muslimx.id — Apa yang membuat seorang pemimpin tetap dikenang ketika kekuasaan telah berakhir? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu renungan yang muncul ketika delegasi Sekolah Negarawan menyimak pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei dalam rangkaian Gala Dinner konferensi di Teheran. Bagi delegasi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut membuka ruang untuk melihat kepemimpinan bukan semata dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, tetapi dari nilai dan jejak yang ditinggalkan.
Pembahasan mengenai kedua tokoh tersebut memperlihatkan beberapa unsur yang menarik untuk dikaji, terutama ilmu, keteladanan dan kemampuan membaca sejarah. Kepemimpinan dalam perspektif tersebut tidak berhenti pada kemampuan mengendalikan institusi atau mengambil keputusan. Ia juga berkaitan dengan kemampuan memahami masyarakat, membaca perubahan zaman dan menentukan arah berdasarkan nilai yang diyakini.

Ketika Ilmu Tidak Berhenti Menjadi Pengetahuan
Imam Khomeini dalam paparan tersebut digambarkan bukan hanya sebagai seorang ulama dengan basis keilmuan agama. Ia juga ditempatkan sebagai tokoh yang terlibat dalam persoalan sosial dan kehidupan masyarakat. Dari pengalaman tersebut terlihat bahwa ilmu memiliki makna yang lebih luas ketika mampu digunakan untuk membaca kenyataan dan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ilmu seorang pemimpin tidak cukup jika hanya tersimpan dalam pengetahuan. Ilmu harus melahirkan kemampuan memahami keadaan, mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan menentukan arah ketika masyarakat menghadapi perubahan. Karena itu, kualitas kepemimpinan sangat berkaitan dengan kualitas cara berpikir orang yang memimpin.
Bagi Sekolah Negarawan, pelajaran tersebut menjadi penting karena Indonesia juga membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki posisi, tetapi memiliki kapasitas untuk memahami persoalan bangsanya. Jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi ilmu dan kemampuan membaca realitas menentukan bagaimana kewenangan tersebut digunakan.
Ketika Keteladanan Menjadi Sumber Kekuatan
Pembahasan mengenai kepemimpinan Imam Khomeini dan Imam Khamenei juga memperlihatkan pentingnya karakter pribadi. Kesederhanaan dan kehidupan yang tidak berlebihan menjadi bagian dari gambaran keteladanan yang dibicarakan. Pesan yang muncul adalah bahwa semakin tinggi sebuah jabatan, tidak semestinya semakin jauh seorang pemimpin dari kehidupan masyarakat.
Keteladanan memiliki kekuatan yang berbeda dengan sekadar perintah. Masyarakat dapat mengikuti seseorang bukan hanya karena kewenangan yang dimilikinya, tetapi karena melihat kesesuaian antara perkataan dan kehidupan yang dijalani. Ketika karakter pribadi pemimpin dipercaya, pesan yang disampaikan memiliki kemungkinan lebih besar untuk diterima.
Dalam konteks kepemimpinan, hal tersebut mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa keteladanan mudah kehilangan makna. Seorang pemimpin dapat memiliki jabatan tinggi, tetapi jika masyarakat tidak menemukan integritas dalam dirinya, maka kekuasaan tersebut akan sulit meninggalkan warisan yang kuat.
Pemimpin Harus Mampu Membaca Perubahan Zaman
Kepemimpinan Imam Ali Khamenei kemudian dikaitkan dengan kebutuhan untuk memahami perubahan lingkungan strategis. Perkembangan teknologi, dinamika dunia internasional dan perubahan kebutuhan masyarakat membuat seorang pemimpin tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan masa lalu. Pemimpin dituntut memiliki kemampuan untuk membaca apa yang sedang berubah dan mempersiapkan masyarakat menghadapi masa depan.
Bagi Sekolah Negarawan, kemampuan membaca zaman merupakan bagian penting dari kapasitas seorang pemimpin. Dunia berubah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya, sementara keputusan yang dibuat hari ini dapat memberikan dampak bagi masyarakat dalam jangka panjang. Karena itu, pemimpin perlu memiliki pandangan yang melampaui persoalan sehari-hari.
Seorang pemimpin pada akhirnya harus mampu menjawab pertanyaan yang lebih besar. Ke mana masyarakat hendak dibawa, nilai apa yang harus dipertahankan dan perubahan apa yang harus dihadapi merupakan pertanyaan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuasaan.
Belajar dari Iran Tanpa Harus Menyalin Iran
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, memandang pengalaman berbagai negara sebagai sumber pembelajaran yang perlu dikaji secara objektif. Karena itu, pembahasan mengenai kepemimpinan Iran tidak ditempatkan semata sebagai bentuk kekaguman terhadap tokoh, tetapi sebagai kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah model kepemimpinan tumbuh dari sejarah dan pengalaman masyarakatnya.
Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mengikuti berbagai diskusi dan pertemuan selama rangkaian kunjungan Sekolah Negarawan di Iran. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar langsung mengenai bagaimana sebuah bangsa membangun institusi, menjaga nilai dan memahami perjalanan sejarahnya.
Pengalaman Iran tentu tidak dapat begitu saja dipindahkan ke Indonesia. Setiap bangsa memiliki sejarah, kebudayaan, sistem kelembagaan dan pengalaman yang berbeda. Namun, nilai seperti integritas, penguasaan ilmu, keteladanan, kedekatan dengan masyarakat dan kemampuan membaca perubahan tetap dapat menjadi bahan refleksi lintas negara.
Kekuasaan Berakhir, Jejak Kepemimpinan Tetap Dikenang
Pada akhirnya, pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei membawa kembali pertanyaan awal tentang apa yang membuat seorang pemimpin bertahan dalam ingatan sejarah. Kekuasaan memiliki batas waktu, jabatan dapat berganti dan sebuah pemerintahan dapat mengalami perubahan. Namun gagasan, keteladanan dan jejak yang ditinggalkan seorang pemimpin dapat bertahan jauh lebih lama.
Dari Teheran, Sekolah Negarawan mendapatkan pelajaran bahwa kepemimpinan tidak cukup diukur dari seberapa besar kewenangan yang berada di tangan seseorang. Kepemimpinan juga harus dilihat dari ilmu yang dimiliki, karakter yang ditunjukkan, kemampuan membaca zaman dan arah masa depan yang diperjuangkan.
Sebab seorang pemimpin pada akhirnya tidak hanya meninggalkan keputusan. Ia meninggalkan contoh bagi generasi setelahnya, meninggalkan nilai yang mungkin diteruskan dan meninggalkan pertanyaan tentang apakah kekuasaan yang pernah dimilikinya benar-benar digunakan untuk memberikan arah bagi masyarakat.
Kekuasaan dapat membuat seseorang dikenal pada zamannya. Namun ilmu, keteladanan dan visi tentang masa depanlah yang dapat membuat seorang pemimpin tetap hidup dalam ingatan sejarah.