Membaca Sejarah dari Tata Kota Brussel: Pelajaran Sekolah Negarawan dari Grand-Place dan Royal Palace

muslimX
By muslimX
8 Min Read

BRUSSEL, BELGIA — Sebuah kota tidak hanya bercerita melalui gedung-gedung pencakar langit atau jalan raya yang tertata. Ia juga menyimpan ingatan melalui alun-alun, istana, taman, bangunan bersejarah, dan ruang publik yang terus digunakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Brussel, cerita tentang bagaimana sebuah bangsa membangun kehidupan bersama dapat dibaca melalui dua ruang yang memiliki karakter berbeda, Grand-Place dan Royal Palace of Brussels.

Pada September 2025, kedua tempat tersebut menjadi bagian dari perjalanan belajar delegasi Sekolah Negarawan. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya, serta Head of Representative Chapter Eropa Imam Syafiih Kamil menyusuri kawasan tersebut bukan sekadar untuk melihat keindahan arsitektur. Mereka mencoba membaca bagaimana sejarah, masyarakat, institusi, dan ruang kota saling berhubungan dalam membentuk wajah sebuah negara.

Grand-Place dan Cerita tentang Masyarakat

Grand-Place merupakan salah satu ruang paling ikonik di Brussel. Bangunan-bangunan bersejarah yang mengelilinginya menyimpan jejak aktivitas perdagangan dan berbagai perkumpulan profesi yang pernah memainkan peran penting dalam kehidupan kota. Guildhalls yang berdiri di sekitarnya menjadi pengingat bahwa sejarah perkotaan juga dibangun oleh masyarakat yang bekerja, berdagang, dan mengorganisasi kehidupannya.

Dari ruang tersebut, Sekolah Negarawan melihat sebuah pelajaran penting tentang masyarakat sipil. Sebuah kota tidak akan memiliki kehidupan hanya karena pemerintah membangun infrastrukturnya. Di balik perkembangan kota selalu ada masyarakat yang menghidupkan pasar, menjalankan usaha, menciptakan kebudayaan, serta membangun jaringan sosial yang membuat ruang publik benar-benar berfungsi.

Prayogi R. Saputra melihat pengalaman tersebut sebagai pengingat bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya berada di pusat pemerintahan. Masyarakat yang memiliki kemampuan untuk bekerja sama dan membangun kehidupan ekonominya sendiri merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah negara. Karena itu, membangun bangsa juga berarti menciptakan ruang agar masyarakat dapat tumbuh dan mengambil peran dalam kehidupan bersama.

Royal Palace dan Simbol Keberlanjutan Negara

Dari Grand-Place, perhatian kemudian bergeser menuju Royal Palace of Brussels. Bangunan tersebut menghadirkan wajah yang berbeda. Jika Grand-Place memperlihatkan denyut kehidupan masyarakat, Royal Palace menunjukkan sisi institusional negara dan simbol keberlanjutan monarki konstitusional Belgia.

Kawasan di sekitar istana juga memperlihatkan hubungan menarik antara berbagai elemen kehidupan kenegaraan. Royal Palace berada di kawasan yang berdekatan dengan Brussels Park dan lingkungan institusi politik Belgia. Dalam satu ruang kota, terdapat simbol kepala negara, ruang publik, dan institusi demokrasi yang membentuk lanskap politik sekaligus historis.

Bagi Sekolah Negarawan, susunan tersebut menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai persoalan arsitektur. Tata ruang dapat memperlihatkan bagaimana sebuah negara menempatkan simbol, institusi, dan masyarakat dalam satu lingkungan. Ruang kota akhirnya bukan sekadar tempat manusia bergerak, tetapi juga dapat menjadi bagian dari cara sebuah bangsa menyampaikan cerita tentang dirinya.

Rinto Setiyawan melihat pengalaman tersebut sebagai bahan refleksi mengenai pentingnya institusi dalam kehidupan negara. Kekuasaan tidak hanya membutuhkan kewenangan, tetapi juga membutuhkan tata kelola yang membuat berbagai unsur negara dapat berjalan dalam hubungan yang teratur. Dari tata ruang Brussel, terlihat bahwa sejarah politik dan kehidupan modern dapat terus berdampingan tanpa harus menghapus jejak masa lalu.

Ketika Kota Menjaga Ingatannya

Salah satu hal yang menarik dari perjalanan tersebut adalah bagaimana bangunan bersejarah tetap menjadi bagian dari kehidupan kota modern. Grand-Place tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, sementara Royal Palace juga tetap menjadi bagian dari lanskap kenegaraan Belgia. Sejarah tidak dipisahkan dari kehidupan kota, tetapi justru ditempatkan sebagai bagian dari identitas yang terus hadir.

Di sinilah persoalan pelestarian menjadi penting. Modernisasi kota tidak selalu harus berarti mengganti semua yang lama dengan sesuatu yang baru. Teknologi dan pembangunan dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan kota, sementara bangunan dan ruang bersejarah tetap dipertahankan sebagai bagian dari memori masyarakat.

Erick Karya melihat hal tersebut dari perspektif pembangunan dan teknologi. Menurutnya, tantangan kota modern bukan hanya bagaimana membangun fasilitas baru, tetapi juga bagaimana memastikan perkembangan tersebut tidak menghilangkan karakter kawasan yang telah terbentuk selama berabad-abad. Teknologi pada akhirnya dapat menjadi alat pendukung agar sebuah kota mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Indonesia dan Tantangan Merawat Kota

Pelajaran dari Brussel kemudian membawa pertanyaan kembali ke Indonesia. Negeri ini memiliki kekayaan sejarah yang sangat luas, mulai dari kota-kota lama, kawasan kerajaan, bangunan kolonial, pasar tradisional, kampung, hingga berbagai ruang publik yang menjadi bagian dari ingatan masyarakat. Namun, perkembangan kota sering kali menghadapkan warisan tersebut pada tekanan pembangunan dan perubahan fungsi ruang.

Karena itu, pembangunan kota di Indonesia membutuhkan cara pandang yang lebih panjang. Kota tidak cukup hanya dinilai dari seberapa cepat jalan dibangun, gedung berdiri, atau teknologi diterapkan. Ada pertanyaan yang juga perlu dijawab, yaitu apakah pembangunan tersebut masih memberikan ruang bagi sejarah, kebudayaan, interaksi masyarakat, dan karakter lokal untuk tetap hidup.

Pertanyaan ini semakin relevan ketika Indonesia membangun pusat-pusat kota baru, termasuk Ibu Kota Nusantara. Kota masa depan tentu membutuhkan teknologi, infrastruktur, dan sistem pelayanan yang modern. Namun, kemajuan tersebut akan memiliki makna yang lebih kuat apabila manusia, lingkungan, kebudayaan, serta identitas bangsa tetap menjadi bagian dari rancangan kota.

Tata Kota sebagai Pelajaran Kepemimpinan

Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan ke Grand-Place dan Royal Palace menunjukkan bahwa belajar kepemimpinan dapat dilakukan dengan membaca sebuah kota. Dari alun-alun, calon pemimpin dapat melihat bagaimana masyarakat membangun kehidupan bersama. Dari istana dan kawasan institusi negara, mereka dapat memahami pentingnya keberlanjutan lembaga. Sementara dari bangunan-bangunan bersejarah, mereka belajar bahwa sebuah bangsa memiliki ingatan yang perlu dirawat.

Seorang pemimpin dengan pandangan panjang tidak hanya bertanya tentang apa yang harus dibangun hari ini. Ia juga perlu memikirkan apa yang akan tersisa ketika pembangunan tersebut telah selesai. Apakah generasi berikutnya masih dapat mengenali sejarah kotanya, memahami dari mana masyarakatnya berasal, dan menemukan ruang untuk membangun kehidupan mereka sendiri?

Brussel memberikan sebuah pelajaran bahwa kota dapat menjadi buku sejarah yang terus terbuka. Grand-Place berbicara tentang masyarakat, Royal Palace berbicara tentang institusi, sementara ruang-ruang di antara keduanya memperlihatkan bagaimana kehidupan modern terus bergerak di atas lapisan sejarah.

Dari perjalanan tersebut, Sekolah Negarawan membawa pulang satu kesadaran penting: membangun Indonesia bukan hanya perkara menciptakan kota yang modern, tetapi juga memastikan kota tersebut memiliki jiwa. Sebab ketika sebuah kota mampu menjaga sejarah, memberi ruang bagi rakyat, menghormati institusi, dan terbuka terhadap masa depan, pembangunan tidak hanya menghasilkan tempat untuk tinggal, tetapi juga menciptakan warisan yang dapat dikenang oleh generasi berikutnya.

Share This Article