Krisis Budaya Merawat dalam Islam: Ketika Hubungan Sosial dan Kepercayaan Publik Tidak Lagi Dijaga

muslimX
By muslimX
11 Min Read

muslimx.id  — Krisis budaya merawat tidak selalu terlihat dalam bentuk bangunan yang rusak, taman yang terbengkalai, atau program pembangunan yang berhenti di tengah jalan. Ada bentuk kerusakan lain yang jauh lebih sulit dilihat tetapi dampaknya dapat bertahan lebih lama, yaitu rusaknya hubungan sosial, melemahnya kepercayaan, dan rapuhnya institusi yang seharusnya menjadi tempat masyarakat membangun kehidupan bersama.

Sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung, jalan, teknologi, dan kebijakan. Di balik semua itu terdapat hubungan antarmanusia yang memungkinkan masyarakat bekerja sama. Kepercayaan antara warga dan pemerintah, hubungan antara tetangga, solidaritas dalam komunitas, integritas lembaga, serta rasa saling menghormati merupakan bagian penting dari kekuatan sebuah bangsa. Ketika semua itu tidak dirawat, masyarakat dapat memiliki banyak institusi dan fasilitas modern tetapi kehilangan modal sosial yang membuat semuanya bekerja.

Dalam perspektif Islam, merawat hubungan dan kepercayaan bukan sekadar etika sosial. Ia merupakan bagian dari akhlak dan amanah yang memiliki konsekuensi moral di hadapan Allah SWT.

Bangsa Tidak Hanya Dibangun oleh Infrastruktur

Pembangunan seringkali lebih mudah dilihat ketika berbentuk fisik. Jalan yang lebar, gedung yang tinggi, jembatan yang panjang, kawasan industri, dan berbagai fasilitas modern menjadi simbol kemajuan yang mudah diukur. Namun, ada pembangunan lain yang tidak selalu terlihat, yaitu pembangunan kepercayaan dan hubungan sosial.

Masyarakat dapat hidup dalam sebuah negara dengan infrastruktur yang sangat maju, tetapi tetap mengalami persoalan apabila tidak saling percaya. Sebaliknya, masyarakat dengan fasilitas yang sederhana dapat bertahan menghadapi banyak kesulitan apabila memiliki solidaritas dan rasa saling membantu yang kuat.

Kepercayaan merupakan modal sosial yang membuat kehidupan bersama menjadi lebih ringan. Ketika masyarakat percaya bahwa aturan berlaku secara adil, mereka lebih mudah mematuhi aturan, saat masyarakat percaya kepada institusi, mereka lebih mudah bekerja sama, warga percaya kepada tetangganya, lingkungan menjadi lebih aman. Ketika pemerintah dan masyarakat saling percaya, berbagai program publik lebih mudah dilaksanakan.

Namun, kepercayaan tidak muncul secara otomatis. Ia dibangun melalui proses panjang dan dapat hilang dalam waktu singkat. Satu kebohongan mungkin terlihat kecil, tetapi kebohongan yang berulang dapat merusak kepercayaan. Satu tindakan tidak adil mungkin dapat dimaafkan, tetapi ketidakadilan yang terus terjadi dapat membuat masyarakat kehilangan keyakinan terhadap institusi.

Karena itu, kepercayaan membutuhkan budaya merawat.

Kepercayaan Lebih Mudah Dibangun daripada Dipertahankan?

Membangun kepercayaan membutuhkan waktu. Seorang pemimpin membutuhkan waktu untuk membuktikan integritasnya. Sebuah institusi membutuhkan waktu untuk menunjukkan bahwa ia dapat bekerja secara profesional. Sebuah komunitas membutuhkan waktu untuk membangun rasa saling percaya.

Tetapi ketika kepercayaan tersebut sudah terbentuk, bukan berarti tugas selesai. Justru pada tahap itulah tanggung jawab untuk merawat menjadi semakin penting.

Kepercayaan dapat rusak karena perilaku yang tidak konsisten, janji yang tidak ditepati, penyalahgunaan kekuasaan, informasi yang menyesatkan, konflik kepentingan, atau tindakan yang membuat masyarakat merasa tidak dihargai. Ketika hal tersebut terus berulang, masyarakat mulai mengambil jarak dari institusi.

Dalam jangka panjang, keadaan ini berbahaya. Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan, kerjasama menjadi lebih sulit. Setiap kebijakan dicurigai, informasi dipertanyakan, keputusan dianggap memiliki kepentingan tersembunyi. Bahkan tindakan yang sebenarnya baik dapat mengalami penolakan karena institusi sudah kehilangan kredibilitas.

Inilah sebabnya merawat kepercayaan harus menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Tidak cukup hanya membangun institusi. Institusi tersebut harus dijaga integritasnya.

Islam Menempatkan Amanah sebagai Dasar Kepercayaan

Islam memberikan perhatian besar terhadap amanah. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”

Amanah merupakan salah satu fondasi utama kehidupan sosial. Ketika seseorang memegang amanah, ia tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.

Dalam kehidupan bermasyarakat, amanah dapat muncul dalam berbagai bentuk. Orang tua memiliki amanah terhadap keluarga. Guru memiliki amanah terhadap murid. Pemimpin memiliki amanah terhadap rakyat. Pengurus organisasi memiliki amanah terhadap anggota. Seorang warga memiliki amanah terhadap lingkungan sosialnya.

Semua hubungan tersebut membutuhkan kepercayaan. Ketika amanah dijaga, kepercayaan tumbuh. Ketika amanah dikhianati, hubungan menjadi rusak.

Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras mengenai amanah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa salah satu tanda kemunafikan adalah apabila seseorang dipercaya, ia berkhianat.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kepercayaan bukan persoalan kecil. Amanah merupakan bagian dari kualitas moral manusia. Karena itu, budaya merawat hubungan sosial harus dimulai dari kemampuan menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita.

Ketika Hubungan Sosial Menjadi Terlalu Transaksional

Salah satu tantangan kehidupan modern adalah semakin kuatnya hubungan yang didasarkan pada manfaat. Seseorang dapat dekat ketika membutuhkan sesuatu, tetapi menjauh ketika kepentingannya telah selesai. Hubungan profesional sering kali dibawa terlalu jauh menjadi hubungan transaksional, sementara hubungan sosial pun dapat dinilai berdasarkan keuntungan.

Tidak semua hubungan pertukaran manfaat merupakan sesuatu yang buruk. Kehidupan ekonomi dan profesional memang membutuhkan hubungan yang saling menguntungkan. Namun, persoalan muncul ketika hampir seluruh hubungan manusia hanya diukur berdasarkan apa yang dapat diperoleh.

Persaudaraan membutuhkan sesuatu yang lebih dalam. Kepedulian tidak selalu menghasilkan keuntungan langsung. Menolong seseorang yang sedang kesulitan mungkin tidak memberikan manfaat material. Mengunjungi orang yang sakit mungkin tidak menghasilkan apa-apa bagi diri sendiri. Menjaga hubungan dengan tetangga juga tidak selalu memberikan keuntungan yang dapat dihitung.

Namun, justru tindakan semacam itulah yang menjaga kehidupan sosial tetap manusiawi. Islam mengajarkan pentingnya ukhuwah, silaturahmi, tolong-menolong, dan kepedulian. Semua itu merupakan bentuk budaya merawat hubungan agar masyarakat tidak berubah menjadi sekumpulan individu yang hanya bertemu ketika memiliki kepentingan.

Institusi Juga Harus Dirawat

Budaya merawat tidak hanya berlaku bagi hubungan antar individu. Institusi juga membutuhkan perawatan. Sebuah organisasi dapat dibangun dengan aturan yang baik, tetapi aturan tersebut tidak akan berarti apabila tidak dijalankan dengan integritas.

Institusi membutuhkan orang-orang yang menjaga nilai, bukan hanya orang-orang yang mengisi jabatan. Ketika nilai-nilai mulai dikompromikan, institusi perlahan kehilangan identitasnya, aturan hanya berlaku bagi sebagian orang, rasa keadilan melemah, kritik dianggap sebagai ancaman, institusi kehilangan kemampuan memperbaiki diri.

Merawat institusi berarti berani menjaga prinsip sekaligus terbuka terhadap perbaikan. Tidak boleh ada anggapan bahwa mempertahankan nama baik institusi berarti menutupi kesalahan. Justru institusi yang sehat adalah institusi yang mampu mengakui kekurangan dan memperbaikinya.

Dalam konteks negara, institusi yang kuat tidak dibangun hanya dengan gedung dan aturan. Ia dibangun melalui integritas manusia yang bekerja di dalamnya.

Karena itu, merawat institusi membutuhkan keberanian moral. Ada saat ketika menjaga sebuah lembaga berarti berani mengatakan bahwa sesuatu yang salah harus diperbaiki sebelum kerusakannya menjadi lebih besar.

Masyarakat yang Tidak Merawat Kepercayaan Akan Mudah Terpecah

Kepercayaan sosial memiliki hubungan erat dengan persatuan. Ketika masyarakat saling percaya, perbedaan dapat dikelola dengan dialog. Namun ketika kepercayaan melemah, perbedaan kecil dapat berubah menjadi konflik besar.

Media sosial memperlihatkan persoalan tersebut dengan sangat jelas. Informasi bergerak cepat, sementara kemampuan memeriksa kebenarannya sering tertinggal. Seseorang dapat dengan mudah membagikan tuduhan, memperbesar konflik, atau menyebarkan informasi yang belum terbukti.

Dalam keadaan seperti itu, budaya merawat menjadi semakin penting. Masyarakat perlu belajar bahwa tidak semua informasi harus langsung dipercaya, tidak semua tuduhan harus langsung disebarkan, dan tidak semua perbedaan harus berubah menjadi permusuhan.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar orang-orang beriman melakukan tabayyun ketika menerima suatu berita dari orang yang tidak dapat dipercaya, supaya tidak menimbulkan kerugian dan penyesalan.

Prinsip tabayyun tersebut sangat relevan dalam kehidupan digital. Merawat kepercayaan berarti berhati-hati terhadap informasi yang dapat merusak nama baik seseorang atau memecah hubungan sosial.

Merawat Bukan Berarti Menghindari Kritik

Budaya merawat sering disalah artikan sebagai keharusan untuk selalu mempertahankan keadaan dan menghindari konflik. Padahal, merawat justru kadang membutuhkan kritik. Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah memiliki masalah. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memiliki kemampuan memperbaiki masalah. Institusi yang sehat bukan institusi yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi institusi yang memiliki mekanisme untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan.

Kritik yang disampaikan dengan niat memperbaiki merupakan bagian dari kepedulian. Dalam kehidupan sosial, orang yang benar-benar peduli tidak selalu mengatakan sesuatu yang ingin didengar, tetapi berani menyampaikan sesuatu yang memang perlu diperbaiki.

Karena itu, budaya merawat membutuhkan keseimbangan antara kritik dan penghormatan. Jangan sampai kritik berubah menjadi penghianat, tetapi jangan pula penghormatan berubah menjadi pembiaran.

Masyarakat membutuhkan keberanian untuk mengatakan benar ketika sesuatu benar dan mengatakan salah ketika sesuatu salah. Dengan cara itulah kepercayaan dapat dirawat tanpa mengorbankan prinsip.

Penutup: Merawat Hubungan adalah Bentuk Investasi Sosial

Tidak semua hasil dari budaya merawat dapat langsung terlihat. Ketika seseorang menjaga hubungan dengan tetangga, mungkin tidak ada hasil yang langsung diterima, seseorang menjaga kepercayaan dalam organisasi, mungkin tidak ada penghargaan yang diberikan, seorang pemimpin menjaga integritas institusi, mungkin manfaatnya baru terlihat setelah bertahun-tahun.

Namun, semua itu merupakan investasi sosial.

Masyarakat yang memiliki hubungan kuat akan lebih mampu menghadapi krisis. Ketika bencana terjadi, solidaritas dapat bergerak cepat, ada anggota masyarakat mengalami kesulitan, bantuan dapat muncul dari lingkungan terdekat, terjadi konflik, hubungan yang telah dibangun sebelumnya dapat menjadi jembatan untuk menyelesaikannya.

Sebaliknya, masyarakat yang kehilangan budaya merawat akan lebih mudah terpecah karena tidak memiliki ikatan sosial yang kuat. Karena itu, merawat hubungan sosial sebenarnya sama pentingnya dengan membangun infrastruktur. Jalan menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, sementara kepercayaan menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya.

Share This Article