muslimx.id — Toleransi perbedaan sosial menghadapi tantangan baru di era media sosial. Teknologi seharusnya membuat manusia semakin mudah bertemu dengan berbagai macam orang. Namun kenyataannya, media sosial juga dapat membuat seseorang semakin nyaman hidup dalam lingkungan yang hanya berisi orang-orang yang memiliki selera, kebiasaan, dan pandangan yang sama.
Kita dapat memilih siapa yang ingin diikuti, siapa yang ingin dibaca, siapa yang ingin didengarkan, bahkan siapa yang ingin diblokir. Kebebasan tersebut memang memberikan kenyamanan. Tetapi jika digunakan secara berlebihan, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk berhadapan dengan perbedaan. Ketika bertemu dengan orang yang berbeda, reaksi yang muncul bukan lagi keinginan untuk memahami, melainkan keinginan untuk menjauh.
Persoalan ini tidak hanya terjadi dalam perdebatan besar. Perbedaan pilihan makanan, cara berpakaian, hobi, gaya hidup, cara mengasuh anak, tempat tinggal, hingga cara seseorang menikmati hidup dapat menjadi bahan komentar. Dunia digital membuat kebiasaan menilai orang lain menjadi semakin mudah karena manusia sering melihat kehidupan orang lain hanya melalui potongan-potongan kecil yang muncul di layar.
Ketika Semua Orang Ingin Berada di Lingkungan yang Sama
Media sosial memberikan kemampuan kepada manusia untuk membangun lingkungan sesuai keinginannya. Kita dapat mengikuti akun yang kita sukai dan menghindari konten yang tidak sesuai dengan selera. Lama-kelamaan, seseorang dapat terbiasa melihat dunia dari sudut pandang yang hampir selalu sama.
Masalahnya muncul ketika lingkungan digital tersebut dianggap sebagai gambaran seluruh kenyataan. Seseorang kemudian merasa bahwa cara berpikirnya adalah sesuatu yang paling normal karena hampir semua orang yang muncul di linimasa memiliki pandangan serupa. Ketika bertemu dengan orang yang berbeda, perbedaan itu terlihat jauh lebih besar daripada kenyataannya.
Dari sini muncul kebiasaan memberi label. Orang yang berbeda gaya hidup dianggap aneh, yang tidak mengikuti tren dianggap ketinggalan zaman, yang memiliki pilihan berbeda dianggap tidak cocok untuk dijadikan teman. Bahkan seseorang dapat kehilangan hubungan sosial hanya karena satu unggahan yang dianggap tidak sesuai dengan kelompoknya. Padahal, kehidupan manusia jauh lebih luas daripada apa yang muncul di layar.
Islam Mengajarkan untuk Tidak Mudah Merendahkan
Dalam Islam, perbedaan tidak menjadi alasan bagi manusia untuk saling merendahkan. Al-Qur’an dalam QS Al-Hujurat ayat 11 mengingatkan orang-orang beriman agar tidak merendahkan suatu kaum terhadap kaum yang lain. Larangan tersebut sangat relevan dengan kehidupan media sosial ketika manusia dapat memberikan penilaian kepada orang lain hanya melalui sebuah foto, komentar, atau potongan video.
Masalah terbesar di ruang digital seringkali bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi betapa cepat manusia mengambil kesimpulan. Seseorang melihat satu perilaku kemudian merasa telah memahami seluruh karakter orang tersebut. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Islam juga mengajarkan pentingnya tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan informasi sebelum mengambil kesimpulan. Prinsip ini semakin penting ketika informasi bergerak sangat cepat. Jangan sampai perbedaan yang sebenarnya dapat dipahami justru berubah menjadi permusuhan karena penilaian yang terburu-buru. Toleransi bukan berarti harus menyetujui semua yang dilakukan orang lain. Tetapi sebelum menilai, manusia perlu belajar memahami konteks dan menjaga lisannya.
Partai X Media Sosial Jangan Menjadi Ruang Penghakiman
Rinto Setiyawan, anggota majelis tinggi Partai X, menilai bahwa media sosial seharusnya tidak membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang yang berbeda. “Media sosial memberi kita kebebasan memilih lingkungan. Tetapi jangan sampai kebebasan itu membuat kita hanya mampu berteman dengan orang yang selalu setuju dengan kita,” ujar Rinto.
Menurutnya, perbedaan dalam kehidupan sosial justru dapat menjadi sarana untuk belajar memahami karakter manusia yang beragam. Jika setiap perbedaan langsung dibalas dengan ejekan atau penolakan, masyarakat akan semakin terbiasa dengan budaya penghakiman.
“Tidak semua orang yang berbeda dengan kita adalah orang yang harus dijauhi. Kadang kita hanya belum memahami kehidupannya,” katanya.
Pernyataan tersebut penting karena media sosial sering membuat manusia lupa bahwa di balik setiap akun terdapat manusia nyata. Sebuah komentar yang ditulis dalam beberapa detik dapat mempengaruhi hubungan seseorang selama bertahun-tahun. Sebuah ejekan yang dianggap candaan oleh penulisnya bisa menjadi luka bagi orang lain.
Belajar Tidak Menjadikan Selera sebagai Ukuran Kebenaran
Salah satu persoalan sosial yang semakin terlihat adalah kecenderungan menjadikan selera pribadi sebagai ukuran untuk menilai orang lain. Jika kita menyukai sesuatu, maka sesuatu itu dianggap baik. Jika orang lain tidak menyukainya, ia dianggap tidak memahami kehidupan.
Padahal selera memang bersifat pribadi. Orang dapat memiliki makanan favorit yang berbeda, cara berpakaian yang berbeda, hobi yang berbeda, bahkan cara menikmati waktu luang yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak membutuhkan pembenaran dari orang lain.
Begitu pula dalam gaya hidup. Selama pilihan seseorang tidak merugikan atau mengganggu orang lain, masyarakat perlu memiliki ruang untuk membiarkannya menjadi dirinya sendiri. Tidak semua orang harus mengikuti tren yang sama hanya agar dianggap normal.
Kedewasaan sosial justru terlihat ketika seseorang mampu membedakan antara sesuatu yang memang salah dengan sesuatu yang hanya berbeda dari kebiasaannya.
Penutup: Menghidupkan Kembali Percakapan yang Sehat
Toleransi perbedaan sosial membutuhkan kemampuan untuk berbicara tanpa selalu ingin menang. Media sosial memang menyediakan ruang untuk menyampaikan pendapat, tetapi kehidupan sosial membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar berbicara. Ia membutuhkan kemampuan mendengar.
Ketika menemukan orang yang berbeda, kita tidak selalu harus membalas. Kadang kita cukup memahami bahwa ada orang yang memiliki pengalaman berbeda dengan kita. Jika memang perlu berdiskusi, perbedaan dapat disampaikan dengan bahasa yang santun tanpa merendahkan.
Islam menempatkan akhlak sebagai bagian penting dalam hubungan antar manusia. Perbedaan tidak menghapus kewajiban untuk menjaga lisan. Karena itu, kebebasan berbicara di ruang digital seharusnya berjalan bersama tanggung jawab.
Media sosial seharusnya memperluas pertemanan manusia, bukan mempersempitnya menjadi kelompok-kelompok yang hanya nyaman dengan kesamaan.