muslimx.id – Pada hari ini marilah kita merenungkan sebuah persoalan penting dalam kehidupan bernegara, yaitu tentang negara kuat tetapi tidak adil. Kekuatan negara memang diperlukan. Negara membutuhkan aparat yang profesional, disiplin, terlatih, dan memiliki kemampuan untuk menjaga keamanan serta melindungi masyarakat. Namun, kekuatan pada dirinya sendiri bukanlah tujuan akhir. Pertanyaan yang lebih penting adalah untuk apa kekuatan itu digunakan?
Dalam kehidupan bernegara, kekuatan aparat memiliki fungsi yang penting. TNI menjalankan fungsi pertahanan negara, sedangkan Polri menjalankan fungsi keamanan dan ketertiban, perlindungan, pelayanan masyarakat, serta penegakan hukum.
Semua kewenangan tersebut memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu menjaga negara dan melindungi masyarakat. Karena itu, kekuatan aparat tidak boleh dipahami sebagai kekuatan untuk menakut-nakuti rakyat. Kekuatan negara seharusnya membuat masyarakat merasa aman.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap amanah memiliki konsekuensi moral. Kewenangan adalah amanah. Jabatan adalah amanah. Kemampuan menggunakan kekuatan adalah amanah. Ketika amanah tersebut digunakan tidak sesuai dengan tujuan yang semestinya, kekuatan dapat kehilangan maknanya.
Menjaga Negara Bukan Sekadar Menjaga Kekuasaan
Ada perbedaan yang sangat penting antara menjaga negara dan menjaga kekuasaan. Pemerintahan dapat berganti. Pejabat dapat berganti. Kebijakan dapat berubah. Tetapi negara tetap berdiri dan masyarakat tetap memiliki hak yang harus dilindungi.
Karena itu, aparat negara tidak semestinya memahami loyalitas hanya sebagai loyalitas kepada orang yang sedang memegang kekuasaan. Loyalitas kepada negara harus diwujudkan melalui ketaatan kepada hukum, konstitusi, mandat institusi, dan kepentingan masyarakat dalam koridor yang sah.
Aparat yang profesional bukanlah aparat yang menentukan politik negara. Tetapi aparat yang memahami bahwa kewenangannya memiliki batas dan harus digunakan sesuai dengan tugas yang diberikan. Di sinilah kekuatan membutuhkan hukum. Tanpa hukum, kekuatan dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Tanpa keadilan, stabilitas dapat berubah menjadi ketakutan.
Negara Kuat tetapi Tidak Adil
Kita perlu memahami bahwa sebuah negara dapat memiliki institusi yang kuat, aparat yang banyak, teknologi yang maju, dan kemampuan menjaga stabilitas. Namun semua itu belum cukup untuk mengatakan bahwa negara tersebut telah menghadirkan kebaikan bagi rakyatnya. Sebab kekuatan tanpa keadilan dapat melahirkan persoalan baru. Inilah yang perlu direnungkan dari makna negara kuat tetapi tidak adil. Apa artinya negara mampu menjaga ketertiban jika masyarakat tidak merasa diperlakukan secara adil?
Islam tidak mengajarkan bahwa kekuatan boleh berdiri sendiri. Kekuatan harus diarahkan kepada kebaikan dan dikendalikan oleh nilai keadilan.
Aparat yang Kuat Harus Membuat Rakyat Merasa Terlindungi
Ukuran kekuatan aparat tidak seharusnya hanya dilihat dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki atau seberapa kuat kemampuan yang tersedia. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat merasa terlindungi. Aparat yang kuat seharusnya mampu menjaga keamanan tanpa kehilangan keadilan. Mampu menegakkan hukum tanpa merendahkan manusia. Mampu menjalankan kewenangan tanpa menjadikannya sebagai milik pribadi.
Kekuatan yang benar adalah kekuatan yang membuat masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan aman. Sebab aparat pada hakikatnya hadir bukan untuk dirinya sendiri. Ada masyarakat yang harus dilindungi, dijaga, dan hukum yang harus ditegakkan.
Profesionalitas Harus Disertai Akuntabilitas
Kekuatan membutuhkan profesionalisme. Tetapi profesionalitas saja tidak cukup. Ia juga membutuhkan akuntabilitas.
Ketika seseorang memiliki kewenangan besar, harus ada batas yang jelas mengenai bagaimana kewenangan itu digunakan. Harus ada mekanisme pengawasan. Harus ada pertanggungjawaban apabila terjadi penyalahgunaan.
Pengawasan bukan berarti melemahkan negara. Justru pengawasan dapat menjadi cara untuk menjaga kekuatan agar tetap berada pada tujuan awalnya. Dalam kehidupan manusia, kita mengenal pentingnya saling mengingatkan. Bahkan orang yang memiliki jabatan tinggi tetap membutuhkan nasihat dan koreksi.
Sebab manusia memiliki keterbatasan. Kekuasaan dapat membuat seseorang merasa benar. Jabatan dapat membuat seseorang sulit mendengar. Karena itu, mekanisme pengawasan diperlukan agar kewenangan tetap berada dalam batas yang benar.
Keadilan Tidak Boleh Hilang karena Kekuatan
Allah memerintahkan manusia untuk berlaku adil, bahkan ketika keadilan itu tidak menguntungkan dirinya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini sangat penting ketika berbicara tentang kekuasaan.
Keadilan tidak boleh diberikan hanya kepada orang yang kita sukai. Hukum tidak boleh ditegakkan hanya kepada mereka yang lemah. Perlindungan tidak boleh hanya diberikan kepada kelompok tertentu. Keadilan harus menjadi prinsip. Sebab ketika hukum kehilangan keadilan, kekuatan negara dapat kehilangan kepercayaan masyarakat.
Kekuatan Harus Kembali kepada Amanah Rakyat
Marilah kita memahami bahwa negara membutuhkan kekuatan. Negara membutuhkan aparat yang profesional, disiplin, dan mampu menjalankan tugasnya. Namun kekuatan tersebut tidak boleh kehilangan arah. Negara kuat tetapi tidak adil adalah keadaan yang harus kita renungkan bersama. Sebab kekuatan negara tidak cukup diukur dari kemampuan menjaga stabilitas. Kekuatan negara juga harus terlihat dari kemampuannya memberikan perlindungan, menghadirkan rasa aman, menegakkan hukum, dan menjaga keadilan. Aparat yang kuat bukanlah aparat yang paling ditakuti rakyat. Aparat yang kuat adalah aparat yang mampu menggunakan kewenangannya secara benar sehingga rakyat merasa terlindungi.
Karena itu, marilah kita menjaga agar kekuatan negara selalu berada di bawah hukum dan amanah. Jangan sampai kekuasaan berubah menjadi kepentingan pribadi, kewenangan berubah menjadi kesewenang-wenangan, keamanan dijadikan alasan untuk mengabaikan keadilan. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada para pemegang amanah untuk menjalankan kewenangan dengan benar, menjaga masyarakat dengan adil, dan menggunakan kekuasaan untuk kemaslahatan.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِحِفْظِ الْحُقُوقِ وَإِقَامَةِ الْعَدْلِ.
Ya Allah, perbaikilah para pemegang urusan kami. Berilah mereka kemampuan untuk menegakkan keadilan dan menjaga amanah. Jadikanlah mereka sebab terpeliharanya hak-hak manusia dan tegaknya keadilan.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَأَهْلَهَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاجْعَلْ قُوَّتَنَا قُوَّةً فِي الْحَقِّ وَالْعَدْلِ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِلظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ.
Ya Allah, jagalah negeri kami dan masyarakatnya. Perbaikilah keadaan kami. Jadikanlah kekuatan kami sebagai kekuatan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan janganlah Engkau jadikan kekuatan itu sebagai sebab kezaliman dan kesewenang-wenangan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.