Dari Barbeque ke Ruang Dialog: Sekolah Negarawan Bertemu Pengusaha Indonesia di Belanda

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id — Percakapan tentang bangsa dan masa depan Indonesia tidak selalu harus berlangsung di ruang konferensi dengan suasana yang formal. Kadang, gagasan justru tumbuh lebih leluasa dari sebuah meja makan, ketika orang-orang dari latar belakang berbeda duduk bersama tanpa sekat. Suasana seperti itulah yang dirasakan delegasi Sekolah Negarawan ketika bertemu dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia di Belanda (ASPINA) di Koerillen, Capelle aan den IJssel.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana barbeque tersebut mempertemukan para pengusaha Indonesia di Belanda dengan jajaran Sekolah Negarawan. Hadir Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Dari ASPINA, hadir ketua, wakil ketua, dan sejumlah anggota yang selama ini berkecimpung dalam aktivitas bisnis dan perdagangan Indonesia di Belanda.

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman tentang Indonesia dari berbagai sudut pandang. Kehadirian Prof. Ruard Ganzevoort, Rektor International Institute of Social Studies (ISS) Den Haag, Universitas Rotterdam, turut memperluas pembicaraan ke wilayah ilmu sosial, kepemimpinan publik, pembangunan, dan tantangan globalisasi.

Ketika Meja Makan Menjadi Ruang Diplomasi

Diplomasi sering kali dibayangkan sebagai pertemuan resmi antarpemerintah. Padahal, hubungan antarbangsa juga dibangun melalui perjumpaan masyarakatnya. Pengusaha, akademisi, diaspora, komunitas, dan berbagai kelompok masyarakat dapat menjadi bagian dari percakapan yang mempertemukan pengalaman satu bangsa dengan bangsa lainnya.

Suasana barbeque di Koerillen memperlihatkan bentuk sederhana dari perjumpaan semacam itu. Tidak ada panggung besar atau jarak protokoler yang membatasi percakapan. Para peserta dapat berbicara mengenai pengalaman mereka secara lebih terbuka, mulai dari persoalan bisnis dan birokrasi hingga bagaimana Indonesia dipandang dari lingkungan Eropa.

Bagi Sekolah Negarawan, model pertemuan seperti ini memiliki nilai tersendiri. Dialog tidak hanya membutuhkan gagasan, tetapi juga ruang yang memungkinkan orang saling mendengarkan. Pengalaman pengusaha Indonesia yang menjalankan aktivitas bisnis di Belanda memberikan perspektif praktis yang berbeda dari perspektif akademisi maupun peneliti.

Dari pertemuan semacam itu, diplomasi tidak lagi hanya berbicara mengenai hubungan antarnegara. Ia bergerak menjadi hubungan antarmanusia.

Diaspora dan Cerita tentang Indonesia dari Eropa

Para pengusaha Indonesia yang tinggal dan menjalankan aktivitas ekonomi di Belanda memiliki pengalaman langsung berhadapan dengan lingkungan bisnis dan tata kelola di Eropa. Pengalaman tersebut menjadi bahan penting untuk melihat Indonesia dari jarak yang berbeda.

Dalam suasana dialog, persoalan iklim investasi dan birokrasi menjadi bagian dari pembicaraan. Bagi para diaspora yang beraktivitas di luar negeri, kualitas tata kelola negara memiliki hubungan langsung dengan peluang kolaborasi ekonomi. Hubungan bisnis tidak hanya membutuhkan modal dan pasar, tetapi juga membutuhkan kepastian aturan serta sistem administrasi yang dapat dipercaya.

Perspektif semacam ini memperlihatkan bahwa diaspora bukan hanya kelompok masyarakat Indonesia yang tinggal jauh dari tanah air. Mereka juga membawa pengalaman, pengetahuan, jejaring, dan perbandingan yang dapat menjadi bahan percakapan bagi pembangunan Indonesia.

Karena itu, hubungan dengan diaspora dapat ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperluas ruang belajar bangsa. Pengalaman yang mereka dapatkan di negara lain dapat menjadi cermin untuk melihat berbagai persoalan di dalam negeri secara lebih jernih.

Dari Gagasan Kenegaraan Menuju Teknologi

Pembicaraan dalam pertemuan tersebut kemudian berkembang pada persoalan tata kelola pemerintahan. Sekolah Negarawan memperkenalkan Enygma yang dikembangkan dalam ekosistem Enygma Solusi Negeri di bawah kepemimpinan Erick Karya.

Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence menjadi bagian dari pembahasan karena perkembangan teknologi membuka kemungkinan baru dalam pengolahan data dan pengambilan keputusan. Dalam gagasan yang diperkenalkan Sekolah Negarawan, teknologi dapat digunakan untuk membantu pemerintah membaca informasi secara lebih terstruktur dan memahami kebutuhan masyarakat dengan dukungan data.

Pembahasan ini mempertemukan dua dunia yang sering berjalan secara terpisah. Di satu sisi terdapat pemikiran tentang negara, kepemimpinan, dan tata kelola. Di sisi lain terdapat perkembangan teknologi yang semakin cepat. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar seberapa canggih teknologi yang dapat dibuat, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam kehidupan pemerintahan.

Teknologi tetap membutuhkan manusia yang memahami tujuan penggunaannya. Data dapat membantu membaca persoalan, tetapi keputusan publik tetap berkaitan dengan nilai, tanggung jawab, dan kepentingan masyarakat. Karena itu, perbincangan mengenai teknologi pemerintahan tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang etika dan kepemimpinan.

Membawa Pengalaman Eropa ke Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Rinto Setiyawan juga membagikan pengalaman perjalanan Sekolah Negarawan selama melakukan ekspedisi di sejumlah negara Eropa. Perjalanan tersebut mencakup Perancis, Belgia, Belanda, dan Jerman, kemudian dilanjutkan dengan pengamatan di Finlandia dan Estonia.

Setiap tempat memberikan pengalaman yang berbeda bagi tim. Finlandia menjadi bagian dari pengamatan terhadap pendidikan dan kehidupan sosial, sementara Estonia memberikan pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi informasi dalam penyelenggaraan layanan pemerintahan.

Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan ke negara lain. Pengalaman lapangan digunakan untuk melihat bagaimana negara-negara tersebut membangun sistem, mengelola masyarakat, dan memanfaatkan perkembangan teknologi dalam kehidupan publik.

Namun, apa yang ditemukan di luar negeri tidak serta-merta dapat dipindahkan begitu saja ke Indonesia. Setiap bangsa memiliki sejarah, budaya, struktur sosial, dan persoalan yang berbeda. Karena itu, pengalaman internasional lebih tepat ditempatkan sebagai bahan pembanding dan sumber pembelajaran.

Di sinilah perjalanan menjadi penting. Melihat negara lain bukan berarti mencari model yang harus ditiru seluruhnya, melainkan membuka kemungkinan untuk bertanya kembali tentang apa yang sudah dan belum dilakukan di negeri sendiri.

Merawat Hubungan Indonesia di Perantauan

Pertemuan di Capelle aan den IJssel akhirnya mempertemukan tiga ruang yang berbeda, yakni dunia pendidikan dan riset, dunia usaha diaspora, serta lingkungan akademik internasional. Masing-masing membawa pengalaman dan cara pandang yang berbeda terhadap persoalan Indonesia.

Kehangatan barbeque menjadi latar sederhana bagi percakapan yang membahas persoalan yang jauh lebih luas. Dari meja makan, pembicaraan bergerak menuju tata kelola, teknologi, ekonomi, pendidikan, kepemimpinan, hingga posisi Indonesia dalam hubungan internasional.

Pertemuan semacam ini menunjukkan bahwa membangun Indonesia tidak hanya menjadi urusan mereka yang berada di dalam negeri. Warga Indonesia yang hidup dan bekerja di luar negeri juga memiliki pengalaman yang dapat memperkaya percakapan tentang masa depan bangsa.

Bagi Sekolah Negarawan, silaturahmi tersebut menjadi bagian dari perjalanan membangun jaringan dialog yang lebih luas. Pengalaman dari Eropa dibawa kembali ke Indonesia, sementara pengalaman para diaspora menjadi bahan untuk memahami Indonesia dari perspektif yang berbeda.

Dari sebuah halaman belakang di Capelle aan den IJssel, muncul satu gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah bangsa dapat terus terhubung dengan warganya. Jarak geografis tidak harus menjadi jarak gagasan. Selama masih ada ruang untuk bertemu, berbicara, dan saling mendengarkan, pengalaman dari berbagai tempat dapat kembali menemukan jalannya untuk memberi makna bagi kehidupan Indonesia.

Share This Article