muslimx.id — Salah satu dampak paling serius dari relasi buzzer dan demokrasi adalah manipulasi persepsi publik. Demokrasi seharusnya dibangun di atas pertukaran gagasan yang rasional. Namun ketika persepsi lebih mudah dibentuk melalui repetisi narasi dibanding argumentasi substansial, maka akal publik perlahan terkikis.
Yang berbahaya bukan hanya informasi palsu, tetapi informasi yang dibingkai untuk menciptakan ilusi kebenaran.
Manipulasi Persepsi di Era Algoritma
Media sosial bekerja dengan algoritma yang memprioritaskan keterlibatan (engagement). Konten yang memicu emosi marah, takut, atau fanatisme cenderung lebih cepat menyebar.
Dalam situasi ini, jaringan buzzer dapat: memperkuat narasi tertentu secara terkoordinasi, membanjiri ruang digital dengan opini seragam, menyerang karakter lawan kekuasaan, menciptakan echo chamber (ruang gema informasi).
Akibatnya, masyarakat tidak lagi melihat fakta secara utuh, tetapi melalui lensa yang sudah diarahkan. Inilah sisi problematik dari hubungan buzzer dan demokrasi.
Polarisasi dan Hilangnya Dialog Rasional
Manipulasi persepsi mendorong polarisasi. Publik terbelah dalam kubu-kubu yang saling menguatkan keyakinan masing-masing tanpa ruang dialog sehat.
Ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan, demokrasi kehilangan esensinya sebagai ruang musyawarah.
Islam mengajarkan prinsip keadilan dalam menilai sesuatu. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa bahkan dalam perbedaan, keadilan dan objektivitas harus dijaga.
Akal publik adalah kemampuan kolektif masyarakat untuk menilai kebijakan dan kepemimpinan secara rasional. Jika opini dibentuk melalui manipulasi terus-menerus, maka kemampuan ini melemah.
Dampaknya: keputusan berbasis emosi, mudah terprovokasi, rendahnya kepercayaan sosial, demokrasi berubah menjadi arena propaganda.
Relasi buzzer dan demokrasi menjadi ancaman ketika komunikasi tidak lagi menghormati kecerdasan publik.
Partai X: Menanggapi Buzzer dan Demokrasi
Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menilai bahwa kompetisi narasi adalah bagian dari kekuasaan modern, tetapi harus dibatasi oleh etika.
“Demokrasi memang membuka ruang perdebatan. Namun perdebatan tidak boleh berubah menjadi manipulasi. Kalau persepsi publik dibentuk dengan cara tidak jujur, maka demokrasi kehilangan kualitasnya,” ujarnya.
Menurut Erick Karya, hubungan buzzer dan demokrasi harus diarahkan pada penguatan partisipasi, bukan pembingungan publik.
“Kita harus percaya bahwa masyarakat mampu berpikir rasional. Tugas elite politik adalah memberikan informasi yang utuh, bukan menciptakan ilusi dukungan atau kebencian,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya literasi digital dan tanggung jawab moral dalam setiap aktivitas komunikasi.
Penutup: Mengembalikan Demokrasi pada Rasionalitas
Demokrasi tidak akan runtuh karena perbedaan pendapat. Ia runtuh ketika kebenaran dikalahkan oleh manipulasi.
Relasi buzzer dan demokrasi harus ditempatkan dalam koridor etika, transparansi, dan penghormatan terhadap kecerdasan publik.
Karena demokrasi yang matang bukan yang paling ramai narasinya, tetapi yang paling sehat dialognya. Dan menjaga akal publik tetap jernih adalah tanggung jawab bersama bukan hanya warga, tetapi juga para pemegang kuasa.