publik, membutuhkan jalan untuk kendaraan, tetapi juga harus menyediakan ruang yang aman bagi pejalan kaki, membutuhkan investasi, tetapi masyarakat kecil tidak boleh kehilangan seluruh ruang hidupnya. Kota membutuhkan pembangunan, tetapi lingkungan dan generasi mendatang juga harus diperhitungkan. Keadilan bukan berarti semua orang memperoleh sesuatu dalam bentuk yang sama, melainkan setiap manusia mendapatkan kesempatan yang layak untuk hidup dan berkembang.
Kenyamanan Bukan Kemewahan
Ada kecenderungan menganggap kenyamanan sebagai sesuatu yang hanya dapat dinikmati oleh masyarakat kelas menengah dan atas. Kawasan hunian tertentu dibuat sangat nyaman, ruang komersial dirancang dengan baik, sementara sebagian masyarakat harus berhadapan dengan jalan yang tidak aman, ruang publik yang terbatas, transportasi yang menyulitkan, atau lingkungan yang tidak mendukung kehidupan keluarga.
Cara pandang semacam ini perlu dikoreksi. Kenyamanan dalam kota ramah manusia bukan kemewahan, melainkan bagian dari kualitas kehidupan. Seorang pekerja yang dapat berjalan dengan aman menuju tempat kerja, seorang ibu yang dapat membawa anak ke taman tanpa rasa khawatir, atau seorang lansia yang dapat duduk dan beristirahat di ruang publik adalah bagian dari keberhasilan pembangunan. Hal-hal sederhana tersebut mungkin tidak selalu terlihat spektakuler, tetapi sangat menentukan kualitas kehidupan masyarakat.
Kota yang Baik Tidak Membuat Manusia Terasing
Kemajuan kota juga seharusnya tidak membuat manusia semakin kehilangan hubungan dengan sesamanya. Kota yang dipenuhi bangunan, pusat perbelanjaan, dan kawasan modern belum tentu menjadi kota yang hidup apabila masyarakatnya tidak memiliki ruang untuk bertemu dan berinteraksi.
Ruang publik memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan sosial. Taman, alun-alun, trotoar, lapangan, pasar, dan berbagai ruang bersama memungkinkan manusia bertemu tanpa harus selalu mengeluarkan uang. Di sanalah hubungan sosial tumbuh secara alami. Anak-anak bermain, orang tua berbincang, pekerja beristirahat, dan masyarakat dari berbagai latar belakang dapat saling mengenal. Kota yang ramah manusia bukan hanya menciptakan ruang untuk bergerak, tetapi juga menyediakan ruang untuk menjadi manusia bersama manusia lainnya.
Partai X: Kota Harus Berpihak pada Kehidupan
Rinto Setiyawan menilai bahwa keberhasilan pembangunan kota perlu dilihat dari pengalaman masyarakat yang menjalani kehidupan di dalamnya. Menurutnya, pembangunan tidak boleh berhenti pada keberhasilan proyek, tetapi harus sampai pada perubahan nyata dalam kehidupan warga.
“Jangan hanya melihat kota dari apa yang dibangun, tetapi lihat juga bagaimana masyarakat hidup setelah pembangunan itu dilakukan. Kalau pembangunan membuat sebagian besar masyarakat semakin sulit menikmati ruang, semakin jauh dari fasilitas dasar, atau semakin kehilangan ruang hidup, maka kita perlu bertanya kembali tentang arah pembangunan tersebut,” ujar Rinto.
Ia menambahkan bahwa kota yang baik bukanlah kota yang hanya terlihat maju dari luar. “Kota harus menjadi tempat yang memberi kesempatan kepada semua orang untuk hidup dengan layak. Orang kaya, miskin, anak-anak, lansia, pekerja, pedagang kecil, pejalan kaki, semuanya harus merasa bahwa kota itu juga milik mereka,” katanya.
Penutup: Mengembalikan Manusia sebagai Ukuran Kemajuan
Pada akhirnya, gagasan kota ramah manusia mengajak kita mengubah cara melihat kemajuan. Selama ini pembangunan sering kali dimulai dengan pertanyaan tentang apa yang harus dibangun. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah untuk siapa pembangunan tersebut dilakukan dan kehidupan seperti apa yang ingin diwujudkan.
Dalam perspektif Islam, kehidupan manusia adalah amanah. Karena itu, ruang tempat manusia hidup juga tidak boleh dikelola semata-mata berdasarkan kepentingan ekonomi jangka pendek. Ada hak masyarakat yang harus dijaga, kelompok rentan yang harus diperhatikan, lingkungan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya, dan ada nilai kemanusiaan yang tidak boleh hilang di tengah pembangunan.
Kota ramah manusia pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana membuat kota terlihat lebih indah. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa kemajuan benar-benar sampai kepada manusia. Sebab, sebuah kota mungkin dapat disebut modern karena gedungnya tinggi dan teknologinya maju, tetapi kota baru benar-benar beradab ketika manusia yang tinggal di dalamnya merasa aman, dihargai, memiliki ruang, dan dapat menjalani kehidupannya dengan bermartabat.
Di situlah pembangunan menemukan maknanya. Bukan ketika kota menjadi semakin besar, tetapi ketika kehidupan manusia di dalamnya menjadi semakin baik.