Dari Teheran, Sekolah Negarawan Membaca Kepemimpinan: Sebelum Mengendalikan Kekuasaan, Pemimpin Harus Mampu Mengendalikan Diri

muslimX
By muslimX
6 Min Read

muslimx.id Kekuasaan sering kali menjadi ukuran yang paling mudah dilihat dari seorang pemimpin. Semakin besar kewenangan yang dimiliki, semakin tinggi pula posisi seseorang dalam struktur kepemimpinan. Namun di balik besarnya kekuasaan terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yaitu apakah seseorang mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki kewenangan untuk menentukan nasib orang lain.

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu refleksi Sekolah Negarawan setelah mengikuti Gala Dinner konferensi di Teheran yang membahas keteladanan Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei. Bagi delegasi Sekolah Negarawan, pembahasan mengenai kesederhanaan kedua tokoh tersebut memberikan pelajaran bahwa pendidikan kepemimpinan tidak cukup hanya membentuk orang yang cerdas dan mampu mengambil keputusan. Seorang pemimpin juga harus memiliki kekuatan karakter agar kekuasaan tidak berubah menjadi alat untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Salah satu ruangan rumah Imam Khomeini

Kekuasaan Dimulai dari Pengendalian Diri

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, melihat pembahasan mengenai kesederhanaan pemimpin sebagai bagian penting dalam pendidikan negarawan. Menurut perspektif tersebut, seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan membedakan kebutuhan pribadi dengan kepentingan publik. Semakin besar kewenangan yang berada di tangannya, semakin besar pula tuntutan untuk mampu mengendalikan diri.

Jabatan memberikan seseorang banyak kemungkinan. Ia dapat memperoleh fasilitas, memiliki akses terhadap berbagai sumber daya dan mengambil keputusan yang berdampak kepada banyak orang. Karena itu, ukuran kepemimpinan bukan hanya terletak pada kemampuan menggunakan kewenangan, tetapi juga kemampuan menahan diri ketika kewenangan tersebut dapat digunakan untuk kepentingan pribadi.

Dalam konteks ini, kesederhanaan bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Kesederhanaan dapat menjadi sikap batin yang membuat seseorang tidak mudah diperbudak oleh jabatan yang sedang dimilikinya.

Zuhud sebagai Sikap dalam Memegang Amanah

Dalam perspektif Islam, gagasan zuhud sering dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Ketika gagasan tersebut dibawa ke dalam pendidikan kepemimpinan, zuhud dapat dipahami sebagai sikap mental dalam memperlakukan kekuasaan. Jabatan tidak ditempatkan sebagai milik pribadi, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Seorang pemimpin yang memiliki sikap tersebut tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk memenuhi ambisi pribadi. Ia memahami bahwa semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula tanggung jawab yang melekat pada dirinya. Kesederhanaan akhirnya bukan berarti menolak fasilitas atau menghindari kemajuan, tetapi kemampuan untuk mengetahui batas antara hak pribadi dan kepentingan publik.

Pelajaran semacam ini menjadi relevan dalam pendidikan negarawan. Sebab seseorang dapat memiliki kecerdasan tinggi dan kemampuan organisasi yang kuat, tetapi tanpa pengendalian diri, kemampuan tersebut dapat digunakan untuk tujuan yang keliru.

Masyarakat Belajar dari Kehidupan Pemimpinnya

Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mengikuti rangkaian agenda dan diskusi mengenai kepemimpinan selama kunjungan di Iran. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah posisi keteladanan personal dalam membentuk budaya kepemimpinan. Masyarakat tidak hanya mendengar apa yang disampaikan seorang pemimpin, tetapi juga memperhatikan bagaimana pemimpin tersebut menjalani kehidupannya.

Cara seseorang memperlakukan orang lain, menggunakan fasilitas, menghadapi kritik dan menjalankan kewenangan merupakan bagian dari pendidikan publik yang berlangsung tanpa kurikulum tertulis. Ketika seorang pemimpin menunjukkan disiplin dan kesederhanaan, lingkungan di sekitarnya dapat menangkap pesan bahwa jabatan bukan alasan untuk hidup tanpa batas. Sebaliknya, ketika kekuasaan digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi, perilaku tersebut juga dapat menjadi contoh buruk bagi organisasi dan masyarakat.

Karena itu, karakter seorang pemimpin memiliki pengaruh yang jauh lebih luas daripada dirinya sendiri. Pemimpin bukan hanya mengarahkan organisasi melalui keputusan, tetapi juga membentuk kebiasaan melalui perilaku yang setiap hari dilihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Ketika Tidak Ada Aturan yang Mengawasi

Salah satu ujian terbesar kepemimpinan justru muncul ketika seseorang berada dalam keadaan tidak diawasi. Selama aturan memberikan batas yang jelas, seseorang masih memiliki pedoman eksternal untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Namun kehidupan kepemimpinan sering menghadirkan situasi yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh aturan.

Pada saat itulah karakter mengambil peran. Seorang pemimpin yang memiliki integritas tetap mampu memilih yang benar meskipun memiliki kesempatan untuk melakukan sebaliknya. Pengendalian diri menjadi kekuatan yang bekerja dari dalam ketika pengawasan dari luar tidak lagi cukup.

Karena itu, pendidikan kepemimpinan tidak seharusnya hanya bertanya apakah seseorang mampu memimpin orang lain. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah seseorang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum menerima amanah untuk memimpin masyarakat.

Pelajaran dari Teheran untuk Pendidikan Negarawan

Pengalaman Iran tentu lahir dari sejarah, budaya dan sistem yang memiliki konteksnya sendiri. Tidak semua bentuk kepemimpinan di Iran dapat diterapkan begitu saja di Indonesia. Namun prinsip mengenai integritas, kesederhanaan dan pengendalian diri merupakan nilai yang dapat menjadi bahan pembelajaran di berbagai lingkungan kepemimpinan.

Bagi Sekolah Negarawan, seorang pemimpin masa depan harus dibentuk secara utuh. Kecerdasan intelektual diperlukan untuk memahami persoalan, kemampuan strategis dibutuhkan untuk menentukan arah, tetapi kekuatan karakter diperlukan agar semua kemampuan tersebut tetap berada dalam koridor amanah.

Dari Teheran, muncul sebuah pelajaran yang sederhana tetapi mendasar. Pemimpin yang tidak mampu mengendalikan dirinya akan mudah dikendalikan oleh kekuasaan. Sebaliknya, pemimpin yang mampu menguasai dirinya memiliki peluang lebih besar untuk menggunakan kekuasaan sebagai amanah.

Pada akhirnya, kualitas seorang pemimpin tidak hanya terlihat ketika ia sedang berbicara di hadapan banyak orang. Kualitas itu justru terlihat ketika ia memiliki kesempatan untuk mengambil sesuatu bagi dirinya sendiri, tetapi memilih mendahulukan kepentingan yang lebih besar. Sebelum memimpin orang lain, seorang pemimpin harus terlebih dahulu belajar memimpin dirinya sendiri.

Share This Article