muslimx.id — Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Namun kemudahan ini juga membawa tantangan baru, yaitu maraknya hoax dan informasi yang belum tentu benar. Dalam situasi seperti ini, kemampuan masyarakat untuk memilah informasi menjadi sangat penting. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat dapat dengan mudah terpengaruh oleh berita yang tidak akurat atau bahkan sengaja dibuat untuk mempengaruhi opini publik. Karena itu, literasi digital masyarakat menjadi salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan demokrasi modern.
Literasi digital tidak hanya berarti kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami informasi secara kritis, memeriksa sumber berita, dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Hoaks dan Tantangan Ruang Publik Digital
Di era media sosial, informasi dapat diproduksi oleh siapa saja. Hal ini membuat arus informasi menjadi sangat dinamis, tetapi juga membuka ruang bagi penyebaran berita palsu atau propaganda digital.
Hoaks pemerintahan sering kali dirancang untuk mempengaruhi emosi masyarakat. Informasi yang dipelintir, potongan fakta yang diambil di luar konteks, atau narasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan kemarahan dapat dengan cepat menyebar di ruang digital.
Ketika masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memverifikasi informasi, maka hoaks dapat dengan mudah dipercaya dan disebarkan kembali. Dalam kondisi seperti ini, rendahnya literasi digital masyarakat dapat memperburuk kualitas diskusi publik.
Padahal demokrasi yang sehat membutuhkan masyarakat yang mampu berpikir kritis dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar.
Perspektif Islam: Pentingnya Tabayyun
Islam sejak awal telah mengajarkan prinsip kehati-hatian dalam menerima informasi. Umat Islam diperintahkan untuk tidak langsung mempercayai setiap berita yang datang, tetapi terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini dikenal sebagai prinsip tabayyun, yaitu kewajiban untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Dalam konteks kehidupan digital saat ini, prinsip tersebut sangat relevan dengan upaya membangun literasi digital masyarakat.
Tabayyun pada dasarnya mengajarkan sikap kritis terhadap informasi. Prinsip ini mendorong umat untuk tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum tentu benar.
Partai X: tentang Literasi Digital
Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menilai bahwa penguatan literasi digital masyarakat merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas demokrasi di era informasi.
Menurutnya, arus informasi yang sangat cepat harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk memahami dan memverifikasi berita yang mereka terima.
“Di era digital, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk memilah informasi. Tanpa literasi digital yang baik, hoaks dapat dengan mudah mempengaruhi cara berpikir publik,” ujar Erick.
Ia juga menekankan bahwa budaya tabayyun yang diajarkan dalam Islam sebenarnya sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
“Islam sudah mengajarkan tabayyun sejak lama. Prinsip ini sangat penting untuk menjaga ruang publik agar tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan,” jelasnya.
Penutup: Menjaga Akal Publik di Era Informasi
Arus informasi digital yang begitu cepat menuntut masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan berita. Tanpa kemampuan untuk memverifikasi informasi, ruang publik dapat dengan mudah dipenuhi oleh hoax dan propaganda.
Karena itu, membangun literasi digital masyarakat bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan etika dan tanggung jawab sosial. Masyarakat perlu memahami bahwa setiap informasi yang mereka bagikan dapat mempengaruhi cara berpikir orang lain.
Pada akhirnya, menjaga kebenaran informasi adalah bagian dari menjaga kesehatan akal publik. Ketika masyarakat mampu menerapkan sikap tabayyun dalam kehidupan digital, ruang publik dapat menjadi tempat diskusi yang lebih sehat dan rasional.