Budaya Menormalisasi Ketidaknyamanan: Ketika Masyarakat Kehilangan Keberanian untuk Menuntut Perbaikan

muslimX
By muslimX
7 Min Read

muslimx.id  — Budaya menormalisasi ketidaknyamanan tidak selalu lahir karena masyarakat benar-benar merasa nyaman dengan keadaan yang buruk. Sering kali masyarakat sebenarnya terganggu, kecewa, bahkan dirugikan, tetapi memilih diam karena merasa tidak enak untuk mempersoalkannya. Ada kekhawatiran dianggap terlalu banyak menuntut, tidak sabar, merepotkan orang lain, atau bahkan dianggap tidak tahu bersyukur.

Kebiasaan seperti ini terlihat dalam banyak situasi sederhana. Ketika pelayanan terlalu lama, orang memilih menunggu. Saat fasilitas umum tidak layak, masyarakat memilih beradaptasi. Ketika harga tidak jelas, pembeli memilih membayar daripada bertanya panjang. Lama-kelamaan, diam menjadi kebiasaan dan ketidaknyamanan berubah menjadi sesuatu yang diterima begitu saja.

Takut Dianggap Merepotkan

Ada budaya sosial yang sebenarnya baik tetapi dapat berubah menjadi persoalan ketika diterapkan secara berlebihan, yaitu keengganan untuk merepotkan orang lain. Masyarakat Indonesia dikenal memiliki budaya menjaga perasaan, menghormati orang lain, dan menghindari konflik. Namun ketika sikap tersebut membuat seseorang tidak berani menyampaikan persoalan yang memang perlu diperbaiki, nilai kesopanan justru dapat berubah menjadi penghambat perbaikan.

Seseorang akhirnya lebih memilih berkata, “Sudahlah, tidak apa-apa,” meskipun sebenarnya ada sesuatu yang tidak beres. Kalimat tersebut mungkin tidak bermasalah ketika digunakan untuk memaafkan kesalahan kecil dalam hubungan pribadi. Tetapi jika digunakan terus-menerus terhadap persoalan pelayanan, fasilitas publik, keselamatan, atau hak masyarakat, “tidak apa-apa” dapat menjadi pintu masuk bagi masalah yang terus berulang.

Ketika Diam Dianggap sebagai Kesabaran

Dalam kehidupan sosial, orang yang tidak banyak protes sering dianggap lebih sabar. Mereka yang menerima keadaan tanpa banyak bicara dipandang sebagai orang yang mudah beradaptasi. Sebaliknya, orang yang mempertanyakan sesuatu terkadang dicap sebagai pribadi yang sulit menerima keadaan.

Padahal Islam tidak menyamakan kesabaran dengan sikap membiarkan kemungkaran atau ketidakadilan. Kesabaran merupakan kemampuan mengendalikan diri dan tetap berada dalam kebaikan ketika menghadapi ujian, bukan alasan untuk menghentikan ikhtiar memperbaiki keadaan. Ada perbedaan antara menerima sesuatu yang memang berada di luar kemampuan manusia dan membiarkan sesuatu yang sebenarnya dapat diperbaiki.

Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 104 tentang adanya kelompok yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Pesan ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat membutuhkan keberanian moral untuk menyampaikan sesuatu yang benar dan memperbaiki sesuatu yang salah.

Karena itu, menyampaikan keluhan dengan cara yang baik tidak seharusnya dianggap sebagai bentuk ketidaksabaran. Justru dalam kondisi tertentu, keberanian menyampaikan masalah merupakan bentuk kepedulian agar persoalan tidak terus diwariskan.

Masyarakat Tidak Harus Marah untuk Bersikap Kritis

Masalah lain dalam budaya menormalisasi ketidaknyamanan adalah seolah-olah hanya ada dua pilihan: diam atau marah. Padahal keduanya bukan satu-satunya jalan. Masyarakat dapat menyampaikan kritik dengan tenang, jelas, dan berdasarkan persoalan yang nyata.

Ketika sebuah pelayanan lambat, masyarakat dapat meminta penjelasan. Saat harga tidak transparan, konsumen dapat bertanya. Ketika fasilitas umum rusak, warga dapat melaporkan dan meminta tindak lanjut. Ketika prosedur terlalu rumit, masyarakat dapat mempertanyakan apakah prosedur tersebut memang diperlukan.

Sikap kritis tidak harus identik dengan permusuhan. Justru masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang mampu membedakan kritik terhadap persoalan dengan serangan terhadap pribadi. Dengan cara itu, keberanian menyampaikan ketidaknyamanan dapat menjadi bagian dari budaya perbaikan, bukan budaya pertengkaran.

Rasa Syukur Tidak Berarti Menerima Semua Keadaan

Ada pula pemahaman yang perlu diluruskan mengenai rasa syukur. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang dinasehati untuk bersyukur ketika mengeluhkan kondisi yang kurang baik. Nasihat tersebut pada dasarnya memiliki nilai positif, tetapi dapat menjadi keliru apabila digunakan untuk menghentikan setiap kritik.

Bersyukur tidak berarti berhenti berusaha. Seorang Muslim dapat bersyukur atas apa yang dimiliki sekaligus berikhtiar memperbaiki sesuatu yang masih kurang. Masyarakat dapat bersyukur karena memiliki fasilitas publik sekaligus berharap fasilitas itu dirawat dengan lebih baik. Masyarakat dapat menghargai pelayanan yang diberikan sekaligus meminta agar pelayanan tersebut semakin cepat dan manusiawi.

Islam sendiri mengajarkan keseimbangan antara menerima nikmat dan melakukan ikhtiar. Syukur bukan alasan untuk mempertahankan kualitas yang buruk. Sebaliknya, kesadaran bahwa kehidupan merupakan amanah seharusnya mendorong manusia untuk terus memperbaiki apa yang berada dalam tanggung jawabnya.

Partai X: Kritik Tidak Selalu Berarti Tidak Bersyukur

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, melihat bahwa masyarakat perlu membedakan antara sikap tidak puas yang konstruktif dan kebiasaan mengeluh tanpa tujuan. Menurutnya, keberanian menyampaikan persoalan justru diperlukan agar berbagai ketidaknyamanan tidak terus dianggap sebagai keadaan yang normal.

“Jangan sampai masyarakat merasa bahwa kalau menyampaikan keluhan berarti tidak bersyukur. Ada perbedaan antara tidak bersyukur dengan mengingatkan bahwa sesuatu masih bisa diperbaiki. Kritik yang disampaikan dengan baik justru menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli,” ujar Rinto.

Menurutnya, budaya perbaikan membutuhkan keberanian dari dua sisi. Masyarakat harus berani menyampaikan persoalan secara bertanggung jawab, sementara pihak yang menerima kritik juga harus memiliki keterbukaan untuk mendengar. Jika masyarakat selalu takut berbicara dan penyelenggara selalu menganggap kritik sebagai gangguan, maka ketidaknyamanan akan terus berputar dalam pola yang sama.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan konflik besar. Sering kali perubahan justru dimulai dari keberanian sederhana untuk mengatakan, “Ini belum baik, dan sepertinya masih bisa diperbaiki.”

Penutup: Dari Budaya Diam Menuju Budaya Memperbaiki

Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang selalu merasa puas, tetapi juga bukan masyarakat yang selalu mengeluh. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengenali persoalan, menyampaikannya secara proporsional, dan ikut mencari jalan keluarnya.

Di sinilah budaya menormalisasi ketidaknyamanan perlu dihentikan. Jalan yang rusak tidak harus dimaki, tetapi harus dilaporkan. Pelayanan yang lambat tidak harus dibalas dengan kemarahan, tetapi perlu dipertanyakan. Harga yang tidak jelas tidak harus menjadi pertengkaran, tetapi konsumen berhak meminta penjelasan.

Islam mengajarkan bahwa kehidupan bersama membutuhkan keberanian untuk menjaga kebaikan. Jika semua orang memilih diam karena takut dianggap merepotkan, maka masalah kecil dapat berubah menjadi masalah besar. Sebaliknya, ketika masyarakat berani menyampaikan persoalan dengan adab dan pihak yang berwenang bersedia memperbaiki, ketidaknyamanan tidak lagi menjadi sesuatu yang diwariskan.

Sebab masyarakat yang maju bukan masyarakat yang tidak pernah mengalami masalah. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang tidak terlalu lama membiarkan masalah menjadi kebiasaan.

Share This Article