Tanah dan Kehidupan Masyarakat Indonesia: Ketika Petani Kehilangan Akses atas Sumber Penghidupan

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id  — Tanah dan kehidupan masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberadaan petani. Sejak lama, tanah menjadi tempat masyarakat menanam padi, sayuran, buah-buahan, dan berbagai kebutuhan pangan. Namun, di tengah perubahan ekonomi dan pembangunan yang semakin cepat, tanah pertanian menghadapi tekanan yang tidak sederhana. Ketika lahan pertanian berkurang dan akses petani terhadap tanah semakin terbatas, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan petani, tetapi juga keberlanjutan pangan masyarakat.

Persoalan ini sering kali terlihat sederhana dari luar. Sebidang sawah berubah menjadi kawasan permukiman, industri, atau bangunan komersial. Bagi pemilik atau investor, perubahan tersebut mungkin merupakan keputusan ekonomi. Tetapi bagi petani, tanah memiliki fungsi yang jauh lebih mendasar. Tanah adalah tempat bekerja, sumber pendapatan, dan bagian dari kehidupan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika tanah pertanian hilang, seorang petani tidak selalu memiliki pilihan pekerjaan lain yang sama mudahnya.

Petani Tidak Bisa Dipisahkan dari Tanah

Profesi petani memiliki karakter yang berbeda dari pekerjaan yang tidak bergantung pada lahan. Seorang petani tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga membutuhkan tanah untuk menjalankan pekerjaannya. Karena itu, kehilangan akses terhadap lahan dapat berarti kehilangan sumber penghidupan sekaligus identitas pekerjaan.

Di banyak wilayah, kehidupan petani juga terhubung dengan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Hasil pertanian masuk ke pasar, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menjadi bagian dari rantai pangan. Karena itu, persoalan yang dialami petani sebenarnya bukan persoalan kelompok tertentu saja. Ketika petani semakin sulit bertahan, masyarakat juga menghadapi pertanyaan tentang siapa yang akan menghasilkan pangan dan bagaimana pangan dapat tetap tersedia dengan harga yang terjangkau.

Tanah pertanian karena itu memiliki nilai sosial yang lebih besar daripada sekadar nilai jualnya. Sawah yang terlihat sederhana dapat menopang kehidupan banyak keluarga. Sebuah lahan pertanian mungkin tidak menghasilkan keuntungan sebesar kawasan komersial dalam waktu singkat, tetapi memiliki fungsi penting bagi kehidupan dalam jangka panjang.

Ketika Tanah Lebih Menguntungkan Jika Dijual

Salah satu persoalan yang muncul adalah tekanan ekonomi yang membuat tanah pertanian semakin mudah dipandang sebagai aset yang sebaiknya dijual. Ketika harga tanah meningkat, keluarga petani dapat menghadapi dilema antara mempertahankan lahan atau mendapatkan keuntungan besar melalui penjualan.

Dalam kondisi tertentu, menjual tanah memang dapat menjadi pilihan yang rasional bagi sebuah keluarga. Namun, persoalan menjadi lebih rumit ketika setelah tanah terjual, sumber penghidupan tidak lagi tersedia. Uang hasil penjualan dapat habis dalam beberapa tahun, sementara tanah yang telah berubah fungsi tidak mudah dikembalikan menjadi lahan produktif.

Di sinilah pentingnya melihat tanah dalam perspektif jangka panjang. Nilai tanah bukan hanya terletak pada berapa besar uang yang dapat diperoleh hari ini. Ada nilai produksi pangan, keberlanjutan lingkungan, dan kehidupan generasi mendatang yang juga perlu diperhitungkan.

Islam Menghargai Kerja dan Penghidupan yang Halal

Islam memberikan penghormatan terhadap orang yang bekerja dan mencari rezeki secara halal. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Mulk ayat 15 bahwa bumi telah dijadikan mudah bagi manusia, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.

Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa bumi merupakan ruang bagi manusia untuk menjalankan kehidupan dan mencari rezeki. Tanah tidak semestinya dipandang hanya sebagai benda mati yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Ada hubungan antara pemanfaatan bumi dengan tanggung jawab manusia dalam mengelola kehidupan.

Karena itu, menjaga keberadaan petani dan lahan produktif juga dapat dipahami sebagai bagian dari menjaga kemaslahatan masyarakat. Petani yang mampu hidup layak akan lebih mungkin mempertahankan profesinya. Sebaliknya, jika bertani terus-menerus dipandang sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan, sementara tanah semakin mahal dan sulit diakses, maka generasi muda akan semakin jauh dari dunia pertanian.

Krisis Petani Bukan Hanya Masalah Petani

Krisis petani seringkali dibicarakan sebagai persoalan rendahnya pendapatan atau minimnya regenerasi. Padahal, persoalannya lebih luas. Ketika generasi muda melihat bahwa bertani membutuhkan kerja keras tetapi hasilnya tidak sebanding, sementara pekerjaan di sektor lain terlihat lebih menjanjikan, maka pilihan untuk meninggalkan pertanian menjadi semakin kuat.

Masalahnya, masyarakat tidak bisa sepenuhnya meninggalkan pertanian tanpa konsekuensi. Kita tetap membutuhkan pangan yang dihasilkan dari tanah. Kita membutuhkan orang yang mau mengolah sawah, merawat tanaman, memelihara lahan, dan memastikan produksi pangan terus berlangsung.

Karena itu, keberpihakan kepada petani tidak cukup hanya melalui bantuan sesaat. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat profesi tersebut memiliki masa depan. Akses terhadap tanah, kepastian usaha, harga hasil panen yang layak, teknologi, pendidikan, dan regenerasi petani harus dilihat sebagai bagian dari satu persoalan yang saling berkaitan.

Partai X: Jangan Sampai Tanah Pertanian Hanya Menjadi Kenangan

Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menilai bahwa persoalan tanah pertanian harus ditempatkan sebagai bagian dari persoalan kehidupan masyarakat dan ketahanan pangan.

“Kalau tanah pertanian terus-menerus hanya dilihat sebagai lahan yang bisa dialihkan ketika ada nilai ekonomi yang lebih tinggi, kita harus bertanya siapa yang akan menjaga sumber pangan kita. Petani membutuhkan tanah untuk bekerja. Kalau tanahnya hilang, kita bukan hanya kehilangan lahan, tetapi juga kehilangan sebuah sistem kehidupan,” ujar Rinto.

Menurutnya, pembangunan harus memiliki keseimbangan agar petani tidak selalu menjadi pihak yang harus mengalah ketika terjadi perubahan fungsi lahan. “Jangan sampai desa semakin modern, tetapi sawahnya semakin sedikit dan anak-anak mudanya tidak lagi melihat pertanian sebagai masa depan. Kalau itu terjadi, persoalannya bukan hanya tentang petani, tetapi tentang arah kehidupan masyarakat Indonesia,” katanya.

Menjaga Tanah Berarti Menjaga Pangan

Tanah pertanian memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan pangan. Selama tanah masih produktif dan petani masih memiliki kesempatan untuk mengelolanya, masyarakat memiliki pondasi penting untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Karena itu, menjaga tanah tidak berarti menolak pembangunan. Indonesia tetap membutuhkan kawasan permukiman, industri, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi. Namun, pembangunan harus mampu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan tersebut dengan keberadaan lahan produktif.

Kita perlu berhenti melihat petani sebagai kelompok yang hanya membutuhkan bantuan. Petani adalah bagian dari sistem kehidupan masyarakat. Mereka menyediakan sesuatu yang sangat mendasar: pangan. Karena itu, kehidupan petani seharusnya mendapat penghargaan yang sebanding dengan peran mereka.

Penutup: Tanah yang Hidup untuk Masyarakat

Pada akhirnya, tanah dan kehidupan masyarakat Indonesia tidak dapat dipisahkan dari bagaimana negara dan masyarakat memperlakukan petani. Tanah yang produktif bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga sumber kehidupan yang memberikan manfaat kepada banyak orang.

Jika tanah pertanian terus kehilangan tempat, maka yang hilang bukan hanya hamparan sawah. Di dalamnya terdapat profesi, pengetahuan, tradisi, sumber pangan, dan masa depan keluarga petani. Karena itu, menjaga tanah pertanian berarti menjaga sebuah rantai kehidupan yang jauh lebih panjang.

Islam mengajarkan manusia untuk memanfaatkan bumi dengan penuh tanggung jawab. Pembangunan tidak boleh menghilangkan kemaslahatan yang lebih besar. Tanah boleh dimanfaatkan untuk kemajuan, tetapi kemajuan itu harus tetap memastikan manusia memiliki sumber penghidupan yang layak.

Sebab, sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan kota yang tumbuh dan ekonomi yang berkembang. Bangsa juga membutuhkan tanah yang tetap hidup, petani yang tetap memiliki masa depan, dan masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Ketika tanah dan manusia sama-sama dijaga, pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan kehidupan.

Share This Article