muslimx.id — Budaya menormalisasi ketidaknyamanan perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jalan rusak yang dibiarkan bertahun-tahun dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Pelayanan yang lambat diterima dengan kalimat, “Memang prosedurnya begitu.” Antrean panjang tidak lagi dipertanyakan karena masyarakat sudah terbiasa menunggu. Bahkan harga yang tidak transparan sering kali diterima hanya dengan ucapan, “Memang di sini seperti itu.”
Sekilas, semua itu tampak seperti persoalan kecil. Namun jika diperhatikan lebih jauh, kebiasaan menerima ketidaknyamanan tanpa lagi mempertanyakan atau mendorong perbaikan menunjukkan persoalan yang lebih besar. Masyarakat bukan hanya sedang berhadapan dengan fasilitas yang kurang baik, tetapi juga sedang menghadapi perubahan standar tentang apa yang dianggap layak.
Ketika Ketidaknyamanan Berubah Menjadi Kebiasaan
Masalah muncul ketika sesuatu yang seharusnya diperbaiki justru dianggap sebagai bagian permanen dari kehidupan. Jalan berlubang tidak lagi dilihat sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian, melainkan kondisi yang harus dihadapi setiap hari. Pelayanan yang berbelit tidak lagi dianggap sebagai sistem yang perlu dievaluasi, tetapi menjadi prosedur yang harus diterima masyarakat.
Di sinilah budaya menormalisasi ketidaknyamanan menjadi berbahaya. Ketika masyarakat terlalu lama hidup dalam kondisi yang tidak ideal, rasa terganggu perlahan dapat berkurang. Bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena manusia belajar menyesuaikan diri dengan masalah tersebut. Pada akhirnya, sesuatu yang seharusnya dianggap tidak wajar justru kehilangan daya kritisnya.
Islam Tidak Mengajarkan Menerima Kemudaratan sebagai Hal Biasa
Dalam perspektif Islam, kesabaran bukan berarti membiarkan segala sesuatu yang buruk berlangsung tanpa usaha memperbaikinya. Islam memang mengajarkan kesabaran dalam menghadapi keadaan yang tidak dapat dihindari, tetapi pada saat yang sama Islam juga mengajarkan tanggung jawab untuk mencegah kerusakan dan menghadirkan kemaslahatan.
Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Ra’d ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ayat ini memberikan pesan penting bahwa perubahan tidak lahir dari sikap pasif terhadap keadaan. Ada ikhtiar, kesadaran, dan keberanian untuk memperbaiki sesuatu yang memang tidak semestinya dibiarkan.
Karena itu, menerima jalan rusak, pelayanan buruk, fasilitas yang tidak layak, atau sistem yang menyulitkan tidak selalu dapat disebut sebagai bentuk kesabaran. Ada keadaan ketika menerima justru berarti membiarkan persoalan terus berlangsung. Kesabaran seharusnya berjalan bersama ikhtiar, sementara kritik yang disampaikan dengan adab dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kehidupan bersama.
Masyarakat Perlahan Menurunkan Standarnya Sendiri
Salah satu dampak paling serius dari budaya ini adalah turunnya standar masyarakat. Ketika pelayanan buruk berlangsung terus-menerus, masyarakat mulai merasa bahwa pelayanan yang sedikit lebih baik sudah merupakan sesuatu yang luar biasa. Ketika fasilitas publik tidak terawat, masyarakat belajar merasa cukup hanya karena fasilitas tersebut masih dapat digunakan.
Padahal kehidupan yang baik tidak semestinya diukur dengan pertanyaan, “Apakah masih bisa digunakan?” tetapi juga, “Apakah sudah layak, aman, nyaman, dan memberikan kemaslahatan?” Perubahan cara pandang ini penting karena masyarakat yang terlalu terbiasa dengan standar rendah pada akhirnya akan kesulitan membayangkan standar yang lebih baik.
Dalam Islam, konsep ihsan mengajarkan manusia untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Nilai ini tidak hanya berlaku dalam ibadah, tetapi juga dalam pekerjaan, pelayanan, pembangunan, dan hubungan sosial. Karena itu, memperbaiki kualitas kehidupan bukan sekadar mengejar kenyamanan pribadi, melainkan bagian dari upaya menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Jangan Menganggap Keluhan sebagai Gangguan
Persoalan lainnya adalah munculnya anggapan bahwa orang yang mempertanyakan ketidaknyamanan sebagai orang yang terlalu banyak mengeluh. Masyarakat yang meminta pelayanan lebih cepat dianggap tidak sabar. Orang yang mempertanyakan harga dianggap terlalu mempermasalahkan hal kecil. Warga yang meminta fasilitas diperbaiki terkadang justru dianggap merepotkan.
Padahal tidak semua keluhan merupakan bentuk ketidakpuasan yang negatif. Ada keluhan yang justru menunjukkan kepedulian. Ketika seseorang mempertanyakan jalan yang rusak, pelayanan yang buruk, atau informasi yang tidak jelas, ia sedang menunjukkan bahwa kondisi tersebut masih dapat diperbaiki.
Yang perlu dibangun bukan budaya mengeluh tanpa solusi, tetapi budaya menyampaikan persoalan secara bertanggung jawab. Kritik seharusnya diarahkan untuk memperbaiki keadaan, bukan sekadar melampiaskan kemarahan.
Partai X: Jangan Sampai Masyarakat Kehilangan Kepekaan
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai bahwa persoalan tersebut perlu dilihat sebagai masalah budaya yang lebih luas. Menurutnya, masyarakat perlu mempertahankan kepekaan terhadap hal-hal yang tidak semestinya dianggap normal.
“Yang perlu kita khawatirkan bukan hanya jalan rusak atau pelayanan yang lambat, tetapi ketika masyarakat sudah tidak lagi merasa bahwa kondisi itu perlu diperbaiki. Kalau sesuatu yang salah terus dianggap biasa, lama-kelamaan standar kita terhadap kehidupan juga ikut turun,” ujar Rinto.
Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu berada dalam posisi menuntut, tetapi harus memiliki keberanian untuk membedakan antara menerima keadaan yang memang tidak dapat dihindari dan menerima keadaan yang sebenarnya masih dapat diperbaiki. Sikap kritis, kata dia, tidak harus berarti konflik. Kritik dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap kualitas kehidupan bersama.
Pandangan tersebut penting karena perubahan sosial tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Terkadang perubahan dimulai dari keberanian sederhana untuk mengatakan bahwa sesuatu memang tidak semestinya dibiarkan.
Penutup: Berhenti Mengatakan “Memang Sudah Begitu”
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya mengapa jalan rusak, pelayanan lambat, antrean panjang, atau harga tidak transparan masih terjadi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa masyarakat terlalu lama belajar menerima semuanya sebagai sesuatu yang biasa.
Kalimat “memang dari dulu begitu” tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti memperbaiki keadaan. Masa lalu dapat menjelaskan mengapa sebuah persoalan terjadi, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk mempertahankannya.
Islam mengajarkan manusia untuk menjadi bagian dari perbaikan, bukan sekadar menjadi penonton terhadap keadaan. Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang tidak pernah mengalami ketidaknyamanan, melainkan masyarakat yang masih memiliki kepekaan untuk mengatakan bahwa sesuatu yang tidak layak memang perlu diperbaiki.
Sebab ketika ketidaknyamanan terus dinormalisasi, yang perlahan hilang bukan hanya rasa terganggu. Yang ikut hilang adalah keberanian untuk berharap bahwa kehidupan bisa menjadi lebih baik.