Dari Teheran, Sekolah Negarawan Membaca Sejarah sebagai Laboratorium bagi Pemimpin

muslimX
By muslimX
7 Min Read

muslimx.id Sejarah sering kali ditempatkan sebagai cerita tentang masa lalu. Nama tokoh, tanggal peristiwa, pergantian kekuasaan, peperangan, dan perubahan sebuah bangsa seolah hanya menjadi bagian dari ingatan yang harus dipelajari. Padahal bagi seorang calon pemimpin, sejarah seharusnya memiliki fungsi yang jauh lebih penting, yaitu menjadi laboratorium untuk memahami bagaimana manusia dan bangsa mengambil keputusan serta menghadapi perubahan.

Pandangan tersebut menjadi salah satu refleksi delegasi Sekolah Negarawan setelah mengikuti rangkaian agenda di Teheran. Dalam pertemuan yang mempertemukan ulama, intelektual, dan tokoh dari berbagai negara, kepemimpinan tidak hanya dibicarakan dari sisi kekuasaan, tetapi juga dari pengalaman panjang sebuah bangsa dalam menghadapi berbagai keadaan. Dari sana muncul pelajaran bahwa seorang pemimpin membutuhkan kemampuan membaca sejarah agar tidak mengambil keputusan tanpa memahami akar persoalannya.

Sejarah Bukan Sekadar Catatan Masa Lalu

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, menekankan pentingnya pendidikan yang membiasakan calon pemimpin berpikir secara mendalam. Seorang negarawan tidak cukup hanya bertanya mengenai apa yang sedang terjadi, tetapi juga harus mampu bertanya mengapa peristiwa tersebut terjadi dan apa kemungkinan yang muncul setelahnya. Pertanyaan seperti itu membutuhkan ilmu, ketelitian, dan kemampuan melihat sebuah persoalan dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Di sinilah sejarah memiliki posisi penting. Sejarah memperlihatkan bahwa sebuah keputusan hampir selalu memiliki latar belakang, sebuah konflik memiliki akar, dan perubahan sebuah bangsa tidak berlangsung dalam satu malam. Dengan membaca proses tersebut, seorang pemimpin dapat belajar melihat hubungan antara keputusan masa lalu dengan keadaan yang dihadapi masyarakat pada hari ini.

Sejarah dengan demikian dapat diperlakukan seperti sebuah laboratorium. Pemimpin dapat mempelajari bagaimana sebuah keputusan menghasilkan keberhasilan, bagaimana kesalahan berkembang menjadi krisis, dan bagaimana sebuah bangsa bertahan ketika menghadapi tekanan yang panjang. Laboratorium sejarah memang tidak memberikan jawaban otomatis, tetapi memberikan pengalaman yang memungkinkan seorang pemimpin berpikir lebih matang sebelum menentukan pilihan.

Belajar dari Pengalaman Iran

Dalam konteks kunjungan Sekolah Negarawan ke Iran, pendekatan tersebut menjadi semakin menarik. Iran memiliki pengalaman sejarah yang panjang dengan berbagai perubahan, konflik, tekanan eksternal, serta proses pembentukan dan pengembangan institusi negara. Pengalaman tersebut ikut membentuk cara masyarakat dan pemimpinnya melihat lingkungan strategis di sekitar mereka.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman Iran tidak ditempatkan sebagai model yang harus ditiru secara utuh. Setiap bangsa memiliki sejarah, karakter masyarakat, tantangan, dan kepentingannya sendiri. Karena itu, pengalaman bangsa lain harus dibaca secara kritis untuk menemukan pelajaran yang dapat dipahami, dibandingkan, dan kemudian direnungkan dalam konteks Indonesia.

Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mendampingi berbagai agenda pembelajaran dan diplomasi Sekolah Negarawan selama berada di Iran. Melalui berbagai pertemuan dan kunjungan, delegasi berusaha melihat hubungan antara sejarah, pendidikan, kepemimpinan, kebijakan, ilmu pengetahuan, dan kehidupan masyarakat. Cara membaca seperti ini membuat perjalanan tidak berhenti pada kunjungan, tetapi berkembang menjadi proses belajar mengenai bagaimana sebuah bangsa membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Indonesia Juga Memiliki Laboratorium Sejarah

Pelajaran tersebut sesungguhnya sangat relevan bagi Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki perjalanan sejarah yang panjang, mulai dari pengalaman kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, keberagaman masyarakat, hingga proses membangun negara setelah merdeka. Semua pengalaman tersebut membentuk cara bangsa Indonesia memahami persatuan, kedaulatan, keberagaman, dan hubungan dengan dunia.

Karena itu, sejarah Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi materi pendidikan di ruang kelas. Sejarah harus menjadi sumber pembelajaran bagi mereka yang kelak memegang amanah kepemimpinan. Seorang calon pemimpin perlu memahami mengapa Indonesia memilih bentuk negara tertentu, mengapa persatuan menjadi sangat penting, serta mengapa keberagaman harus dikelola sebagai kekuatan dan bukan diperlakukan sebagai sumber perpecahan.

Pemimpin yang memahami sejarah bangsanya akan memiliki kesadaran bahwa Indonesia tidak lahir dalam keadaan kosong. Ada pengorbanan, perdebatan, perjuangan, kesalahan, dan keputusan besar yang membentuk negara ini. Kesadaran tersebut semestinya membuat seorang pemimpin lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan karena ia memahami bahwa setiap kebijakan hari ini dapat menjadi bagian dari sejarah yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sejarah Tidak Boleh Menjadi Romantisme

Namun, menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran tidak berarti hidup dalam nostalgia. Sejarah tidak boleh hanya digunakan untuk membanggakan kejayaan masa lalu atau mengulang slogan tentang kebesaran bangsa tanpa memahami persoalan yang sebenarnya. Sejarah harus dibaca secara kritis agar pengalaman masa lalu dapat menghasilkan kebijaksanaan untuk menghadapi persoalan baru.

Di sinilah ilmu memiliki peran penting. Tidak semua keadaan masa lalu dapat diterapkan secara langsung pada masa kini karena zaman, teknologi, struktur masyarakat, dan tantangan dunia terus berubah. Seorang pemimpin harus mampu membedakan antara nilai yang tetap relevan dan strategi yang harus disesuaikan dengan keadaan baru.

Kemampuan tersebut membuat sejarah dan ilmu tidak dapat dipisahkan. Sejarah memberikan pengalaman, sementara ilmu membantu menguji pengalaman tersebut. Keduanya kemudian bertemu dalam kemampuan seorang pemimpin untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan keadaan zamannya tanpa kehilangan kesadaran terhadap akar bangsanya.

Negarawan Berdiri di antara Masa Lalu dan Masa Depan

Dari Teheran, Sekolah Negarawan melihat bahwa pendidikan kepemimpinan membutuhkan keseimbangan antara kesadaran sejarah dan wawasan masa depan. Seorang pemimpin yang hanya memahami masa lalu tetapi tidak mampu membaca perubahan akan kesulitan menghadapi dunia yang terus bergerak. Sebaliknya, pemimpin yang hanya mengejar masa depan tanpa memahami perjalanan bangsanya berisiko kehilangan arah dan mengambil keputusan yang tidak memiliki akar dalam pengalaman masyarakatnya.

Seorang negarawan karena itu harus mampu berdiri di antara keduanya. Ia memahami dari mana bangsanya berasal, mampu membaca keadaan yang sedang berlangsung, sekaligus memiliki keberanian untuk memikirkan ke mana bangsa tersebut harus bergerak. Kemampuan tersebut tidak lahir hanya dari kecerdasan, tetapi dari kebiasaan belajar, membaca sejarah, memahami realitas, dan mempertimbangkan akibat jangka panjang dari setiap keputusan.

Pada akhirnya, sejarah bukanlah museum yang hanya menyimpan kenangan. Sejarah adalah laboratorium yang menyediakan pengalaman bagi generasi berikutnya untuk belajar tentang keberhasilan, kegagalan, keteguhan, kesalahan, dan konsekuensi sebuah keputusan. Jika sejarah mampu dibaca dengan ilmu dan kebijaksanaan, maka masa lalu tidak lagi menjadi beban yang terus diulang, tetapi menjadi bekal bagi lahirnya pemimpin yang lebih matang dalam menentukan masa depan bangsa.

Share This Article