PARIS — Sebuah kota tidak selalu harus dibaca melalui peta. Ia juga dapat dibaca melalui sejarah, bangunan, monumen, museum, dan ruang publik yang menyimpan jejak panjang perjalanan masyarakatnya. Di dalam setiap sudut kota, ada gagasan tentang bagaimana manusia pada suatu masa memahami kekuasaan, kebudayaan, teknologi, identitas, hingga masa depan.
Cara membaca kota semacam itu menjadi bagian dari perjalanan delegasi Sekolah Negarawan di Paris, Perancis, pada September 2025. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya mengunjungi sejumlah ikon sejarah dan kebudayaan Paris, mulai dari Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Champs-Élysées, Louvre, Les Invalides, Notre-Dame de Paris hingga Musée de Cluny.
Tempat-tempat tersebut memang dikenal sebagai tujuan wisata dunia. Namun bagi pendidikan kenegarawanan, setiap lokasi dapat dibaca lebih jauh sebagai bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Paris seolah menjadi buku terbuka yang memperlihatkan bagaimana teknologi, sejarah, seni, agama, kekuasaan, dan memori kolektif membentuk sebuah peradaban.

Eiffel dan Ketika Teknologi Menjadi Identitas
Menara Eiffel menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah hasil teknologi dapat berkembang menjadi simbol kebudayaan. Struktur yang lahir dari gagasan dan kemampuan teknik pada zamannya kemudian berubah menjadi salah satu identitas paling kuat yang melekat pada Paris dan Perancis.
Pelajaran pentingnya bukan hanya mengenai kecanggihan teknologi. Ada proses ketika sebuah bangsa mampu menjadikan inovasi sebagai bagian dari cerita besar tentang dirinya. Teknologi tidak berhenti sebagai benda yang digunakan, tetapi dapat menjadi simbol dari keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia yang sedang bergerak menuju transformasi teknologi. Pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak teknologi yang berhasil dikembangkan, tetapi apakah inovasi yang dibangun hari ini mampu menjadi bagian dari identitas dan kemajuan bangsa di masa depan.
Sebab teknologi pada akhirnya bukan hanya persoalan alat. Di tangan sebuah bangsa yang memiliki visi, teknologi dapat menjadi bagian dari kebudayaan, daya saing, sekaligus warisan untuk generasi berikutnya.
Arc de Triomphe dan Pentingnya Memori Bangsa
Dari Eiffel, perjalanan membawa delegasi pada Arc de Triomphe. Monumen tersebut menghadirkan pembacaan yang berbeda tentang sebuah bangsa, yakni bagaimana perjuangan, kemenangan, dan pengorbanan ditempatkan dalam memori kolektif.
Sejarah di sini tidak sekadar menjadi catatan masa lalu. Sejarah dirawat agar sebuah bangsa memiliki kesadaran tentang dari mana mereka berasal dan bagaimana perjalanan panjang membentuk identitas mereka hari ini.
Hal ini menjadi penting dalam pendidikan kenegarawanan. Seorang pemimpin tidak pernah hadir di ruang kosong. Ia lahir dari sejarah, menerima warisan dari generasi sebelumnya, lalu memiliki tanggung jawab untuk menentukan warisan apa yang akan diberikan kepada generasi berikutnya.
Bangsa yang kehilangan ingatan akan mudah kehilangan arah. Karena itu, merawat sejarah bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan memastikan masa lalu tetap menjadi sumber pembelajaran ketika bangsa menghadapi persoalan baru.
Louvre dan Kesadaran tentang Panjangnya Peradaban
Louvre memberikan pelajaran lain. Museum tersebut mempertemukan manusia dengan karya seni dan artefak dari berbagai zaman, memperlihatkan bahwa peradaban manusia dibangun melalui perjalanan yang panjang dan kompleks.
Di dalam benda-benda bersejarah, manusia dapat melihat kembali persoalan yang sejak dahulu tidak pernah benar-benar hilang. Kekuasaan, perang, agama, kehidupan sosial, keindahan, pengetahuan, dan pencarian makna telah menjadi bagian dari kehidupan manusia jauh sebelum generasi sekarang lahir.
Karena itu, museum bukan hanya tempat menyimpan benda lama. Ia merupakan ruang untuk berdialog dengan masa lalu. Manusia dapat memahami bahwa banyak persoalan yang dianggap baru sesungguhnya memiliki akar sejarah yang panjang.
Kesadaran semacam ini penting bagi seorang negarawan. Pemimpin tidak cukup hanya memahami apa yang terjadi hari ini. Ia juga harus mampu melihat persoalan dalam perspektif waktu yang lebih panjang agar keputusan yang diambil tidak hanya menyelesaikan masalah sesaat.
Les Invalides dan Pelajaran tentang Kekuasaan
Di Les Invalides, perjalanan sejarah membawa delegasi pada sosok Napoleon Bonaparte. Figur Napoleon memberikan gambaran menarik tentang hubungan antara seorang pemimpin dan perjalanan sejarah sebuah bangsa.
Seorang pemimpin memang dapat mengubah arah sejarah. Namun pada saat yang sama, seorang pemimpin juga pada akhirnya menjadi bagian dari sejarah yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Di sinilah kekuasaan menemukan batasnya. Kekuasaan dapat memberikan pengaruh besar selama seseorang berada di dalamnya, tetapi kekuasaan tidak pernah berlangsung selamanya.
Karena itu, kepemimpinan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa besar kekuasaan yang berhasil dikuasai. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang ditinggalkan setelah kekuasaan itu berakhir dan bagaimana keputusan seorang pemimpin memengaruhi kehidupan generasi sesudahnya.
Dalam perspektif kenegarawanan, kekuasaan bukan tujuan akhir. Ia adalah amanah yang selalu memiliki konsekuensi sejarah.
Notre-Dame dan Musée de Cluny, Peradaban yang Tidak Putus
Perjalanan menuju Notre-Dame de Paris dan Musée de Cluny kembali memperlihatkan bahwa sebuah peradaban tidak dibangun dalam satu masa. Ada lapisan sejarah yang saling bertumpuk, mulai dari masa kuno, abad pertengahan, modernitas hingga kehidupan masyarakat kontemporer.
Paris menunjukkan bahwa masa lalu tidak selalu harus disingkirkan ketika sebuah bangsa ingin bergerak menuju masa depan. Justru warisan masa lalu dapat menjadi fondasi untuk membangun identitas baru dan menghadapi perubahan zaman.
Cara pandang tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Sebagai bangsa dengan sejarah dan kebudayaan yang sangat panjang, Indonesia memiliki banyak warisan yang tidak semestinya hanya dipajang sebagai peninggalan masa lalu.
Warisan sejarah harus dihidupkan kembali sebagai sumber pengetahuan. Kebudayaan harus dipahami sebagai kekuatan sosial. Sementara teknologi dan modernisasi harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan masyarakat, bukan membuat bangsa kehilangan akar identitasnya.

Dari Paris, Membaca Masa Depan Indonesia
Perjalanan Sekolah Negarawan di Paris pada akhirnya bukan sekadar perjalanan mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Setiap lokasi menjadi pintu untuk membaca bagaimana sebuah bangsa membangun hubungan dengan masa lalunya sekaligus menyiapkan diri menghadapi masa depan.
Dari Eiffel, ada pelajaran tentang keberanian mengubah teknologi menjadi identitas. Dari Arc de Triomphe, ada pesan tentang pentingnya menjaga memori kolektif. Louvre mengajarkan kesadaran tentang panjangnya perjalanan manusia, sementara Les Invalides mengingatkan bahwa kekuasaan selalu memiliki batas dan konsekuensi sejarah.
Sementara Notre-Dame dan Musée de Cluny menunjukkan bahwa modernitas tidak harus berarti memutus hubungan dengan masa lalu. Sebuah bangsa justru dapat tumbuh lebih kuat ketika mampu membawa warisan sejarahnya untuk menjawab persoalan zaman.
Inilah makna perjalanan bagi pendidikan kenegarawanan. Seorang negarawan tidak cukup hanya mengetahui bagaimana sebuah negara bekerja. Ia harus mampu membaca bagaimana sebuah peradaban terbentuk, bagaimana masyarakat menjaga ingatannya, bagaimana teknologi membentuk masa depan, dan bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan untuk kepentingan manusia.
Paris akhirnya menjadi semacam buku terbuka. Bukan karena kota itu sempurna, tetapi karena sejarah yang hidup di dalamnya memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk belajar bahwa sebuah bangsa dibangun bukan hanya dengan gedung dan teknologi, melainkan juga dengan ingatan, gagasan, kebudayaan, dan kepemimpinan yang mampu menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Bagi Indonesia, pelajarannya sederhana tetapi mendasar: kemajuan tidak harus membuat bangsa melupakan sejarahnya. Justru bangsa yang mampu membaca masa lalunya dengan jernih akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menentukan arah masa depannya.