Sekolah Negarawan Menelusuri Jejak Multatuli di Amsterdam: Ketika Sastra Menjadi Suara Perlawanan

muslimX
By muslimX
9 Min Read

muslimx.id — Sebuah karya sastra terkadang mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh laporan atau dokumen politik. Ia dapat membawa pembaca masuk ke dalam kehidupan manusia lain, merasakan penderitaan yang jauh dari tempat mereka berada, lalu mempertanyakan mengapa ketidakadilan itu dibiarkan berlangsung.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bahan refleksi delegasi Sekolah Negarawan ketika mengunjungi Museum Multatuli di Amsterdam, Belanda. Museum yang berkaitan dengan kehidupan Eduard Douwes Dekker tersebut membawa rombongan kembali pada salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah kolonialisme Belanda, Max Havelaar.

Kunjungan itu bukan sekadar melihat peninggalan seorang penulis. Di dalamnya terdapat pembicaraan mengenai keberanian menyuarakan ketidakadilan, kekuatan literasi dalam membangun kesadaran, serta pertanyaan tentang bagaimana kritik terhadap kekuasaan tetap relevan dalam kehidupan bernegara.

Dari Amsterdam, Membaca Kembali Kisah Lebak

Delegasi Sekolah Negarawan yang mengunjungi museum terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Mereka didampingi Syafiih Kamil selaku Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa yang membantu memberikan konteks mengenai sejarah dan perjalanan Multatuli.

Di dalam museum, delegasi mengamati berbagai koleksi yang berkaitan dengan Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, termasuk edisi awal Max Havelaar dan arsip yang merekam berbagai perdebatan setelah karya tersebut diterbitkan.

Novel itu membawa pembaca pada kehidupan masyarakat di Lebak, Banten, pada masa kolonial. Melalui kisah yang dibangunnya, Multatuli menggambarkan penderitaan masyarakat akibat praktik eksploitasi dan penyalahgunaan kekuasaan yang melibatkan struktur kolonial serta elite lokal.

Karya tersebut kemudian berkembang jauh melampaui sebuah novel. Ia menjadi salah satu karya yang ikut membentuk perdebatan mengenai kolonialisme dan perlakuan terhadap masyarakat di wilayah jajahan.

Pramoedya Ananta Toer bahkan menyebut Max Havelaar sebagai buku yang membunuh kolonialisme. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh karya Multatuli dalam membangun kesadaran mengenai persoalan kolonialisme di tengah masyarakat Eropa.

Ketika Sastra Menggerakkan Kesadaran

Bagi Rinto Setiyawan, kisah Multatuli menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari ruang kekuasaan. Ia juga dapat lahir dari keberanian seseorang menulis dan menghadirkan penderitaan manusia ke dalam ruang kesadaran publik.

Multatuli tidak berada dalam posisi sebagai pemimpin gerakan politik besar ketika menulis Max Havelaar. Namun melalui karya sastra, ia membuka persoalan yang sebelumnya dapat tersembunyi di balik struktur kekuasaan.

Sastra memiliki kekuatan karena ia tidak hanya menyampaikan informasi. Ia dapat membangun empati.

Pembaca tidak sekadar diberi tahu bahwa ada ketidakadilan. Pembaca diajak memasuki kehidupan manusia yang mengalami ketidakadilan tersebut. Dari sanalah muncul kegelisahan moral yang dapat berkembang menjadi pertanyaan sosial dan politik.

Dalam konteks tersebut, literasi memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi dapat menjadi jalan bagi masyarakat untuk mengenali persoalan di sekitarnya dan mempertanyakan keadaan yang dianggap biasa.

Multatuli dan Cak Nun: Kritik Melalui Kebudayaan

Rinto melihat terdapat relevansi antara pendekatan Multatuli dengan tradisi kritik sosial yang dibangun Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Cak Nun sendiri menjadi salah satu fondasi dalam kurikulum Sekolah Negarawan.

Keduanya tentu lahir dari konteks zaman dan persoalan yang berbeda. Namun terdapat kesamaan dalam cara kebudayaan digunakan sebagai ruang untuk menyampaikan kritik terhadap kehidupan masyarakat.

Kritik tidak selalu harus hadir dalam bahasa kekuasaan. Ia dapat hadir melalui sastra, musik, kebudayaan, dialog, maupun refleksi kehidupan sehari-hari.

Di sinilah kekuatan kebudayaan. Ia mampu menyentuh wilayah kesadaran manusia yang terkadang tidak dapat dijangkau oleh pendekatan administratif.

Perubahan masyarakat membutuhkan sistem yang baik, tetapi sistem juga membutuhkan manusia yang memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan. Tanpa kepekaan tersebut, berbagai bentuk penyimpangan dapat perlahan dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Membaca Masa Lalu untuk Mengkritik Masa Kini

Museum Multatuli juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Belanda hari ini berhadapan dengan sejarah kolonialnya sendiri.

Sejarah tidak hanya dirayakan ketika membicarakan kejayaan. Masa lalu yang kelam juga perlu dibicarakan secara terbuka agar generasi berikutnya memahami konsekuensi dari praktik kekuasaan yang tidak adil.

Bagi Syafiih Kamil, cara masyarakat modern membaca kembali sejarah tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi Indonesia. Salah satu persoalan yang perlu terus diwaspadai adalah munculnya kembali pola hubungan kekuasaan yang menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus tunduk tanpa ruang yang cukup untuk mengawasi dan mengkritik.

Kolonialisme memang telah berakhir, tetapi pola-pola ketidakadilan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda apabila masyarakat kehilangan keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan.

Karena itu, membaca Max Havelaar pada hari ini bukan hanya membaca cerita tentang masa kolonial. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk bertanya apakah masyarakat modern telah benar-benar terbebas dari berbagai bentuk eksploitasi, kesewenang-wenangan, dan hubungan kekuasaan yang tidak sehat.

Teknologi dan Tantangan Tata Kelola Modern

Persoalan ketidakadilan juga membawa pembicaraan pada tantangan pemerintahan modern. Erick Karya, CEO Enygma, melihat bahwa perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan.

Sekolah Negarawan memperkenalkan Enygma sebagai gagasan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung tata kelola pemerintahan. Teknologi dapat membantu pemerintah mengelola data, membaca kondisi masyarakat, dan meningkatkan ketepatan dalam merumuskan kebijakan.

Namun teknologi tidak otomatis menjamin keadilan. Sistem yang canggih tetap membutuhkan manusia yang memiliki orientasi moral dan keberanian untuk memastikan bahwa kebijakan tidak justru memperbesar ketimpangan.

Karena itu, pembicaraan mengenai AI dalam pemerintahan perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Teknologi seharusnya membantu negara mengenali kebutuhan masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan, bukan sekadar mempercepat proses birokrasi.

Di sinilah gagasan tentang kenegarawanan menjadi penting. Kemajuan teknologi perlu berjalan bersama tanggung jawab manusia yang menggunakannya.

Dari Multatuli untuk Indonesia

Kunjungan ke Museum Multatuli menjadi bagian dari ekspedisi internasional Sekolah Negarawan yang selama sekitar dua tahun membawa mereka menelusuri berbagai negara dan kawasan.

Perjalanan tersebut mencakup Eropa Barat, kawasan Nordik seperti Finlandia, Estonia di kawasan Baltik, Turkiye, Persia atau Iran, hingga Asia Tenggara. Setiap tempat memberikan pengalaman berbeda mengenai pendidikan, kebudayaan, teknologi, sejarah, dan kehidupan masyarakat.

Amsterdam memberikan pelajaran yang berbeda. Di kota ini, sebuah karya sastra menjadi pintu untuk membaca kembali sejarah kolonialisme dan memahami bagaimana suara seorang penulis dapat memengaruhi kesadaran masyarakat.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pembelajaran Sekolah Negarawan yang terus dibawa kembali ke Indonesia. Berbagai pemikiran dan hasil perjalanan didiseminasikan di berbagai daerah, mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore.

Ketika Tulisan Menjadi Suara Kemanusiaan

Multatuli meninggalkan sebuah pertanyaan yang tetap relevan jauh setelah zamannya berlalu. Ketika manusia melihat ketidakadilan, apa yang akan dilakukan?

Ia memilih menulis.

Tulisan tersebut kemudian melampaui zamannya dan menjadi bagian dari perdebatan besar mengenai kolonialisme. Dari sana terlihat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang ia berawal dari keberanian seseorang untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dan tidak boleh terus dianggap wajar.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman di Museum Multatuli menjadi pengingat bahwa membangun bangsa bukan hanya perkara merancang sistem pemerintahan atau menghadirkan teknologi baru. Di dalamnya terdapat kebutuhan untuk membangun manusia yang mampu melihat penderitaan, memahami sejarah, berani mengkritik ketidakadilan, dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan bersama.

Sastra mungkin lahir dari halaman buku, tetapi gagasan di dalamnya dapat bergerak jauh melampaui halaman tersebut. Ia dapat menjadi ingatan, kritik, dan suara kemanusiaan yang menyeberangi zaman.

Share This Article