Keadilan Politik Islam: Mengapa Keadilan adalah Jantung Kekuasaan

muslimX
By muslimX
5 Min Read

muslimx.idDalam pandangan Islam, politik bukan sekadar seni mengelola kekuasaan, tetapi sarana menegakkan keadilan. Karena itu, keadilan politik Islam bukan konsep tambahan, melainkan inti dari seluruh praktik kekuasaan. Tanpa keadilan, kekuasaan berubah menjadi alat dominasi. Dengan keadilan, politik menjadi jalan pengabdian.

Banyak krisis pemerintahan modern bukan lahir dari kurangnya aturan, tetapi dari hilangnya ruh keadilan. Prosedur berjalan, lembaga lengkap, pemilu terlaksana namun rasa keadilan publik tetap kosong. Islam sejak awal menempatkan keadilan sebagai poros utama tata sosial dan tata kuasa.

Perintah Adil Lebih Dekat kepada Takwa

Al-Qur’an menegaskan keadilan bukan sekadar nilai sosial, tetapi perintah iman. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah… Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan bukan pilihan moral sekunder, tetapi indikator ketakwaan. Semakin adil seseorang dalam memutuskan dan bertindak, semakin dekat ia kepada nilai takwa bahkan ketika keadilan itu merugikan kepentingannya sendiri atau kelompoknya.

Dalam kerangka keadilan politik Islam, kekuasaan diuji bukan dari seberapa kuat ia mengontrol, tetapi seberapa adil ia memperlakukan.

Kekuasaan Tanpa Keadilan Melahirkan Kerusakan

Islam memandang kezaliman sebagai sumber kerusakan sosial. Kezaliman bukan hanya tindakan kriminal terbuka, tetapi juga kebijakan yang tidak adil, diskriminasi hukum, dan penyalahgunaan kewenangan.

Secara formal, sebuah keputusan bisa sah. Namun dalam perspektif keadilan politik Islam, sah saja tidak cukup, ia harus adil. Legalitas tanpa keadilan berpotensi menjadi kezaliman yang dilembagakan.

Sejarah menunjukkan banyak rezim runtuh bukan karena lemah kekuasaan, tetapi karena hilang legitimasi moral akibat ketidakadilan. Ketika rakyat merasa diperlakukan tidak adil, stabilitas menjadi rapuh walau aturan tampak kokoh.

Politik sebagai Amanah, Bukan Hak Milik

Dalam Islam, jabatan kekuasaan adalah amanah, bukan hak milik. Amanah selalu mengandung pertanggungjawaban bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat ia menjadi penyesalan dan kehinaan, kecuali bagi yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini memperlihatkan bahwa kekuasaan bukan fasilitas kehormatan, melainkan beban moral. Dalam keadilan politik Islam, pemimpin tidak dinilai dari retorika, tetapi dari keberpihakannya pada keadilan terutama kepada yang lemah dan tidak punya akses kekuasaan.

Semakin besar kekuasaan, semakin besar tuntutan keadilannya.

Keadilan untuk Kawan dan Lawan

Salah satu ciri paling tegas dari keadilan politik Islam adalah non-selektif. Keadilan tidak boleh berubah karena kedekatan. Tidak boleh lunak kepada kawan dan keras kepada lawan. Standarnya satu.

Al-Qur’an memperingatkan agar kebencian kepada suatu kelompok tidak menjadi alasan ketidakadilan. Ini berarti bahkan kepada pihak yang tidak disukai sekalipun, hak keadilan tetap wajib diberikan.

Di sinilah keadilan menjadi ujian moral tertinggi dalam pemerintahan, adil saat tidak menguntungkan.

Partai X: Keadilan adalah Sumber Legitimasi Kekuasaan

Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa krisis terbesar pemerintahan modern adalah pemisahan antara kekuasaan dan keadilan. Menurutnya, banyak sistem sibuk mengejar stabilitas, tetapi mengabaikan fondasi moralnya.

“Dalam keadilan politik Islam, kekuasaan itu tidak berdiri di atas prosedur saja, tapi di atas keadilan nyata. Tanpa keadilan, kekuasaan kehilangan legitimasi moralnya,” ujarnya.

Prayogi menegaskan bahwa kekuasaan yang sehat harus diukur dari dampaknya terhadap keadilan sosial, bukan hanya keberhasilan administratif.

“Kalau kebijakan rapi tapi tidak adil, itu bukan keberhasilan itu penundaan krisis. Islam menempatkan keadilan sebagai jantung, bukan aksesoris kekuasaan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberpihakan kepada keadilan sering tidak populer, tetapi justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji.

Penutup: Keadilan sebagai Ruh, Bukan Slogan

Keadilan politik Islam menempatkan keadilan sebagai ruh kekuasaan, bukan hiasan pidato. Ia menuntut keberanian moral, konsistensi nilai, dan tanggung jawab sosial. Kekuasaan tanpa keadilan akan melahirkan ketertiban semu. Politik dengan keadilan melahirkan kepercayaan dan keberkahan.

Dalam Islam, kekuasaan yang adil bukan hanya berhasil secara dunia tetapi juga selamat secara hisab.

Share This Article