Manusia dan Kemanusiaan dalam Islam: Ketika Teknologi Maju tetapi Empati Menjauh

muslimX
By muslimX
7 Min Read

muslimx.id  — Manusia dan kemanusiaan memasuki tantangan baru ketika teknologi menjadi bagian hampir dari seluruh kehidupan. Manusia kini dapat berkomunikasi dengan siapa saja tanpa dibatasi jarak, memperoleh informasi dalam hitungan detik, bekerja dari berbagai tempat, bahkan menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan. Dunia terasa semakin dekat karena teknologi membuat banyak hal menjadi lebih mudah dan cepat.

Namun, kemudahan tersebut menghadirkan pertanyaan yang tidak kalah penting. Apakah manusia yang semakin mudah terhubung juga semakin mampu memahami satu sama lain? Apakah komunikasi yang semakin cepat membuat empati semakin kuat? Atau justru manusia semakin terbiasa melihat kehidupan orang lain melalui layar sehingga penderitaan, kesedihan, dan persoalan manusia mudah berubah menjadi sekadar informasi?

Teknologi Membuat Dunia Lebih Dekat

Salah satu keberhasilan terbesar teknologi adalah kemampuannya menghapus banyak batas dalam komunikasi. Keluarga yang berada di kota berbeda dapat berbicara setiap hari. Pengetahuan yang dahulu hanya dapat diperoleh melalui buku atau lembaga tertentu kini dapat ditemukan dengan mudah. Berbagai persoalan sosial juga dapat diketahui masyarakat dengan cepat.

Teknologi memberikan peluang besar bagi manusia untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Orang dapat belajar dari pengalaman orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, menyebarkan informasi penting, dan membangun kerja sama tanpa harus selalu berada di tempat yang sama.

Karena itu, teknologi bukanlah persoalan yang harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Persoalannya terletak pada manusia yang menggunakannya. Alat yang sama dapat digunakan untuk membantu seseorang atau justru mempermalukannya. Teknologi dapat menjadi sarana pendidikan sekaligus menjadi ruang penyebaran kebencian. Semua kembali kepada nilai dan kesadaran manusia di belakangnya.

Ketika Komunikasi Tidak Lagi Berarti Kedekatan

Ironisnya, semakin banyak sarana komunikasi yang tersedia tidak selalu membuat hubungan manusia semakin dekat. Seseorang dapat memiliki ratusan bahkan ribuan kontak digital, tetapi tetap merasa kesepian. Percakapan dapat berlangsung sepanjang hari, tetapi tidak selalu menghasilkan pemahaman.

Di ruang digital, manusia juga sering hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Sebuah foto tidak menunjukkan seluruh persoalan seseorang. Sebuah unggahan tidak selalu menggambarkan keadaan sebenarnya. Namun, manusia sering memberikan penilaian berdasarkan potongan informasi yang sangat terbatas.

Di sinilah empati menjadi semakin penting. Empati membuat manusia memahami bahwa apa yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan seseorang. Sebelum memberikan penilaian, manusia perlu belajar bertanya, memahami, dan memberi ruang kepada orang lain untuk menjelaskan keadaannya.

Ketika Penderitaan Menjadi Sekadar Konten

Perkembangan media digital membuat berbagai peristiwa dapat menyebar dengan sangat cepat. Penderitaan seseorang dapat diketahui jutaan orang dalam waktu singkat. Persoalan sosial dapat menjadi pembicaraan luas. Bahkan sebuah kejadian yang sebelumnya hanya diketahui oleh lingkungan terbatas dapat menjadi perhatian publik.

Kondisi tersebut sebenarnya dapat membuka ruang kepedulian yang lebih besar. Namun, ada risiko ketika penderitaan manusia hanya menjadi tontonan. Kesedihan dapat berubah menjadi konten, musibah menjadi bahan perbincangan, dan persoalan pribadi seseorang menjadi konsumsi publik.

Kemanusiaan menuntut lebih dari sekadar melihat. Kemanusiaan meminta manusia untuk mempertimbangkan apakah sesuatu perlu disebarkan, apakah penyebaran tersebut membantu, dan apakah martabat orang yang sedang mengalami masalah tetap dihormati. Tidak semua hal yang dapat dipublikasikan berarti layak dipublikasikan.

Perspektif Islam: Teknologi Harus Memperkuat Rahmah

Islam menempatkan hubungan antarmanusia dalam kerangka kasih sayang, penghormatan, dan tanggung jawab. Dalam QS Al-Anbiya ayat 107, Allah menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Prinsip rahmah tersebut dapat menjadi landasan penting dalam menggunakan teknologi.

Teknologi seharusnya tidak membuat manusia semakin mudah menyakiti orang lain. Kemampuan berbicara kepada banyak orang seharusnya disertai tanggung jawab atas apa yang disampaikan. Menyebarkan informasi seharusnya diikuti kehati-hatian. Kemampuan mengetahui kehidupan orang lain seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan privasi dan martabatnya.

Karena itu, keberagamaan di era digital juga perlu terlihat dari cara seseorang menggunakan teknologi. Kesalehan bukan hanya persoalan apa yang dilakukan ketika berada di masjid, tetapi juga bagaimana seseorang berbicara di ruang digital, bagaimana ia memperlakukan orang yang berbeda pendapat, dan apakah kehadirannya di dunia maya membawa manfaat atau justru memperbesar permusuhan.

Diana: Jangan Biarkan Teknologi Mengalahkan Empati

Diana Isnaini, Anggota Majelis Tinggi Partai X, melihat bahwa perkembangan teknologi perlu disertai dengan perkembangan kualitas manusia. Menurutnya, teknologi seharusnya memperluas kemampuan manusia untuk membantu, bukan membuat manusia kehilangan kepekaan.

“Teknologi seharusnya membuat manusia semakin mampu memahami dan membantu sesamanya. Jangan sampai kita memiliki kemampuan untuk terhubung dengan siapa saja, tetapi kehilangan kemampuan untuk merasakan apa yang sedang dialami orang lain. Kemajuan teknologi harus berjalan bersama dengan kemajuan empati,” ujar Diana.

Menurutnya, persoalan terbesar bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada nilai yang digunakan manusia ketika memanfaatkannya. Teknologi dapat menjadi sarana yang sangat kuat untuk membangun pendidikan, pelayanan, komunikasi, dan kerja sama. Tetapi tanpa tanggung jawab, kemampuan yang sama dapat digunakan untuk mempermalukan, menipu, memanipulasi, atau menyebarkan kebencian.

Karena itu, semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula kebutuhan manusia terhadap etika. Kemampuan yang besar tanpa tanggung jawab dapat menghasilkan dampak yang juga semakin besar.

Menggunakan Teknologi Tanpa Kehilangan Kemanusiaan

Persoalan manusia dan kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi pada akhirnya bukan tentang memilih antara menjadi modern atau menjadi manusiawi. Keduanya seharusnya berjalan bersama. Manusia membutuhkan teknologi untuk menyelesaikan berbagai persoalan, tetapi teknologi membutuhkan manusia yang memiliki arah moral agar penggunaannya tidak kehilangan tujuan.

Kecerdasan buatan dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan kebijaksanaan untuk menentukan bagaimana teknologi itu digunakan. Media sosial dapat menghubungkan jutaan orang, tetapi manusia tetap membutuhkan empati agar hubungan tersebut tidak berubah menjadi ruang saling merendahkan. Informasi dapat menyebar dengan cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan tanggung jawab untuk menentukan informasi mana yang layak disampaikan.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan teknologi bukan hanya seberapa canggih alat yang berhasil diciptakan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut membantu manusia menjaga martabat, mengurangi penderitaan, memperluas kesempatan, dan memperkuat hubungan sosial.

Manusia boleh semakin pintar menciptakan teknologi. Dunia boleh semakin cepat dan terkoneksi. Tetapi semua itu tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan paling mendasar dalam dirinya: kemampuan untuk peduli.

Sebab teknologi dapat membuat manusia semakin dekat secara jarak, tetapi hanya kemanusiaan yang dapat membuat manusia benar-benar dekat satu sama lain.

Share This Article