Paris Jadi Ruang Kelas Sekolah Negarawan, Sejarah Mengajarkan Cara Membaca Masa Depan

muslimX
By muslimX
7 Min Read

PARIS — Tidak semua ruang belajar memiliki papan tulis dan bangku yang tersusun rapi. Ada pelajaran yang justru lebih kuat ketika dipelajari melalui bangunan tua, museum, monumen, jalan kota, dan jejak sejarah yang masih hidup di tengah masyarakat.

Paris menjadi ruang belajar semacam itu bagi delegasi Sekolah Negarawan pada September 2025. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya mengunjungi sejumlah situs sejarah dan kebudayaan yang menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Perancis.

Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Champs-Élysées, Louvre, Les Invalides dan makam Napoleon, Notre-Dame de Paris, hingga Musée de Cluny menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Tempat-tempat itu bukan hanya tujuan wisata, tetapi juga ruang untuk membaca bagaimana sebuah bangsa membangun identitas, merawat ingatan, memahami kekuasaan, dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.

Ketika Bangunan Menjadi Guru

Menara Eiffel misalnya, tidak hanya dapat dilihat sebagai bangunan ikonik Paris. Di balik struktur tersebut terdapat cerita tentang keberanian manusia menghadirkan gagasan baru dan kemampuan teknologi menjadi bagian dari identitas sebuah bangsa.

Arc de Triomphe menghadirkan pelajaran yang berbeda. Monumen itu memperlihatkan bagaimana sebuah bangsa merawat ingatan tentang perjalanan sejarahnya melalui simbol yang ditempatkan di ruang publik.

Sementara Louvre memperlihatkan pentingnya merawat karya seni dan warisan pengetahuan. Museum tersebut menjadi pengingat bahwa benda-benda dari masa lalu bukan sekadar koleksi, melainkan pintu untuk memahami bagaimana manusia pada zaman berbeda memandang kehidupan, kekuasaan, kebudayaan, dan dirinya sendiri.

Les Invalides kemudian membawa perjalanan pada sejarah kepemimpinan dan kekuasaan melalui jejak Napoleon. Sedangkan Notre-Dame de Paris dan Musée de Cluny memperlihatkan bagaimana warisan peradaban dapat bertahan melewati perubahan zaman.

Jika seluruh pengalaman tersebut dirangkai, Paris seolah memberikan satu pelajaran besar: sebuah bangsa tidak dibangun hanya melalui kebijakan pemerintah. Di belakang sebuah negara terdapat sejarah, simbol, kebudayaan, institusi, ingatan kolektif, dan kemampuan masyarakat merawat warisan yang mereka miliki.

Negarawan Tidak Boleh Terjebak pada Hari Ini

Di sinilah sejarah memiliki hubungan erat dengan pendidikan kenegarawanan. Seorang pemimpin mungkin dituntut menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi seorang negarawan harus memiliki kemampuan melihat apa yang terjadi jauh setelah dirinya tidak lagi berada di pusat kekuasaan.

Perbedaan itu terletak pada cara memandang waktu. Pemimpin politik dapat bekerja dalam batas masa jabatan, sementara seorang negarawan dituntut berpikir dalam rentang generasi.

Kisah Napoleon di Paris memberikan contoh yang menarik. Ia pernah memiliki kekuasaan besar dan memengaruhi perjalanan Eropa, tetapi pada akhirnya dirinya tetap menjadi bagian dari sejarah yang terus dibaca dan dinilai oleh generasi setelahnya.

Pelajarannya bukan semata tentang keberhasilan atau kegagalan seorang tokoh. Lebih jauh, sejarah mengingatkan bahwa setiap keputusan pemimpin akan meninggalkan konsekuensi yang dapat bertahan jauh lebih lama daripada masa kekuasaannya.

Karena itu, kekuasaan tidak seharusnya dipahami sebagai tujuan akhir. Kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, sejarah, bahkan kepada generasi yang belum lahir.

Indonesia Juga Memiliki Ruang Kelas Sejarah

Perjalanan ke Paris pada akhirnya membawa pertanyaan kembali kepada Indonesia. Jika Paris dapat dibaca melalui bangunan dan jejak peradabannya, apakah Indonesia sudah cukup serius membaca sejarah yang ada di negerinya sendiri?

Indonesia memiliki ruang belajar yang tidak kalah kaya. Borobudur, Prambanan, Banten Lama, Kota Tua Jakarta, Kesultanan Yogyakarta, pesantren-pesantren tua, museum perjuangan, serta berbagai situs sejarah di Nusantara menyimpan begitu banyak pengetahuan tentang perjalanan bangsa.

Persoalannya bukan Indonesia kekurangan sejarah. Persoalannya adalah bagaimana sejarah tersebut dibaca dan dihubungkan dengan persoalan hari ini.

Situs sejarah tidak seharusnya hanya menjadi tempat kunjungan wisata atau latar belakang foto. Di dalamnya terdapat pertanyaan tentang bagaimana masyarakat terdahulu membangun kehidupan, menghadapi konflik, mengelola kekuasaan, mengembangkan pengetahuan, dan mempertahankan nilai yang mereka anggap penting.

Ketika sejarah mampu dibaca dengan cara seperti itu, tempat-tempat bersejarah dapat berubah menjadi ruang pendidikan kenegarawanan yang nyata. Generasi muda tidak hanya mengetahui bahwa sebuah bangunan pernah berdiri ratusan tahun lalu, tetapi juga memahami mengapa warisan tersebut penting bagi kehidupan bangsa hari ini.

Membaca Masa Lalu untuk Menentukan Arah

Pendidikan kenegaraan membutuhkan perspektif yang lebih panjang daripada sekadar memahami sistem pemerintahan. Ia membutuhkan kemampuan untuk melihat hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dari sejarah, generasi muda dapat bertanya tentang nilai apa yang harus dipertahankan, kesalahan apa yang tidak boleh diulangi, dan warisan seperti apa yang ingin diberikan kepada generasi berikutnya.

Pertanyaan semacam ini penting karena masa depan sebuah bangsa tidak pernah benar-benar dimulai dari nol. Setiap generasi menerima warisan dari generasi sebelumnya, kemudian memiliki tanggung jawab untuk menentukan apakah warisan itu akan dipelihara, diperbaiki, atau justru hilang.

Dalam konteks itulah perjalanan Sekolah Negarawan ke Paris dapat dipahami sebagai perjalanan intelektual. Kota menjadi ruang kelas, bangunan menjadi bahan pembelajaran, dan sejarah menjadi guru yang tidak pernah selesai memberikan pelajaran.

Dari Paris untuk Indonesia

Menara Eiffel pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah menara. Louvre bukan hanya tentang museum. Napoleon bukan sekadar nama dalam buku sejarah, sementara Notre-Dame bukan hanya sebuah bangunan keagamaan.

Semuanya menjadi pintu untuk memahami bagaimana manusia membangun peradaban dan bagaimana sebuah bangsa berusaha menjaga hubungan dengan masa lalunya.

Pelajaran itu kemudian kembali kepada Indonesia. Bangsa yang ingin membangun masa depan tidak cukup hanya berbicara tentang teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau pembangunan infrastruktur. Ia juga harus memiliki kemampuan merawat ingatan dan memahami perjalanan yang telah membentuk dirinya.

Sebab bangsa yang tidak memahami masa lalunya akan lebih mudah kehilangan arah ketika menghadapi masa depan. Sebaliknya, bangsa yang mampu membaca sejarah dengan jernih memiliki bekal untuk menentukan ke mana ia hendak berjalan.

Dari Paris, Sekolah Negarawan menemukan bahwa ruang kelas kenegarawanan sebenarnya ada di mana-mana. Yang dibutuhkan bukan selalu bangunan baru, melainkan kemauan untuk melihat sejarah sebagai sumber pengetahuan.

Pada akhirnya, membangun masa depan bukan berarti meninggalkan masa lalu. Seorang negarawan justru harus mampu membaca masa lalu agar tidak salah menentukan arah masa depan.

Share This Article