muslimx.id — Salah satu gejala paling menyesatkan dalam kehidupan bernegara hari ini adalah menguatnya nasionalisme simbolik. Bendera dikibarkan, slogan diteriakkan, tetapi keadilan diabaikan. Kritik dicurigai, pengawasan dilemahkan, dan kekuasaan dibungkus dengan retorika cinta negara. Dalam kondisi seperti ini, cinta negara berbasis amanah terancam direduksi menjadi sekadar seremoni.
Nasionalisme simbolik tampak gagah di permukaan, tetapi rapuh secara moral. Ia lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga nilai. Negara seolah dicintai, tetapi rakyat justru dijauhkan dari hak untuk mengoreksi arah kekuasaan.
Ketika Cinta Negara Direduksi Menjadi Simbol
Simbol negara sejatinya adalah alat pemersatu, bukan tameng kekuasaan. Namun ketika simbol dipakai untuk membungkam kritik, ia berubah fungsi: dari pemersatu menjadi alat intimidasi moral. Siapa yang bertanya dianggap tidak nasionalis. Siapa yang mengkritik dicap tidak cinta negara.
Islam menolak cara berpikir semacam ini. Dalam Islam, nilai lebih utama daripada simbol. Keadilan lebih tinggi derajatnya daripada citra. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu.” (QS. Al-Anfal: 27)
Ayat ini menegaskan bahwa amanah adalah inti dari keberagamaan dan juga kenegaraan. Ketika simbol digunakan untuk menutupi pengkhianatan amanah, maka simbol itu kehilangan maknanya.
Cinta Negara Berbasis Amanah: Dari Retorika ke Tanggung Jawab
Dalam kerangka cinta negara berbasis amanah, cinta tidak diukur dari seberapa lantang slogan diteriakkan, tetapi dari seberapa serius kekuasaan diawasi. Negara dicintai dengan memastikan kebijakan adil, hukum tidak tebang pilih, dan suara rakyat tidak dipersempit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menempatkan tanggung jawab di atas simbol. Kepemimpinan bukan soal pencitraan, tetapi soal pertanggungjawaban moral.
Partai X: Negara Tidak Bisa Dijaga dengan Retorika
Erick Karya, Ketua Umum Partai X, menilai bahwa salah satu krisis terbesar nasionalisme hari ini adalah kecenderungan menggantikan etika dengan simbol. Menurutnya, negara tidak akan runtuh karena kritik, tetapi bisa hancur karena kepalsuan cinta yang hanya berhenti pada slogan.
“Cinta negara yang hanya hidup di baliho dan upacara, tapi mati dalam kebijakan, itu bukan patriotisme. Itu kosmetik kekuasaan,” tegas Erick.
Ia menekankan bahwa cinta negara berbasis amanah menuntut keberanian membedakan antara negara dan kekuasaan. Negara harus dijaga martabatnya, justru dengan mengoreksi pemerintah ketika menyimpang.
“Kalau simbol dipakai untuk menutup kesalahan, negara sedang diperalat. Dan ketika negara diperalat, rakyat yang menanggung akibatnya,” ujarnya.
Erick juga mengingatkan bahwa nasionalisme simbolik cenderung melahirkan kepatuhan emosional, bukan kesadaran rasional. Dalam jangka panjang, ini berbahaya karena rakyat dibiasakan mencintai negara tanpa memahami arah dan tanggung jawabnya.
Antara Citra Negara dan Keadilan Negara
Negara yang terlalu sibuk menjaga citra akan alergi pada kritik. Padahal citra tanpa keadilan tidak akan bertahan lama. Sejarah menunjukkan bahwa kepercayaan publik tidak runtuh karena kritik keras, tetapi karena ketidakadilan yang terus disangkal.
Islam mengajarkan bahwa keadilan adalah fondasi kepercayaan. Tanpa keadilan, simbol kehilangan makna. Tanpa amanah, nasionalisme berubah menjadi alat manipulasi.
Penutup: Mengembalikan Nasionalisme ke Jalur Amanah
Cinta negara berbasis amanah mengajak kita keluar dari jebakan nasionalisme simbolik. Negara tidak membutuhkan pembelaan kosong, tetapi perawatan nilai yang konsisten. Simbol boleh dihormati, tetapi keadilan harus ditegakkan.
Sebagaimana ditegaskan Erick, bangsa yang dewasa tidak diukur dari seberapa sering menyebut cinta negara, tetapi dari seberapa berani menjaga negara tetap jujur pada amanahnya.
Ketika cinta negara kembali dipahami sebagai tanggung jawab etis, bukan sekedar retorika, negara tidak akan rapuh oleh kritik. Justru di situlah negara menemukan kekuatannya yang sejati.