Jembatan Tabiat dan Pelajaran dari Arsitek Muda Iran: Catatan Ekspedisi Sekolah Negarawan di Teheran

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id — Sebuah bangsa tidak selalu dapat dipahami hanya dari narasi tentang konflik, politik, dan geopolitik. Ada wajah lain yang baru terlihat ketika seseorang datang langsung, berjalan di ruang publiknya, mengamati kehidupan masyarakatnya, serta melihat bagaimana sebuah kota dibangun. Pengalaman itulah yang ditemukan Sekolah Negarawan ketika melakukan kunjungan riset ke Jembatan Tabiat atau Pol-e Tabiat di Teheran, Iran.

Bagi tim ekspedisi Sekolah Negarawan, Jembatan Tabiat bukan sekadar bangunan yang menghubungkan dua kawasan. Jembatan tersebut menjadi contoh bagaimana arsitektur modern dapat dipadukan dengan ruang terbuka, lingkungan, serta kebutuhan masyarakat untuk memiliki ruang interaksi. Kunjungan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Sekolah Negarawan mempelajari berbagai praktik tata kota dan kehidupan masyarakat di sejumlah negara.

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan mengamati secara langsung struktur jembatan yang membentang di atas Jalan Raya Shahid Modares. Dari tempat tersebut, perhatian mereka kemudian mengarah kepada sosok arsitek yang berada di balik rancangan Jembatan Tabiat, Leila Araghian.

Leila Araghian dan Keberanian Memberi Ruang bagi Anak Muda

Leila Araghian merupakan arsitek perempuan kelahiran Teheran yang memenangkan kompetisi desain Jembatan Tabiat pada 2009 ketika berusia 26 tahun. Bersama Alireza Behzadi melalui Diba Tensile Architecture, rancangan tersebut kemudian diwujudkan menjadi jembatan yang dibuka untuk publik pada 2014.

Perjalanan karya tersebut tidak berhenti pada pembangunannya. Pada 2016, Jembatan Tabiat memperoleh Aga Khan Award for Architecture, sebuah penghargaan yang semakin memperkenalkan karya arsitektur tersebut ke dunia internasional.

Kisah Leila menarik perhatian Sekolah Negarawan karena di balik sebuah karya infrastruktur terdapat persoalan yang lebih luas tentang bagaimana sebuah masyarakat memberikan ruang kepada generasi mudanya. Usia muda tidak menjadi alasan untuk menutup kesempatan bagi seseorang yang memiliki gagasan dan kemampuan.

Dari sini, Jembatan Tabiat dapat dibaca bukan hanya sebagai karya arsitektur, tetapi juga sebagai gambaran tentang pentingnya kepercayaan terhadap manusia. Sebuah kota membutuhkan infrastruktur, tetapi pembangunan juga membutuhkan keberanian untuk memberi kesempatan kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kreativitas.

Prayogi R. Saputra melihat pengalaman tersebut sebagai salah satu alasan mengapa sebuah bangsa perlu dipelajari secara langsung. Menurutnya, pengalaman lapangan memungkinkan seseorang melihat kehidupan sebuah masyarakat secara lebih utuh, tidak hanya melalui informasi yang datang dari pihak ketiga.

Jembatan yang Tidak Sekadar Menghubungkan Dua Tempat

Secara arsitektural, Jembatan Tabiat memiliki struktur yang kompleks namun tetap memberikan kesan organik. Jembatan sepanjang sekitar 270 meter tersebut ditopang oleh tiga tiang besar yang bentuknya menyerupai pohon. Ketiga tiang itu menopang rangka ruang atau space frame yang tersusun dari baja tubular.

Struktur tersebut membentuk ruang dan jalur melengkung dalam tiga lantai. Jembatan menghubungkan Taman Taleghani dengan Taman Abo-Atash dan sekaligus menyediakan ruang yang memungkinkan masyarakat menikmati lingkungan di sekitarnya.

Keunikan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah infrastruktur tidak harus hadir sebagai bangunan yang terpisah dari kehidupan manusia. Ia dapat menjadi bagian dari ruang sosial. Orang datang bukan hanya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga untuk berjalan, berhenti, menikmati pemandangan, dan berinteraksi.

Dalam konteks inilah Jembatan Tabiat menjadi menarik bagi kajian Sekolah Negarawan. Pembangunan kota tidak hanya berkaitan dengan beton, baja, jalan, dan bangunan. Di dalamnya terdapat cara pandang tentang manusia. Ketika ruang publik dirancang dengan baik, kota memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengalami kehidupan bersama secara lebih manusiawi.

Belajar dari Tradisi Persia

Rinto Setiyawan menjelaskan bahwa rancangan Leila Araghian tidak berdiri tanpa akar sejarah. Jembatan Tabiat mengambil inspirasi filosofis dari tradisi jembatan Persia, termasuk Jembatan Khaju dan Si-o-se-pol di Isfahan yang berasal dari masa Safawiyah.

Dalam tradisi arsitektur Persia, jembatan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar sarana penyeberangan. Jembatan dapat menjadi ruang sosial tempat masyarakat bertemu, berbincang, menikmati lingkungan, dan menjalani kehidupan bersama.

Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk arsitektur modern. Di sinilah menariknya perjalanan sebuah peradaban. Masa lalu tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama. Nilai yang hidup di masa lalu dapat diterjemahkan kembali menggunakan teknologi dan bahasa zaman baru.

Jembatan Tabiat memperlihatkan pertemuan antara tradisi dan inovasi. Struktur modernnya berbicara tentang kemampuan rekayasa masa kini, sementara gagasan tentang jembatan sebagai ruang kehidupan mengingatkan pada warisan kebudayaan Persia.

Ketika Teknologi Kembali kepada Manusia

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman di Jembatan Tabiat juga membawa pembahasan pada pertanyaan yang lebih mendasar. Untuk apa teknologi dan pembangunan dikembangkan?

Kemajuan teknologi memiliki arti yang lebih besar ketika hasilnya kembali kepada kehidupan manusia. Infrastruktur tidak hanya dinilai dari kemampuan teknisnya, tetapi juga dari bagaimana ia digunakan dan dirasakan oleh masyarakat.

Pendekatan semacam ini selaras dengan perhatian Sekolah Negarawan terhadap hubungan antara pembangunan, negara, dan manusia. Cak Dil dan Erick Karya melihat bahwa gagasan mengenai ruang publik yang memperhatikan manusia memiliki keterkaitan dengan kajian Sekolah Negarawan yang menjadikan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun sebagai salah satu pijakan utama.

Dalam perspektif tersebut, pembangunan tidak cukup berhenti pada pencapaian fisik. Kemajuan harus memiliki hubungan dengan kesejahteraan sosial dan kualitas kehidupan masyarakat. Jalan, jembatan, gedung, dan teknologi pada akhirnya merupakan sarana. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana semua itu digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Jembatan Tabiat memberikan gambaran sederhana mengenai hal tersebut. Sebuah konstruksi yang lahir dari perhitungan teknik dapat sekaligus menjadi tempat manusia bertemu dengan alam dan sesamanya.

Dari Teheran Membaca Dunia, Lalu Kembali ke Indonesia

Kunjungan ke Jembatan Tabiat merupakan bagian dari perjalanan panjang Sekolah Negarawan dalam melakukan ekspedisi dan penelitian lintas negara. Selama dua tahun, perjalanan tersebut telah menjangkau 12 negara dalam misi napak tilas jejak pemikiran Cak Nun, mulai dari Perancis, Belgia, Belanda, dan Jerman di Eropa Barat, Finlandia di kawasan Nordik, Estonia di kawasan eks-Uni Soviet, Turkiye, negara-negara Teluk, Iran sebagai kawasan Persia, hingga Asia Tenggara.

Setiap negara memberikan pengalaman yang berbeda. Ada yang menghadirkan pelajaran tentang tata kota, ada yang membuka perspektif tentang kebudayaan, sementara tempat lainnya memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun hubungan antara negara, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan sehari-hari.

Namun, perjalanan tersebut tidak berhenti sebagai catatan di luar negeri. Berbagai pengalaman dan temuan dari ekspedisi lintas benua kemudian dibawa kembali ke Indonesia untuk menjadi bahan pembelajaran dan diskusi. Penyebarluasan gagasan itu menjangkau berbagai daerah, dari Medan di Sumatera Utara hingga Ternate dan Tidore di Maluku Utara.

Jembatan Tabiat pada akhirnya menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan tersebut. Dari sebuah jembatan di Teheran, Sekolah Negarawan menemukan cerita tentang seorang arsitek perempuan muda, tradisi Persia yang diterjemahkan dalam bentuk modern, serta sebuah ruang publik yang mempertemukan teknologi dengan kehidupan manusia.

Perjalanan seperti ini mengajarkan bahwa memahami sebuah bangsa membutuhkan keberanian untuk melihatnya dari berbagai sisi. Sebuah negara tidak hanya terdiri dari narasi politiknya. Ia juga hadir melalui karya anak mudanya, ruang publiknya, kebudayaannya, arsitekturnya, dan cara masyarakatnya menjalani kehidupan. Dari Teheran, catatan itu kemudian dibawa pulang untuk kembali dibaca dalam konteks Indonesia.

Share This Article