Sekolah Negarawan Menemukan Kehangatan Persaudaraan Nusantara di Java Cuisine Belanda

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id — Musim gugur di Eropa membawa udara yang dingin, tetapi suasana berbeda terasa di sebuah restoran Indonesia di Laren, Belanda. Di Java Cuisine, Velweg 1, perjumpaan para pegiat Sekolah Negarawan dengan diaspora Indonesia menghadirkan kembali suasana yang akrab dengan kehidupan di tanah air. Makanan, percakapan, dan keramahan menjadi jalan sederhana untuk merasakan kembali kehangatan persaudaraan Nusantara di negeri yang jauh dari Indonesia.

Kunjungan tersebut dihadiri Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Rombongan didampingi Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Syafiih Kamil, yang mengantarkan mereka menuju Java Cuisine milik Mbak Atika, seorang perempuan Indonesia yang telah lebih dari 20 tahun menjalani kehidupan di Belanda.

Rumah yang Dibangun dari Rasa

Pertemuan di Java Cuisine berlangsung dalam suasana yang jauh dari formalitas. Senyum, hidangan Nusantara, dan percakapan membuat jarak antara Indonesia dan Belanda seolah menjadi lebih pendek. Bagi mereka yang hidup jauh dari tanah air, makanan dapat membawa kembali sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rasa.

Mbak Atika membangun Java Cuisine di tengah lingkungan masyarakat Belanda dengan membawa cita rasa Indonesia sebagai bagian dari kehidupan sehari-harinya. Pengalaman panjang sebagai perantau membuat restoran tersebut tidak hanya menjadi tempat menjalankan usaha, tetapi juga ruang bertemunya orang-orang Indonesia yang sedang berada jauh dari kampung halaman.

Di ruang seperti itu, memori tentang Indonesia dapat hadir melalui hal-hal sederhana. Aroma masakan, cara menyambut tamu, percakapan dalam bahasa Indonesia, hingga kebiasaan makan bersama menjadi pengingat bahwa identitas kebudayaan tidak selalu membutuhkan ruang geografis yang sama untuk tetap hidup.

Persaudaraan yang Melampaui Jarak

Bagi Prayogi R. Saputra, suasana makan bersama di Java Cuisine mengingatkan pada nilai persaudaraan yang hidup dalam tradisi Maiyah dan pemikiran kenegaraan serta kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Dalam pandangan tersebut, kebersamaan tidak semata-mata dibentuk oleh kesamaan tempat tinggal, tetapi oleh kesediaan manusia untuk saling menerima, berbagi pengalaman, dan membangun hubungan yang tulus.

Pemaknaan tentang rumah pun menjadi lebih luas. Bagi masyarakat perantauan, rumah tidak selalu berarti tempat seseorang dilahirkan atau sebuah alamat yang ditinggalkan ketika pergi ke luar negeri. Rumah dapat hadir melalui perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki ingatan, bahasa, dan pengalaman kebudayaan yang sama.

Karena itu, restoran seperti Java Cuisine memiliki fungsi sosial yang menarik. Ia menyediakan ruang bagi orang-orang untuk kembali merasakan suasana yang familiar sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk mengenal Indonesia melalui pengalaman langsung.

Kuliner sebagai Ruang Reriungan

Rinto Setiyawan melihat perjumpaan tersebut sebagai gambaran mengenai kuatnya ikatan sosial diaspora Indonesia. Ketika orang-orang dari berbagai latar belakang bertemu dalam suasana santai, batas-batas profesi dan status menjadi lebih cair. Percakapan dapat berlangsung lebih terbuka karena dibangun dalam suasana kebersamaan.

Kuliner memiliki kemampuan untuk menciptakan ruang semacam itu. Makan bersama sejak lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Di meja makan, orang tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga cerita, pengalaman, kegembiraan, bahkan kegelisahan yang selama ini dibawa masing-masing.

Bagi masyarakat yang hidup di negeri lain, ruang perjumpaan seperti ini memiliki arti tersendiri. Diaspora membutuhkan ruang untuk tetap terhubung dengan sesama, membangun jejaring, dan mempertahankan rasa memiliki terhadap kebudayaan asal. Dalam konteks tersebut, Java Cuisine dapat dibaca sebagai salah satu ruang sosial kecil yang menjaga hubungan tersebut tetap hidup.

Kedaulatan Kultural di Tengah Perantauan

Syafiih Kamil melihat keberadaan Java Cuisine sebagai bagian dari bagaimana warga Indonesia membawa kebudayaan nasional ke ruang global. Mbak Atika tidak perlu berada di Indonesia untuk memperkenalkan Indonesia. Melalui usaha yang dibangunnya, cita rasa Nusantara dapat hadir dan dikenal oleh masyarakat di Belanda.

Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya bergerak melalui lembaga resmi. Warga negara yang tinggal di luar negeri juga memiliki peran dalam memperkenalkan wajah Indonesia melalui profesi dan aktivitas sehari-hari.

Kedaulatan kultural dalam konteks tersebut bukan berarti menutup diri dari kebudayaan lain. Justru sebaliknya, identitas menjadi kuat ketika mampu hadir dalam ruang perjumpaan dan berdialog dengan lingkungan baru tanpa kehilangan akar.

Teknologi dan Hubungan dengan Diaspora

Pertemuan di Java Cuisine juga membawa pembicaraan pada persoalan yang lebih luas mengenai hubungan negara dengan warga Indonesia di luar negeri. Erick Karya memperkenalkan gagasan mengenai pemanfaatan teknologi dan Artificial Intelligence dalam tata kelola untuk membantu negara membaca potensi serta kebutuhan ekosistem diaspora.

Dalam kerangka tersebut, teknologi dapat dikembangkan untuk mengolah informasi mengenai pelaku usaha, jaringan diaspora, serta peluang kerja sama ekonomi dan kebudayaan. Data yang baik dapat membantu pemerintah memahami potensi warga Indonesia di luar negeri secara lebih sistematis.

Namun, teknologi tetap membutuhkan arah kebijakan dan pendekatan yang manusiawi. Hubungan negara dengan diaspora tidak seharusnya hanya dibangun berdasarkan data ekonomi. Di balik setiap usaha terdapat manusia, pengalaman, perjuangan, dan hubungan emosional dengan tanah air.

Karena itu, gagasan mengenai tata kelola digital perlu ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat hubungan tersebut, bukan menggantikannya. Negara tetap membutuhkan komunikasi, kepercayaan, dan ruang perjumpaan yang memungkinkan warga di dalam dan luar negeri saling mengenal.

Membawa Pulang Kehangatan dari Laren

Bagi Sekolah Negarawan, kunjungan ke Java Cuisine menjadi bagian dari pengalaman yang melengkapi perjalanan panjang ekspedisi internasional. Belajar tentang suatu negara tidak hanya dilakukan dengan mengunjungi institusi pemerintahan, universitas, atau pusat teknologi. Kehidupan warga Indonesia yang berada di negara lain juga merupakan bagian penting dari pembacaan mengenai masyarakat dan peradaban.

Perjalanan yang mencakup 12 negara, mulai dari Eropa Barat, Finlandia, Estonia, Turkiye, Timur Tengah, Persia atau Iran, hingga Asia Tenggara, mempertemukan Sekolah Negarawan dengan beragam pengalaman sosial dan kebudayaan. Setiap perjumpaan memberikan sudut pandang berbeda mengenai bagaimana manusia membangun kehidupan di tengah lingkungan yang terus berubah.

Dari Laren, ada satu hal sederhana yang dapat dibawa pulang. Jarak geografis tidak selalu membuat seseorang jauh dari tanah air. Selama masih ada ruang untuk berbagi makanan, cerita, kebudayaan, dan persaudaraan, Indonesia tetap dapat menemukan tempatnya di hati masyarakat yang hidup di belahan dunia lain.

Java Cuisine kemudian menjadi lebih dari sekadar sebuah restoran. Ia menjadi ruang kecil tempat identitas Nusantara bertemu dengan dunia, tempat para perantau menemukan keakraban, dan tempat masyarakat lokal dapat mengenal Indonesia melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman semacam itu menunjukkan bahwa membangun bangsa juga berarti merawat hubungan antarmanusia. Sebab peradaban tidak hanya tumbuh melalui institusi besar, tetapi juga melalui meja makan, percakapan sederhana, dan persaudaraan yang tetap terjaga meski jarak memisahkan.

Share This Article