muslimx.id – Kasus pembunuhan disertai mutilasi kembali mengguncang Jawa Timur. Alvi Maulana (24) ditangkap usai membunuh dan memutilasi kekasihnya, TAS (25), di Surabaya. Potongan tubuh korban ditemukan berserakan di kawasan Pacet, Mojokerto, pada Sabtu, sementara sebagian lainnya masih disimpan di kamar kos pelaku. Polisi menyebut ada 75 bagian tubuh korban yang ditemukan. Dalam pemeriksaan, Alvi mengaku perbuatannya dipicu oleh amarah. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban.
Kritik dan Pandangan Sosial
Partai X menilai tragedi ini bukan hanya sekadar persoalan kriminalitas, tetapi juga cermin rapuhnya sistem keadilan sosial. Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menegaskan bahwa kekerasan lahir dari keadilan yang diabaikan. Negara seharusnya hadir menciptakan ekosistem sosial yang sehat, bukan hanya menindak setelah tragedi terjadi.
Ia mengingatkan, tugas negara ada tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Jika negara lalai, maka rakyat dibiarkan menghadapi tekanan hidup, minimnya pendidikan karakter, hingga kekosongan ruang sehat bagi generasi muda yang akhirnya bisa melahirkan tragedi kekerasan ekstrem.
Islam Tegaskan Kekerasan adalah Buah dari Kezaliman
Islam secara tegas melarang pembunuhan dan segala bentuk kekerasan. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar…” (QS. Al-Isra’: 33)
Ayat ini menegaskan bahwa nyawa manusia adalah suci. Membunuh tanpa alasan yang benar adalah bentuk kezaliman besar yang akan dibalas setimpal oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Hilangnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. An-Nasa’i)
Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya Islam memandang kejahatan pembunuhan. Dunia boleh runtuh, tetapi jangan sampai ada satu nyawa yang terzalimi tanpa alasan yang benar.
Analisis Islam: Kekerasan Lahir dari Hati yang Rusak
Dalam perspektif Islam, kekerasan lahir dari kezaliman dan hilangnya kendali iman. Amarah yang tidak terkendali adalah pintu masuk setan yang bisa mengubah manusia menjadi buas. Nabi Muhammad SAW pernah menasihati seorang sahabat dengan kalimat singkat:
“Jangan marah.” (HR. Bukhari)
Pesan sederhana ini menjadi terapi moral agar manusia mampu mengendalikan diri. Amarah yang tidak terjaga bisa berujung pada kejahatan besar, seperti tragedi mutilasi ini.
Solusi Islam dan Tanggung Jawab Negara
Islam menekankan pencegahan kekerasan melalui pendidikan akhlak, kesehatan mental, dan penegakan hukum adil. Negara wajib menyediakan ruang aman bagi generasi muda, memperkuat pendidikan karakter, serta menghadirkan layanan konseling dan kesehatan mental. Selain itu, hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu agar rasa keadilan publik terjaga.
Tragedi mutilasi di Surabaya adalah alarm keras bagi bangsa ini. Kekerasan bukan sekadar kesalahan individu, melainkan buah dari kezaliman sosial, lemahnya pendidikan moral, dan abainya negara. Islam menegaskan, siapa pun yang merampas nyawa tanpa hak akan mendapat hukuman berat di dunia dan di akhirat.
Partai X menegaskan, negara tidak boleh hanya hadir setelah tragedi. Negara harus melindungi, melayani, dan mengatur rakyat sejak awal agar generasi muda terbebas dari kekerasan yang lahir dari kezaliman.